Momentum Mempraktikkan Jalan Utama Berunsur Delapan

Red
- Jumat, 8 Mei 2020 | 21:39 WIB
foto: suaramerdeka/dok
foto: suaramerdeka/dok

Peringatan Trisuci Waisak 2564 BE, yang jatuh pada 7 Mei 2020, dirayakan oleh umat Buddha di seluruh dunia. Hari suci ini merayakan tiga peristiwa bersejarah bagi umat Buddha.

Pertama, lahirnya seorang pangeran bernama Siddharta Gautama pada malam bulan purnama di bulan Waisak 623 sebelum masehi, di Taman Lumbini, Nepal. Kedua, Pangeran Siddharta mencapai penerangan agung, menjadi Samma Sang Buddha di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya. Ketiga, Sang Buddha Parinibbana (wafat) di Kusinara.

Tahun ini perayaan nasional Waisak dirayakan secara sederhana karena adanya pandemi Covid-19. Persatuan Umat Budha Indonesia (Permabudhi) melakukan perayaan Waisak melalui live streaming dengan tema ‘’Dengan Kesadaran Dhamma Kita Tingkatkan Kepedulian Sosial Demi Keutuhan Bangsa’’. Dalam acara tersebut, diadakan meditasi bersama menyambut detik-detik Waisak.

Pada saat Sang Budha mencapai penerangan sempurna, telah mengajarkan pada muridnya empat kesunyataan mulia. Yaitu dukkha (penderitaan); samudaya (asal mula dukkha); nirodha (berhentinya dukkha); dan magga (jalan berhentinya dukkha).

Pada saat ini dunia telah mengalami dukkha, yaitu virus Covid-19 yang bermula dari satu negara (Samudaya). Sekarang lebih dari 200 negara sudah terpapar. Dalam situasi ini, kita harus yakin bahwa krisis akan dapat teratasi (nirodha). Apabila kita lihat Kota Wuhan di China, mereka sepertinya sudah berhasil menanggulangi krisis tersebut dan baru-baru ini merayakan hari buruh dengan bebas.

Virus ini tidak hanya mengancam kesehatan kita, tetapi juga menimbulkan krisis ekonomi yang bisa berkepanjangan. Semua ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan peran pemerintah. Diharapkan semua elemen masyarakat bisa bekerja sama untuk mencari jalan keluar (magga) daripada mencari kesalahan satu sama lain atas timbulnya virus Covid-19.

Kita semua harus menyadari bahwa manusia yang terlahir akan mengalami lima hal. Suka duka yang silih berganti yang dikarenakan oleh hukum sebab akibat; ketidakkekalan (anicca); sakit jasmani/rohani; usia tua; dan kematian.

Dalam perayaan Waisak, marilah kita praktikkan ajaran Sang Buddha, jalan utama berunsur delapan, untuk mengatasi penderitaan yang kita alami. Yakni pengertian benar, pemikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, daya-upaya benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

Kita ingin mewujudkan cita-cita bangsa, hidup damai dalam keragaman suku, agama dan kebudayaan. Sebelum saya akhiri, perkenankan saya atas nama Permabudhi Jawa Tengah mengucapkan selamat Hari Trisuci Waisak kepada seluruh umat Budha Indonesia. Mari kita meningkatkan kebajikan dengan penuh cinta kasih kepada semua makhluk.

Halaman:

Editor: Achmad Rifki

Tags

Terkini

Quo Vadis Kejaksaan RI?

Senin, 10 Januari 2022 | 09:12 WIB

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Pascapandemi

Sabtu, 8 Januari 2022 | 08:12 WIB

Digitalisasi Ibuisme

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:30 WIB

Negeri-negeri Ambon Manise untuk Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 08:45 WIB

Beri mereka waktu

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:12 WIB

Peran Ibu dalam Penguatan Literasi Digital

Rabu, 22 Desember 2021 | 09:12 WIB

Di Balik Kebakaran Pasar Weleri

Minggu, 12 Desember 2021 | 17:42 WIB

Di Balik Meroketnya Harga Minyak Goreng

Kamis, 9 Desember 2021 | 07:45 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB
X