Raja Thailand, Kegagalan Keteladanan

Red
- Jumat, 30 Oktober 2020 | 00:00 WIB

Demonstrasi menentang monarki Thailand terus berlanjut kendati represi oleh aparat makin keras. Gelombang demontrasi kali ini adalah yang terlama dan terpanjang dalam sejarah Thailand yang berulang kali didera aksi penggulingan kekuasaan. Banyak pihak mulai khawatir bahwa monarki Thailand pada akhirnya tumbang dan akan lahir pemerintahan atau republik baru Thailand.

Sistem monarki dinilai tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman dan kehidupan politik Thailand. Namun, demonstrasi dan penentangan terhadap kerajaan lebih banyak dipicu dari kegagalan keteladanan yang ditunjukkan Raja Maha Vajiralongkorn. Sejak kematian sang ayah pada 2016 dan penobatannya sebagai raja pada tahun 2019, Maha Vajiralongkorn tidak berubah dan masih kontroversial.

Kegemarannya berpesta pora makin tampak sebagai aib ketika rakyat di negeri sedang mengalami kesulitan yang amat sangat akibat pandemi Covid- 19. Bukannya menunjukkan empati dan tindakan simpatik, Raja malah mengkarantina diri di sebuah kastil mewah di Jerman bersama istri dan puluhan selir. Pasal-pasal keras untuk melindungi raja dan kerajaan dari kritik tampaknya tidak mampu membungkam.

Deretan perilaku kontroversial yang dipertontonkan Maha Vajiralongkorn bisa sangat panjang. Masyarakat modern Thailand sepertinya sudah tidak bisa lagi menolerir perilaku raja yang tanpa batas, di hadapan rakyat yang seolah- olah masih seperti pada zaman kuno ketika informasi dan pengetahuan belum menyebar seperti sekarang. UU yang paling keras sekalipun tidak akan sanggup mengadang demonstrasi.

Thailand juga sedang menunjukkan pelajaran penting bahwa sistem apapun tidak akan bertahan tanpa keteladanan. Sebaliknya, sistem monarki yang dianggap sangat konvensional, bahkan kuno, dapat berlangsung dengan baik ketika keteladanan muncul dan dipertahankan. Kerajaan dibiayai oleh negara dan pajak dari rakyat, sehingga kerajaan sesungguhnya bukan lagi penguasa tetapi abdi rakyat.

Kegagalan keteladanan Maha Vajiralongkorn melukai sistem monarki yang dibangun dan dipertahankan selama berabadabad. Luka ini bakal sangat sulit disembuhkan, termasuk dengan penggantian raja sekalipun. Thailand membutuhkan reformasi monarki, yang menempatkan sistem monarki berdampingan dengan sistem modernitas. Jika reformasi ini gagal, bangsa Thailand bisa mengalami keruntuhan.

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

ASI Penuhi Gizi, Cegah Stunting pada Masa Pandemi

Jumat, 28 Januari 2022 | 12:13 WIB

Demokrasi Pengelolaan Laut

Rabu, 26 Januari 2022 | 13:30 WIB

Menengok Potensi Peran Milenial Kabupaten Brebes

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:12 WIB

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

NEWA, Peluang Baru Bisnis Perhotelan

Selasa, 14 Desember 2021 | 11:30 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB
X