Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

- Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB
Multazam Ahmad, (Alumni Pesantren APIKA Muhammadun Kajen Pati dan Sekretaris MUI Jawa Tengah)
Multazam Ahmad, (Alumni Pesantren APIKA Muhammadun Kajen Pati dan Sekretaris MUI Jawa Tengah)

 

suaramerdeka.com - Menurut rencana Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 22 Okober 2021 akan menghadiri Hari Santri Nsional (HSN) ke ke 7 di Jakarta secara virtual. Tema yang diusung adalah “Santri Siaga Jiwa dan Raga”.

Menurut Menteri Agama Yaqut Kholil Qoumas, tema ini untuk peneguhan semangat pesantren untuk kemandirian agar sikap santri tetap siaga menyerahkan jiwa dan dan raga untuk membela tanah air,mempertahankan persatuan Indonesia dan mewujudkan perdamaian dunia.

Ada tiga kemandirian dalam prayaan yang diusung di Hari Santri Nasional (HSN).

Pertama , mandir dalam tradisi, yakni tradisi keilmuan dan budaya pesantren yang harus dijaga dan tidak boleh luntur termakan zaman. Dalam catatan sejarah mengingatkn pula berdirinya sebuah pondok pesantren yang saat ini mencapai lebih dari 27.722 pondok pesantren di Indonesia (Kementerian Agama 2013). Pimpinan pondok pesantren atau kiyai memilki tugas sangat strategis.

Di samping jumlah santri yang sangat banyak, mereka dituntut menjdi agen-agen pembangunan dan pembaharuan di bergagai bidang kehidupan, seperti bidang pendidikan, mencetak kader ulama, ekonomi dan juga agen-agen yang lain.

Kiyai dan santri memiliki tugas pokok untuk memahami agama secara mendalam dan benar untuk menjawab persoalan-persoalan keumatan. Artinya santri dan masyarakat adalah dual hal yang tidak boleh terpisahkan

Spirit ini sebagaimana di jelaskan : “ Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”(QS.At taubah 122).

Kedua, secara politik santri atau pondok pesantren untuk tidak tergoda menjadi obyek politisasi lima tahunan. terlebih dalam saat pileg maupun pilpres sudah terlihat kasak-kusuk dengan kemasan silaturahmi di pesantren.Tempo dulu Kita bisa mencontoh kemandirian dan loyalitas santri terhadap bangsa Indonesia yang tidak pernah lekang walaupun dalam kondisi darurat .Sering kita saksikan, ketika kaum muslimin Indonesia menghadapi delima sebuah kepentingan agama dan dan kebangsaan ,para kiyai dan santri mampu mengambil sikap yang tegas untuk kemaslahatan umat.

 Dalam saat pademi misalnya,kaum santri tetap menjadi pelopor memberi bimbingan pada masyarakat untuk membantu program pemerintah mesukseskan vaksinasi. Lebih jauh lagi kita bisa mengenang sebagai langkah konkrit sikap tegas para kiyai setelah beberapa bulan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB
X