Mewujudkan Lumbung Daging Berbasis Masjid

Red
- Selasa, 28 Juli 2020 | 09:44 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

Terpenting masjid diwarnai dengan kesederhanaan fisik bangunan,  dengan tetap menunjang peranan masjid yang ideal (minimal). Komponen ini perlu  mendapat  perhatian, karena  menurut pengamatan dan penilaian berdasarkan rangkaian sejarah kaum muslim, masih banyak dijumpai para pengurus (takmir) masjid memberikan perhatian yang terlalu berlebihan terhadap nilai-nilai arsitektur dan estetika suatu masjid. Hal ini memicu terjadinya kedangkalan, kekurangan, bahkan kelumpuhan dalam  pemenuhan fungsi-fungsi masjid. Nampak nilai arsitektur dan estetika dijadikan  kompensasi  untuk  menutup-nutupi  kekurangan  atau kelumpuhan fungsi-fungsi tersebut.

Fungsi Sosial-Ekonomi
Masjid digunakan sebagai sarana untuk melakukan dakwah dan pengembangan sumber daya ekonomi umat Islam. Revitalisasi fungsi masjid sebagai wadah melakukan dakwah dan pemberdayaan umat perlu dikembangkan terus (Dalmeri, 2014). Cita-cita ini bukan sesuatu yang mustahil dapat terwujud. Sejarah mencatat masjid adalah pilar utama dan terpenting bagi pembentukan masyarakat Islam. Masyarakat muslim tidak akan terbentuk secara kokoh dan rapi kecuali dengan adanya komitmen terhadap tatanan Islam, salah satunya dengan perberdayaan sosial-ekonomi masjid (Hamsah, 2017)

Melihat situasi pandemi global sedang berlangsung di tengah kehidupan umat, diperlukan paradigma baru dan kejelian dalam mewujudkan pemberdayaan ekonomi umat yang berbasis masjid. Kita harus dapat melihat dan memanfaatkan momen Hari Raya Qurban tahun ini untuk kemaslahatan umat. Momen Hari Raya Qurban ini perlu dikelola dengan baik, sehingga dapat memberi kemanfaatan yang lebih optimal bagi jamaah dan umat. Hari Raya Kurban harus diposisikan sebagai salah satu cara mengurangi dampak pandemi Covid-19. Masjid harus mempunyai andil dan peran dalam situasi saat ini dengan memperdayakan potensi ekonomi yang masjid miliki.

Dalam buku Economic Development in Islam dikemukakan bahwa terdapat dua transmisi sumber daya ekonomi umat: Pertama, secara komersil yang terjadi melalui aktivitas ekonomi. Kedua, secara sosial terjadi dalam bentuk bantuan seperti daging kurban, zakat, infaq dan shadaqah. Dua transmisi sumber daya ekonomi ini merupakan potensi umat, karena tidak semua orang mampu melakukan proses dan aktivitas ekonomi.

Bagi yang sehat, kuat jasmani dan memiliki kesempatan, ia dapat memperoleh sumber kehidupannya dari aktivitas ekonomi. Tetapi, bagi sebagian lain yang tidak mampu, Islam melindungi dengan sosial economic security insurance dalam bentuk daging kurban, zakat, infak dan shadaqah (Hasan Sadeq, 2004)

Dalam konteks masa pandemi dan Hari Raya Qurban, masyarakat dapat mengembangkan lumbung daging berbasis masjid. Lumbung masjid dibangun untuk mewujudkan ketahanan pangan masyarakat secara mandiri. Lumbung masjid yang terdiri dari dua kata lumbung dan masjid merefleksikan nilai yang saling mengikat dan menjadi salah satu strategi untuk mendekatkan sistem ekonomi yang islami kepada masyarakat (Tesoriero, 2008:447-448). Lumbung yang berorientasi pada penguatan pangan dan masjid yang berfungsi menjaga moral jamaah adalah dua kata yang menjadi unsur pembentuk ketahanan mental dan pangan masyarakat.

Daging dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu daging mentah/segar dan daging olahan. Daging segar ialah daging yang belum mengalami pengolahan dan dapat dijadikan bahan baku pengolahan pangan. Sedangkan daging olahan adalah daging yang diperoleh dari hasil pengolahan dengan metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan, misalnya abon, sosis, dendeng, daging burger dan daging olahan dalam kaleng dan sebagainya (Desroiser, 2010).

Banyak pihak yang mencoba memikirkan solusi terhadap kemanfaatan daging kurban yang melimpah utamanya pemanfaatan yang efektif dalam jangka panjang sehingga daging kurban itu dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar masjid dan umat Islam seluas luasnya. Salah satu ide pemanfaatan daging kurban dalam jangka waktu yang lama dan mampu menjangkau masyarakat sekitar masjid dan masyarakat muslim secara luas ialah pengolahan dan pengalengan daging kurban.  

Pengolahan dan pengalengan daging kurban dapat digunakan sebagai salah satu cara mewujudkan lumbung daging berbasis masjid pada masa pandemi seperti saat ini. Agar daging kurban lebih optimal, pembagiannya ke fakir miskin dilakukan dengan dua transmisi (Yusuf Qardhawi, 1995), yakni jalur daging mentah (diberikan langsung setelah penyembelihan), dan jalur daging olahan (diberikan setelah daging mentah habis dikonsumsi dan pada waktu-waktu berikutnya). Termasuk juga diberikan kepada pihak-pihak yang terkena dampak pandemi covid-19.

Kalangan Malikiyyah berpendapat diperbolehkan menyedekahkan daging kurban dalam keadaan masak. Dalam pandangan Malikiyyah, yang lebih baik bagi mudlahhi terkait distribusi kurban adalah memakan sebagian, kemudian sebagian yang lain disedekahkan, baik mentah atau matang. Bila hanya melakukan salah satunya, maka boleh namun meninggalkan keutamaan (Jami’ al-Ummahat, hal. 230).

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB

Perpres Pendanaan Pesantren

Jumat, 17 September 2021 | 00:20 WIB

Membangun Fondasi Green Economy

Jumat, 17 September 2021 | 00:10 WIB

Standar Pembelajaran Tatap Muka

Jumat, 17 September 2021 | 00:00 WIB

Membenahi Rantai Pasokan Pangan

Kamis, 16 September 2021 | 00:47 WIB

Modal Manusia Islami untuk LKMS

Rabu, 15 September 2021 | 01:40 WIB

Mewujudkan Jalur Kereta Api Semarang-Rembang

Selasa, 14 September 2021 | 20:24 WIB

”Samudra Biru” Pendidikan Tinggi

Selasa, 14 September 2021 | 20:10 WIB

Mengawal Dana PEN di Bank Umum

Senin, 13 September 2021 | 11:21 WIB

Mewaspadai Covid-19 Varian Mu

Senin, 13 September 2021 | 00:20 WIB

Menatap Kemungkinan Pandemi ke Endemi

Senin, 13 September 2021 | 00:10 WIB

Membangun Ekosistem Industri Game Lokal

Senin, 13 September 2021 | 00:00 WIB

Menjaga Kohesi Sosial

Sabtu, 11 September 2021 | 04:13 WIB

Menjaga Kohesi Pascapandemi

Jumat, 10 September 2021 | 09:48 WIB

Ketenangan Atasi Long Covid-19

Jumat, 10 September 2021 | 00:20 WIB

Segerakan Reformasi Pengelolaan Lapas

Jumat, 10 September 2021 | 00:10 WIB

Meniru Semangat Pembuatan UU Cipta Kerja

Jumat, 10 September 2021 | 00:00 WIB
X