Merespons Cepat Deklarasi KTT G20

Red
- Rabu, 25 November 2020 | 00:27 WIB

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 telah berakhir Minggu (22/11) dengan seruan Deklarasi Riyadh. Deklarasi selalu menjadi ritual puncak menandai akhir KTT yang dihadiri para pemimpin negara-negara G20. Dalam situasi khusus akibat cengkeraman pandemi Covid-19, Deklarasi Riyadh sudah seharusnya menjadi deklarasi yang khusus pula, dan selayaknya direspons secara khusus serta cepat.

Para pemimpin G20, dalam pertemuan virtual yang dipimpin Arab Saudi, menyatakan bahwa mereka berkomitmen untuk membantu negara-negara berkembang yang saat ini masih berjuang keras menghadapi pandemi Covid-19. Setelah hampir 10 bulan Covid-19 menyerang, pandemi bahkan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Di beberapa negara dan wilayah, masih terjadi peningkatan kasus. Deklarasi Riyadh menyatakan, aktivitas ekonomi global sebagian telah meningkat, tetapi pemulihan itu tidak merata, ketidakpastian masih tinggi dan risiko penurunan ekonomi masih sangat tinggi.

Berdasarkan hal itu, para pemimpin bertekad untuk melanjutkan penggunaan perangkat kebijakan yang tersedia untuk mendukung pemulihan ekonomi global.

Hal ini jelas bukan orasi semata. Secara teknis misalnya, para pemimpin sepakat untuk memperpanjang penundaan pembayaran utang selama enam bulan bagi negara-negara berpendapatan rendah. Penundaan itu akan diperpanjang dari akhir tahun ini hingga Juni 2021. Kesepakatan langkahlangkah di tingkat teknis adalah respons cepat yang sangat diharapkan setelah seruan deklarasi itu.

Pandemi menuntut respons yang tidak biasa. Kami para pemimpin negaranegara G20, bertemu untuk kedua kalinya di bawah kepemimpinan Saudi, bersatu dalam keyakinan kami aksi global yang terkoordinasi. Solidaritas, dan kerja sama multilateral lebih diperlukan untuk mengatasi segala tantangan dan mewujudkan peluang di abad ke- 21 untuk memberdayakan manusia, menjaga planet, dan membentuk batas baru,” demikian deklarasi itu.

Respons cepat, strategis, sekaligus taktis dibutuhkan agar Deklarasi Riyadh tidak lenyap tenggelam dalam seremoni tahunan. Dibutuhkan dorongan dari pihak- pihak nonpemerintah, terutama organisasi nonpemerintah, kelompok riset, serta berbagai think tank group untuk menerjemahkan isi deklarasi ke dalam rencana aksi. Dengan keterlibatan itu, dunia pasti cepat sembuh dari pandemi.

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Fintech Syariah, Sang Primadona Transformasi Digital

Rabu, 23 November 2022 | 11:32 WIB

Ancaman Senyap Asap Rokok

Selasa, 22 November 2022 | 19:19 WIB

PMA 68 dan Dinamika Akademik di Kampus

Kamis, 17 November 2022 | 16:57 WIB

Kepemimpinan Berorientasi Pengetahuan

Rabu, 16 November 2022 | 11:12 WIB

Memperkuat Jaringan Koperasi Syariah

Selasa, 15 November 2022 | 11:32 WIB

Utang atau Cetak Uang Baru?

Senin, 14 November 2022 | 11:12 WIB

Kepemimpinan dalam Organisasi Pembelajar

Sabtu, 12 November 2022 | 11:12 WIB

Mewaspadai Budaya Gila Kerja

Jumat, 11 November 2022 | 11:15 WIB

Sustainability dalam Bisnis Perusahaan

Kamis, 10 November 2022 | 11:12 WIB

Pungli dalam Pengurusan Warisan

Minggu, 30 Oktober 2022 | 12:04 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Minggu, 23 Oktober 2022 | 21:00 WIB

Peci untuk Cakades

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 21:55 WIB

Mencari Pemimpin Profetik

Senin, 10 Oktober 2022 | 12:03 WIB

Tragedi Oktober di Kanjuruhan

Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:02 WIB

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 09:16 WIB

Mari Dukung Partisipasi Taiwan di ICAO

Jumat, 30 September 2022 | 21:47 WIB
X