Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

- Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB
Khafid Sirotudin, Penulis adalah pemerhati pangan, alumni Magister Agribisnis Undip, Tenaga Ahli Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, dan Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jawa Tengah. (suaramerdeka.com/dok)
Khafid Sirotudin, Penulis adalah pemerhati pangan, alumni Magister Agribisnis Undip, Tenaga Ahli Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, dan Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jawa Tengah. (suaramerdeka.com/dok)

Oleh: Khafid Sirotudin

suaramerdeka.com - Pepatah Jawa menyatakan “weteng ngelih, pikiran lan imane biso malih”(perut lapar akal sehat dan iman bisa terkapar/berubah). Kelaparan merupakan bencana bagi manusia, dan sebuah kecelakaan peradaban bagi suatu bangsa dan negara. Oleh karenanya ketersediaan pangan bagi sebuah bangsa dan negara merupakan hal mendasar yang wajib dihadirkan senyatanya bagi seluruh rakyatnya. Dalam situasi dan kondisi apapun: situasi normal maupun ketika ada bencana, kondisi damai ataupun pandemi, di segala musim (kemarau dan penghujan di negara tropis;  dingin, panas,  semi, gugur di negara sub tropis), cuaca bersahabat dan badai hebat, serta kondisi perekonomian sedang terjadi inflasi, deflasi dan resesi. Dengan kata lain, uang 1 sen boleh tidak punya, tapi seteguk air dan sesuap nasi harus tersedia.

Negara dan pemerintah wajib menghadirkan dan menjamin ketersediaan pangan (makanan dan minuman) bagi seluruh rakyatnya secara aman, cukup (jumlah dan mutu), bergizi, beragam, merata dan terjangkau (berkeadilan), serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya yang berkeadaban. Krisis pangan dapat memicu dan memacu krisis sosial, politik, keamanan dan pertahanan bagi sebuah negara dan bangsa. Sudah cukup banyak contoh bagaimana kekuasaan sebuah pemerintahan runtuh disebabkan sebagian besar perut rakyatnya bergemuruh suara kelaparan. Sudah cukup banyak pula negara yang terpecah belah karena sang pemimpin negara lalai dan salah urus kebutuhan pokok pangan bagi rakyatnya.

Keamanan Pangan

Menurut UU no. 18/2012 tentang Pangan, keamanan pangan (food safety) dimaknai sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. Berdasarkan atas definisi tersebut, maka pangan yang dikonsumsi masyarakat haruslah aman dari beragam cemaran, membuat sehat dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya (preferensi) masyarakat.

Hari Keamanan Pangan Sedunia dinyatakan oleh Majelis Umum PBB (the United Nations General Assembly) pada tahun 2018, bahwa setiap tanggal 7 Juni akan diperingati sebagai World Food Safety Day. Kemudian pada tahun 2020, Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) mengadopsi keputusan untuk memperkuat upaya-upaya keamanan pangan dalam mengurangi beban penyakit bawaan pangan. Dua organisasi di bawah PBB, WHO dan  FAO bersama-sama memfasilitasi perayaan Hari Keamanan Pangan Sedunia, bersinergi dengan Negara-negara anggota (termasuk Indonesia) dan organisasi yang terkait lainnya. WHO dan FAO bekerja secara sinergis dalam mengarusutamakan keamanan pangan ke dalam agenda kebijakan publik dan mengurangi beban penyakit bawaan pangan secara global. Keamanan pangan merupakan tanggung jawab setiap insan manusia, dimanapun mereka bertempat tinggal di belahan bumi.

Hari Keamanan Pangan Dunia yang dirayakan pada tanggal 7 Juni tahun 2021 beberapa waktu lalu, mengambil tema “Pastikan pangan yang aman hari ini untuk masa depan yang sehat”. Tema yang diambil tersebut bertujuan untuk  menarik perhatian dan memberikan inspirasi masyarakat global agar melakukan aksi dan partisipasi nyata dalam mendeteksi, mencegah dan mengelola resiko yang berasal dari pangan. Juga mengajak masyarakat dunia untuk memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan (food security), kesehatan manusia, perekonomian yang makmur, lingkungan, pertanian, akses pasar, pariwisata dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Tema Hari Keamanan Pangan Sedunia tahun ini, juga memberikan pesan penting bahwasanya produksi dan konsumsi pangan yang aman akan memiliki manfaat jangka panjang bagi masyarakat, bumi dan perekonomian global. Setidaknya tema yang diusung itu juga ingin menekankan dan menyadarkan seluruh manusia penghuni planet bumi, adanya hubungan yang sistematis antara ketersediaan pangan yang aman, kesehatan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, perekonomian dan lingkungan hidup yang saling terkait dalam memenuhi kebutuhan pangan di masa depan. Mengingat jumlah penduduk saat ini diperkirakan mencapai 7,85 milyar jiwa, dimana 57,65% populasi hanya tersebar di 10 negara. Dimana Indonesia menduduki urutan ke-4 jumlah penduduk dunia di bawah China, India, Amerika Serikat.

Berdasarkan data Administrasi Kependudukan (Adminduk) per Juni 2021, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 272.229.372 jiwa. Ada 7 provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak, yaitu 5 provinsi di pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten dan DKI Jaya), provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Jumlah penduduk yang besar bagi sebuah negara dan bangsa bisa menjadi kekuatan (berkah) yang luar biasa manakala SDM-nya unggul. Namun juga bisa menjadi kelemahan dan hambatan (musibah) manakala SDM-nya tidak unggul. Untuk mewujudkan manusia yang unggul tentu membutuhkan ketersediaan asupan pangan (makanan dan minuman) yang aman dan kemandirian pangan (food resilience) yang baik.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB
X