Warisan Sapardi Djoko Damono

Red
- Selasa, 21 Juli 2020 | 00:01 WIB

Hingga hari ini dunia kesusastraan Indonesia masih berduka atas wafat Sapardi Djoko Damono. Sekalipun bukan penyanyi atau bintang film, penyair kelahiran Solo, 20 Maret 1940 ini sangat dikenal oleh publik. Karena meninggal pada bulan Juli, banyak orang menulis di medsos teks bertajuk “Hujan pada Bulan Juli”. Suara Merdeka juga menurunkan tulisan bertajuk “Hujan Tangis Menderas pada Bulan Juli”. Ini tentu garagara Sapardi memiliki sajak bertajuk “Hujan Bulan Juni”. Hampir semua media memelesetkan Juni menjadi Juli.

Tak perlu heran “Hujan Bulan Juni” menjadi teks yang sangat terkenal. Sebab selain hadir sebagai sajak, Hujan Bulan Juni juga muncul sebagai novel, lagu, dan film. Anakanak muda sangat hafal lirik: tak ada yang lebih tabah/dari hujan bulan Juni/dirahasiakannya rintik rindunya/ kepada pohon berbunga itu//.Tak ada penyair Indonesia yang mendapat penghormatan dari publik seheboh Sapardi. Teks-teks Sapardi, “Aku Ingin” dalam bahasa Jerman pun diunggah oleh fans di Jerman untuk menghormati penyair flamboyan ini.

Tak mengherankan jika Hujan Bulan Juni memperoleh Anugerah Buku Asean pada 2018. Sebelumnya Sapardi Djoko Damono menerima penghargaan SEA Write Award pada 1986. Selain itu, ia menerima penghargaan Achmad Bakrie pada 2003. Kumpulan puisi Kolam juga memperoleh penghargaan dari Majalah Tempo pada 2009. Ini menunjukkan teks-teks Sapardi selain indah dan digemari para kawula muda juga berkualitas. Inilah kelebihan Sapardi Djoko Damono dibandingkan dengan penyair lain.

Hanya itukah yang ditinggalkan oleh Sapardi? Selain sebagai penyair, Sapardi adalah guru besar di bidang ilmu sastra. Ia misalnya telah menulis Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas (1978) yang digunakan oleh para mahasiswa untuk memahami sosiologi sastra di Indonesia. Ia juga menulis Kebudayaan (Populer) (di Sekitar) Kita (2013) yang dicetak berulang- ulang karena masih sangat sedikit di Indonesia buku tentang kebudayaan populer. Yang tak kalah penting, profesor rendah hati ini juga telah menulis Novel Sastra Indonesia sebelum Perang (1979). Ini teks-teks langka.

Sapardi juga sedikit dari sastrawan yang sangat memperhatikan pendidikan. Terkenal sebagai penyair tak membuat penulis yang melahirkan Babad Batu ini meninggalkan dunia kampus. Dengan tekun Sapardi belajar dan setelah lulus akhirnya mengajar. Sebaliknya setelah layak dipanggil dengan sebutan mentereng “Profesor Doktor”, ia tidak meninggalkan puisi. Belakangan Sapardi juga menulis kumpulan cerpen dan novel. Karya-karya Sapardi ini sangat layak untuk diteliti sekalipun sudah ada satu buku bertajuk Membaca Sapardi yang ditulis oleh para pakar sastra.

Apa lagi yang ditinggalkan Sapardi? Sapardi memberi teladan kepada kita semua betapa masa tua bukanlah waktu untuk bermalasmalasan. Pada saat berusia 80 tahun penulis novel Segi Tiga ini masih berjuang untuk sastra dan perbukuan. Terakhir sebelum pandemi Covid-19, dia memperjuangkan sebuah asosiasi perbukuan yang mandiri dari intervensi pemerintah. Bukan tidak mungkin di luar pengetahuan kita, penyair sepuh ini masih menyimpan teks-teks yang belum diterbitkan di laci kerja. Intinya: ketuaan tak menghalangi untuk berkarya. Inilah warisannya.

Editor: Andy Kristiyan

Tags

Terkini

Fintech Syariah, Sang Primadona Transformasi Digital

Rabu, 23 November 2022 | 11:32 WIB

Ancaman Senyap Asap Rokok

Selasa, 22 November 2022 | 19:19 WIB

PMA 68 dan Dinamika Akademik di Kampus

Kamis, 17 November 2022 | 16:57 WIB

Kepemimpinan Berorientasi Pengetahuan

Rabu, 16 November 2022 | 11:12 WIB

Memperkuat Jaringan Koperasi Syariah

Selasa, 15 November 2022 | 11:32 WIB

Utang atau Cetak Uang Baru?

Senin, 14 November 2022 | 11:12 WIB

Kepemimpinan dalam Organisasi Pembelajar

Sabtu, 12 November 2022 | 11:12 WIB

Mewaspadai Budaya Gila Kerja

Jumat, 11 November 2022 | 11:15 WIB

Sustainability dalam Bisnis Perusahaan

Kamis, 10 November 2022 | 11:12 WIB

Pungli dalam Pengurusan Warisan

Minggu, 30 Oktober 2022 | 12:04 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Minggu, 23 Oktober 2022 | 21:00 WIB

Peci untuk Cakades

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 21:55 WIB

Mencari Pemimpin Profetik

Senin, 10 Oktober 2022 | 12:03 WIB

Tragedi Oktober di Kanjuruhan

Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:02 WIB

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 09:16 WIB

Mari Dukung Partisipasi Taiwan di ICAO

Jumat, 30 September 2022 | 21:47 WIB
X