Mewujudkan Lumbung Daging Berbasis Masjid

Red
- Selasa, 28 Juli 2020 | 09:44 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

MASYARAKAT mengenal masjid sebagai rumah Allah (baitullah) yang difungsikan untuk menunaikan shalat dan ibadah mahdhah lainnya. Selain itu, biasanya masjid juga dimanfaatkan untuk proses belajar dan mengajar keagamaan atau ngaji. Pada masa Rasulullah Muhammad telah ditunjukkan dan dicontohkan bagaimana tuntunan dalam hal memakmurkan masjid. Baik secara model vertikal (hablum minallah) maupun  model horizontal (hablum minannas).

Prestasi meniru Rasulullah Muhammad (uswatun hasanah) tersebut mencapai puncak prestasi pada zaman keemasan Islam (sejak abad VI-XIII M atau kurang lebih selama 7 abad). Pada masa keemasan ini umat Islam berhasil menjadikan masjid sebagai markas pelaksanaan hubungan antara manusia dengan Allah (ibadah) dan hubungan manusia dengan manusia (muamalah) secara kombinasi. Merujuk paling tidak dua rentetan sejarah tersebut, terdapat banyak hal yang dapat direalisasikan melalui masjid untuk tujuan kemaslahatan umat secara luas.

Fungsi Masjid

Masjid pertama  yang  dibangun  oleh  Rasulullah Muhammad adalah Masjid   Quba',  kemudian  disusul  dengan  Masjid  Nabawi  di Madinah. Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tentang masjid yang  dijuluki  Allah  sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa (Q.S. Al-Taubah  [9]:  108),  yang  jelas bahwa Masjid  Quba  dan  Masjid  Nabawi dibangun  atas  dasar ketakwaan, dan setiap masjid seharusnya memiliki landasan  dan fungsi  seperti itu. 

Itulah sebabnya mengapa Rasulullah Muhammad meruntuhkan bangunan  kaum  munafik  yang  juga  mereka  sebut masjid,  dan menjadikan lokasi itu tempat pembuangan sampah dan bangkai binatang, karena di bangunan tersebut tidak dijalankan fungsi  masjid  yang  sebenarnya,  yakni  ketakwaan ((Q.S. Al-Taubah  [9]:  107).

Khusus mengaca dari perjalanan pendirian dan pemakmuran Masjid Nabawi, menurut M. Quraish Shihab dalam Buku Wawasan Al-Qur’an memiliki peran dan fungsi yang luar biasa dan beraneka ragam. Sejarah mencatat tidak kurang dari 10 (sepuluh)  peranan  yang  telah  diemban  oleh Masjid Nabawi, sebagai: (1) Tempat ibadah (shalat, zikir); (2) Tempat konsultasi dan komunikasi sektor ekonomi, sosial dan budaya; (3) Tempat pendidikan; (4) Tempat santunan sosial; (5) Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya; (6) Tempat pengobatan para korban perang; (7) Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa; (8) Aula dan tempat menerima tamu; (9) Tempat menawan tahanan dan; (10) Pusat penerangan atau pembelaan agama (Quraish Shihab, 2006).

Fungsi dan peran masjid pada masa silam dapat diwujudkan sedemikian luas  dipengaruhi paling tidak 2 (dua) faktor, antara lain : 1) Keadaan masyarakat yang masih sangat berpegang teguh kepada nilai, norma, dan jiwa agama; 2) Kemampuan pengurus-pengurus masjid  menghubungkan  kondisi sosial  dan  kebutuhan  masyarakat  dengan urain program dan kegiatan masjid.

Fungsi dan peranan masjid besar seperti yang  disebutkan  pada masa  keemasan  Islam  itu tentunya sulit diwujudkan pada masa kini. Namun,  ini  tidak  berarti  bahwa  masjid  tidak  dapat berperan di dalam hal-hal tersebut. Masjid harus berani mencoba melakukan kesepuluh  peran di atas. Paling tidak melalui uraian para pembina dan pengurus masjid dapat mengarahkan umat pada kehidupan duniawi dan ukhrawi yang lebih bermanfaat dan berkualitas.

Tahapan menuju ke peran-peran tersebut, hendaknya pengurus masjid dapat mengelola dan membina umat dengan professional,  berkesinambungan dan ramah lingkungan. Sarana yang  dimiliki masjid harus tepat dan menarik (tidak mesti mahal) bagi semua umat, baik dewasa, kanak-kanak, tua, muda, pria, wanita, awam, terpelajar, sehat, sakit, miskin dan kaya.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

Tekanan Berbeda dari Olimpiade

Sabtu, 31 Juli 2021 | 02:46 WIB

Menakar Kesiapan untuk Aksi 3T

Sabtu, 31 Juli 2021 | 02:42 WIB

Pelajaran Sukses dari Olimpiade Tokyo

Sabtu, 31 Juli 2021 | 02:35 WIB

Main Diksi dalam Hukum Karantina

Jumat, 30 Juli 2021 | 00:20 WIB

Pencabutan Status Darurat di Malaysia

Jumat, 30 Juli 2021 | 00:10 WIB

Investasi di Tengah Penurunan Bunga

Jumat, 30 Juli 2021 | 00:00 WIB

Ideologi Global untuk Perubahan Iklim

Kamis, 29 Juli 2021 | 02:52 WIB

Melawan Gerakan Inkonstitusional

Kamis, 29 Juli 2021 | 02:46 WIB

Jalur Koridor Ekonomi Asia Tenggara

Rabu, 28 Juli 2021 | 04:20 WIB

Strategi UMKM Pasca-PPKM

Rabu, 28 Juli 2021 | 04:15 WIB

Ketepatan Sasaran dalam Salurkan Bantuan

Selasa, 27 Juli 2021 | 02:54 WIB

Kebanggaan dari Cantika dan Eko Yuli

Selasa, 27 Juli 2021 | 02:34 WIB

Telemedicine Pelayanan saat Pandemi

Selasa, 27 Juli 2021 | 02:29 WIB

Strategi Pengentasan Kemiskinan

Senin, 26 Juli 2021 | 10:24 WIB

MUI, Umara, dan Umat

Senin, 26 Juli 2021 | 03:49 WIB

Waspadai Ketimpangan Perkotaan

Sabtu, 24 Juli 2021 | 02:28 WIB
X