Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

- Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB
Choeroni, Dosen Fakultas Agama Islam UNISSULA Semarang dan pengurus MUI Jawa Tengah. (suaramerdeka.com/dok)
Choeroni, Dosen Fakultas Agama Islam UNISSULA Semarang dan pengurus MUI Jawa Tengah. (suaramerdeka.com/dok)

suaramerdeka.com - Sudah hampir dua tahun, wabah Covid-19 belum juga ada tanda-tanda selesai, sehingga kehidupan bisa normal seperti sedia kala.

Walaupun demikian sebagai umat Islam, haruslah menyadari bahwa dibalik musibah, kejadian, wabah, dan sebagainya pasti hikmah yang bisa diambil bagi mereka yang mau berfikir, merenung, dan bertafakkur, karena setiap kejadian pasti atas izin dan kehendak Allah Swt.  begitu juga dengan musibah pandemi ini.

Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Al-Baqarah ayat 269, “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Allah memberikan anugerah akal kepada manusia agar berfikir dan mengambil hikmah terhadap setiap apa yang terjadi baik yang kelihatan ataupun yang tersembunyi.

Kita sudah mengetahui bersama, bahwa saat wabah corona ini terjadi dunia pesantren sangat berduka dengan meninggalnya ratusan kyai dan bu nyai yang dipanggil oleh Allah Swt disebabkan wabah ini, bahkan mereka yang sakit karena wabah ini juga sangat banyak sehingga tidak sampai bisa menghitungnya, begitu juga bagi kehidupan santri di pondok pesantren.

Sebagai kaum yang faham arti hakikat bahwa adanya wabah corona ini pasti ada hikmah bagi mereka, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.

Dunia pesantren tetap mengembalikan semua itu adalah kehendak dari Allah Swt supaya kita senantiasa bertaqarrub, mendekatkan diri kepadaNya.

Walaupun demikian, ada beberapa hikmah yang bisa diambil secara zahir ataupun batin begi kehidupan santri di pesantren.

Diantara hikmah yang zahir adalah pertama, adanya perhatian dari pemerintah terhadap kesehatan santri di pesantren bahkan sampai mengucurkan bantuan dana yang tidak sedikit.

Situs bisnis.com menyebutkan bantuan yang dikucurkan pemerintah kepada pesantren di seluruh Indonesia dalam penanganan pandemi mencapai 3 trilyun rupiah, bantuan tersebut berupa sanitasi hingga air bersih. Tujuannya adalah santri nyaman dalam belajar di pesantren.

Dengan adanya wabah ini, santri semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan di pesantren, dimana selama ini mungkin belum semua pesantren dan santri di pesantren sadar atas hal tersebut. Karena bagi sebagian mereka adanya perasan acuh terhadap hal tersebut.

Hikmah dari wabah ini membuat sadar bagi semua pesantren dan santri akan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan di pesantren. Apalagi adanya stimulant dari pemerintah akan adanya sarana pendukung untuk mewujudkannya.

Seperti yang dilihat di berbagai pesantren yang dulunya tidak ada alat cuci tangan di setiap pintu masuk atau tempat-tempat tertentu dengan adanya wabah ini, para kyai dan pengurus pesantren menyediakannya untuk santri, juga para tamu yang berkunjung ke pesantren.

Adanya wabah pandemi ini, para tim kesehatan juga menjadi sangat peduli dengan pesaantren dengan mengecek kesehatan santri secara temporer, mengecek sarana kesehatan di pesantren serta memberikan penyuluhan akan pentingnya implementasi perilaku hidup bersih dan sehat dilingkungan pesantren.

Memang secara teori fikih santri dipastikan mengetahui dalam hal ini, akan tetapi dalam implementasinya sebagian mereka kadang merasa acuh dengan hal ini. Namun setelah adanya pandemi ini mereka menjadi sadar akan pola hidup tersebut.

Pembelajaran  di pesantren pun terdampak wabah ini, bahkan hampir semua pesantren di awal wabah ini mereka dipulangkan ke rumah masing-masing karena terbukti adanya klaster covid-19 di pesantren, seperti Al Fatah Temboro di Magetan, Gontor di Ponorogo, Sempon di Wonogiri, serta pesantren di Kota Tangerang dan Pandeglang Provinsi Banten (regional.kompas.com, 11 Juli 2020) dan beberapa pesantren lain yang tidak terexpos media.

Walaupun dalam perjalan berikutnya, pesantren juga sekolah, madrasah di lingkungan pesantren yang lebih dahulu mengawali pembelajaran secara tatap muka, tentunya dengan mematuhi protocol Kesehatan.

Dengan dipulangkannya para santri ke rumah masing-masing, membuat para pengasuh dan pengurus pesantren berfikir bagaimana pembelajaran para santri tetap berjalan walaupun berada di rumah.

Maka mereka ikut menggunakan teknologi dalam pembelajarannya sebagaimana yang diterapkan di sekolah non pesantren. Mereka membuat jadwal dan konten sedemikian rupa guna memberikan edukasi kepada santri agar bisa mengikuti pemebelajaran secara online. Walaupun dengan serba keterbatasan alat teknologi yang dimiliki pesantren pembelajaran tetap dilakukan.

Hal ini membuat dunia pesantren, yang dari awal karena keterpaksaan akhirnya mereka mampu mangikuti pembelajaran dengan menggunakan teknologi tersebut.

Karena keseharian pembelajaran di pesantren menggunakan pembelajaran tatap muka, bahkan kebanyakan pesantren melarang santrinya membawa HP di pesantren dengan tujuan agar pembelajaran tidak terganggu, dan para santri bisa fokus mengikuti pembelajaran di pesantren.

Mungkin di dunia pesantren baru mengenal pembelajaran menggunakan google meet, zoom, google form, dan sebagainya hanya saat terjadinya pandemi tersebut.

Dalam beberapa bulan, para santri mengikuti pembelajaran menggunakan teknologi tersebut, seperti yang terjadi di pondok pesanren penghafal Al-Qur’an. Di pondok ini berbeda dengan pesantren yang lain.

Di pesantren model ini, setiap santri harus dipantau setiap saat atas perkembangan hafalan ataupun menjaga hafalan yang sudah di dapat. maka jam pembelajaran di rumah pun sama dengan pembelajaran ketika di pesantren, hanya mungkin kuantitasnya sedikit dikurangi.

Mereka tetap ada jam muraja’ah atau mengulang hafalan, jam ziyadah atau menmbah hafalan yang dipandu oleh para ustadz di pondok masing-masing melalui media online tersebut, minimal menggunakan media yang paling umum yaitu Whatshap atau WA.

Tentunya pembelajaran ini, sebagaimana pembelajaran sekolah  di luar pesantren harus dipandu oleh orang tua atau wali santri masing-masing.

Memang pembelajaran secara online tidak bisa semaksimal pembelajaran tatap muka, dimana secara pengetahuan memang bisa terlaksana baik akan tetapi pembelajaran akhlak yang menjadi ciri khas pesantren menjadi kurang tertata dan terlaksana dengan baik.

Untuk itulah pesantren adalah lembaga yang memberanikan diri untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka sebelum lembaga lain, seperti sekolah dan madrasah ataupun institusi lain belum berani melakukannya.

Alhamdulillah, berkat rahmat Allah Swt, kondisi pesantren dengan hikmah pandemi ini menjadi lebih baik, dari segi pembelajaran mampu menggunakan pembelajaran berbasis teknologi yang sebelumnya merupakan hal yang tabu dan sangat dihindari.

Dari segi kesehatan para santri menjadi lebih sadar akan pentingnya kesehatan mereka. Dari segi kebersihan, mereka mengikuti saran dari para ahli kesehatan akan pentingnya implementasi kebersihan dalam keseharian, baik kesehatan  diri ataupun lingkungan demi terjaganya kesehatan, baik kesehatan diri sendiri ataupun  kesehatan orang lain.

Dengan adanya banyak para kyai dan bu nyai yang meninggal dunia, menjadikan para santri semakin menjaga dan waspada akan kesehatan para kyia dan bu nyai di pesantern mereka.

Mereka juga mengedukasi pola kesehatan masyarakat ketika ingin sowan kepada kyai dan bu nyai mereka dengan mengecek suhu, meminta mencuci tangan dengan sabun, dan memakai masker. Hal ini semua dilakukan demi menjaga pesehatan  para pengasuh mereka juga Kesehatan para santri di pesangren tersebut.

 

*Choeroni, (Dosen Fakultas Agama Islam UNISSULA Semarang dan pengurus MUI Jawa Tengah)

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB
X