Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

- Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB
Choeroni, Dosen Fakultas Agama Islam UNISSULA Semarang dan pengurus MUI Jawa Tengah. (suaramerdeka.com/dok)
Choeroni, Dosen Fakultas Agama Islam UNISSULA Semarang dan pengurus MUI Jawa Tengah. (suaramerdeka.com/dok)

Dengan adanya wabah ini, santri semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan di pesantren, dimana selama ini mungkin belum semua pesantren dan santri di pesantren sadar atas hal tersebut. Karena bagi sebagian mereka adanya perasan acuh terhadap hal tersebut.

Hikmah dari wabah ini membuat sadar bagi semua pesantren dan santri akan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan di pesantren. Apalagi adanya stimulant dari pemerintah akan adanya sarana pendukung untuk mewujudkannya.

Seperti yang dilihat di berbagai pesantren yang dulunya tidak ada alat cuci tangan di setiap pintu masuk atau tempat-tempat tertentu dengan adanya wabah ini, para kyai dan pengurus pesantren menyediakannya untuk santri, juga para tamu yang berkunjung ke pesantren.

Adanya wabah pandemi ini, para tim kesehatan juga menjadi sangat peduli dengan pesaantren dengan mengecek kesehatan santri secara temporer, mengecek sarana kesehatan di pesantren serta memberikan penyuluhan akan pentingnya implementasi perilaku hidup bersih dan sehat dilingkungan pesantren.

Memang secara teori fikih santri dipastikan mengetahui dalam hal ini, akan tetapi dalam implementasinya sebagian mereka kadang merasa acuh dengan hal ini. Namun setelah adanya pandemi ini mereka menjadi sadar akan pola hidup tersebut.

Pembelajaran  di pesantren pun terdampak wabah ini, bahkan hampir semua pesantren di awal wabah ini mereka dipulangkan ke rumah masing-masing karena terbukti adanya klaster covid-19 di pesantren, seperti Al Fatah Temboro di Magetan, Gontor di Ponorogo, Sempon di Wonogiri, serta pesantren di Kota Tangerang dan Pandeglang Provinsi Banten (regional.kompas.com, 11 Juli 2020) dan beberapa pesantren lain yang tidak terexpos media.

Walaupun dalam perjalan berikutnya, pesantren juga sekolah, madrasah di lingkungan pesantren yang lebih dahulu mengawali pembelajaran secara tatap muka, tentunya dengan mematuhi protocol Kesehatan.

Dengan dipulangkannya para santri ke rumah masing-masing, membuat para pengasuh dan pengurus pesantren berfikir bagaimana pembelajaran para santri tetap berjalan walaupun berada di rumah.

Maka mereka ikut menggunakan teknologi dalam pembelajarannya sebagaimana yang diterapkan di sekolah non pesantren. Mereka membuat jadwal dan konten sedemikian rupa guna memberikan edukasi kepada santri agar bisa mengikuti pemebelajaran secara online. Walaupun dengan serba keterbatasan alat teknologi yang dimiliki pesantren pembelajaran tetap dilakukan.

Hal ini membuat dunia pesantren, yang dari awal karena keterpaksaan akhirnya mereka mampu mangikuti pembelajaran dengan menggunakan teknologi tersebut.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menengok Potensi Peran Milenial Kabupaten Brebes

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:12 WIB

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

NEWA, Peluang Baru Bisnis Perhotelan

Selasa, 14 Desember 2021 | 11:30 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB
X