Pandemi dan Peran Advisory Perbankan

Red
- Senin, 15 Juni 2020 | 00:13 WIB
Pandemi dan Peran Advisory Perbankan
Pandemi dan Peran Advisory Perbankan

" Di saat yang tidak mudah inilah, seluruh punggawa kredit, pengelola account, relationship manager, bahkan pemimpin unit kerja, harus lebih banyak ”turun gunung” dan memberikan advisory effort-nya. Sebab semua paham, jika ekonomi debitur ambruk, maka perbankannya juga terancam runtuh. "

SALAH satu sektor paling terdampak pandemi Covid-19 adalah sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Merosotnya daya beli konsumen, kurang lancarnya distribusi barang dan jasa, serta keterbatasan gerak akibat penerapan protokol kesehatan dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), menjadi penyebab utama terpuruknya UMKM Indonesia saat ini. Kondisi ini sangat berbeda dari krisis ekonomi pada 1998. Saat itu, UMKM justru menjadi entitas usaha paling tangguh di tengah terjangan badai likuditas dan prahara politik. Terjun bebasnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat itu, tak berpengaruh banyak terhadap eksistensi UMKM. Daya beli masyarakat juga masih relatif terjaga.

Tapi kondisi saat ini tidak sama. Ini bukan resesi biasa. Ini bukan krisis ekonomi normal, akibat kesalahan kebijakan ekonomi misalnya. Musuh ekonomi saat ini bukanlah hal-hal yang bisa diprediksi melalui kacamata teori ekonomi, namun lebih merupakan sudden attack atau imbas dari sebuah wabah kesehatan. Celakanya, wabah Covid-19 tidak hanya hinggap di satu dua negara saja, tapi menyerang hampir seluruh negara di dunia. Selain pemerintah, siapa ”sahabat” UMKM Indonesia? Salah satunya adalah lembaga perbankan. Di mana selain mendukung proses delivery system (operasional transaksi), perbankan juga merupakan lembaga financial intermediary atau perantara relasi antara nasabah yang surplus pendanaan dengan nasabah yang defisit pembiayaan, dalam bentuk penyaluran pinjaman bank.

Dalam buku Rahasia Sukses Ngutang di Bank (2007), saya menyampaikan 10 alasan untuk mengajak UMKM ber-bank. Selain alasan profesionalitas, keunggulan sisi likuiditas bank terkait besaran kredit yang bisa diberikan, sebaran kantor layanan yang memudahkan transaksi, aspek legalitas kredit yang lebih terjaga dan sebagainya, ada satu alasan kuat mengapa UMKM harus memilih bank sebagai mitra bisnisnya. Yakni, bank bisa menjadi advisor bagi para pelaku UMKM. Dalam bahasa saya di buku itu, bank bisa berfungsi sebagai ”tim sukses usaha”. Fungsi advisory ini sesungguhnya yang bisa menjadi keunggulan kompetitif sekaligus komparatif bagi bank, dibanding lembaga pembiayaan lainnya.

Di masa penuh tantangan seperti di era pandemi Covid-19 ini, fungsi advisory ini harus dikedepankan. Di saat yang tidak mudah inilah, seluruh punggawa kredit, pengelola account, relationship manager, bahkan pemimpin unit kerja, harus lebih banyak ”turun gunung” dan memberikan advisory effort-nya. Sebab semua paham, jika ekonomi debitur ambruk, maka perbankannya juga terancam runtuh.

Harus Proaktif

Lantas, fungsi advisory seperti apa yang harus dioptimalkan oleh bank saat paceklik akibat pandemi ini? Pertama, bank harus proaktif melakukan review terhadap kondisi debitur, tanpa harus menunggu debitur mengeluh dan meminta relaksasi demi relaksasi atas kewajiban kreditnya. Di sinilah fungsi kesederajatan dalam hubungan mutualisme bank dengan debiturnya diuji.

Bank, dengan petugas yang telah dibekali kemampuan menganalisa kondisi usaha existing (saat ini) maupun secara predictive (masa depan) dengan berbasis proyeksi omzet, prediksi ekonomi, prospek komoditi dan sebagainya, harus bisa memberi advis terkait strategi usaha dan pola bertahan yang bisa dilakukan oleh para pelaku UMKM era pandemi. Bank harus paham, bahwa UMKM yang masih eksis di hari ini tidak bisa dijamin akan tetap mampu bertahan hingga beberapa bulan ke depan, jika kondisi pandemi berkepanjangan. Artinya, dituntut kepekaan instinctive untuk bisa memprediksikan kejadian, dan kemudian memulai exit strategy untuk menghindar dari lingkaran prediksi yang membahayakan. Relaksasi kredit bahkan bisa dilakukan lebih awal sebagai antisipasi. Dengan catatan, apabila pandemi selesai sebelum waktu yang diprediksikan, tipe dan struktur relaksasi bisa ditinjau kembali.

Kedua, bank harus mengoptimalkan jaringan bisnisnya untuk memediasi hubungan dan transaksi antara debitur UMKM yang satu dengan lainnya. Database di perbankan sangat lengkap. Dari aspek kapasitas produksi, pemasaran, hingga aspek karakter debiturnya. Semua telah tertuang dalam hasil analisa 5C's kredit (character, capasity, capital, condition, collateral) ketika bank akan memberikan putusan kredit. Fungsi mediasi antardebitur ini harus ditingkatkan, agar bank bisa membantu kepastian pasar dari barang maupun jasa yang ditawarkan debitur. Rekomendasi pihak bank bersifat high-value, karena sebagai lembaga intermediary, bank tidak akan ”menjerumuskan” nasabahnya, yang notabene berarti ”menjerumuskan” bisnis bank itu sendiri.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB
X