Berkah dan Kutukan Media Sosial

Red
- Jumat, 17 April 2020 | 00:30 WIB

Langkah cepat Polda Jateng memblokir 800 akun media sosial cukup melegakan. Setidak-tidaknya ada upaya untuk mengatasi persoalan penyebaran hoaks saat pandemi Covid-19. Banjir misinformasi, disinformasi, dan hoaks sudah berakibat mengganggu kinerja para pemangku kepentingan yang sedang berjuang keras menangani pandemi beserta segala dampaknya. WHO bahkan menyebut dunia sedang menghadapi pandemi misinformasi.

Pemblokiran 800 akun media sosial mungkin belum mencukupi, sebab satu akun ditutup akan segera muncul dan berganti akun lain. Akun-akun media sosial penyebar hoaks itu sudah sangat siap menghadapi tindakan apa pun dari otoritas resmi. Pernyataan WHO soal pandemi misinformasi juga menunjukkan bahwa penyebaran hoaks sudah sampai pada tingkat sangat mengkhawatirkan, tak ubahnya pandemi penyakit.

Sedemikian mengkhawatirkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berencana membanjiri internet dengan informasi resmi untuk menenggelamkan informasi palsu. PBB memilih opsi membanjiri internet, karena menyadari akun-akun penyebar hoaks itu ibarat pepatah ”patah tumbuh, hilang berganti” dan ”satu hilang, 1.000 lain datang”. Upaya sekeras apa pun menutup akun medsos akan menghadapi siklus yang sama dan terus berulang.

Media sosial dan internet memang membawa berkah sekaligus kutukan. Menjadi berkah karena media sosial sangat memudahkan komunikasi dari satu pihak ke pihak lain, dari pemerintah ke masyarakat. Menjadi kutukan karena media sosial juga memudahkan seseorang atau pihak-pihak tertentu menyebarkan informasi palsu untuk mengacaukan situasi. Berkah dan kutukan itu tergantung pada kecerdasan kita mengelola.

Pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi. Besarnya populasi, pesatnya pertumbuhan pengguna internet dan telepon merupakan potensi bagi ekonomi digital nasional. Ini adalah berkah karena akan memunculkan kekuatan ekonomi digital yang luar biasa, bahkan terbesar di Asia Tenggara.

Penerapan work from home sesungguhnya juga memberi peluang lebih besar bagi pemberdayaan pengguna media sosial, sehingga benar-benar menjadi kekuatan ekonomi di tengah krisis. Saat bisnis offline terpuruk, platform online berpotensi besar menjadi penyelamat untuk keluar dari krisis. Kebijakan dan regulasi yang mendukung pemberdayaan pengguna medsos jauh lebih penting dan urgen sebagai terobosan.

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Fintech Syariah, Sang Primadona Transformasi Digital

Rabu, 23 November 2022 | 11:32 WIB

Ancaman Senyap Asap Rokok

Selasa, 22 November 2022 | 19:19 WIB

PMA 68 dan Dinamika Akademik di Kampus

Kamis, 17 November 2022 | 16:57 WIB

Kepemimpinan Berorientasi Pengetahuan

Rabu, 16 November 2022 | 11:12 WIB

Memperkuat Jaringan Koperasi Syariah

Selasa, 15 November 2022 | 11:32 WIB

Utang atau Cetak Uang Baru?

Senin, 14 November 2022 | 11:12 WIB

Kepemimpinan dalam Organisasi Pembelajar

Sabtu, 12 November 2022 | 11:12 WIB

Mewaspadai Budaya Gila Kerja

Jumat, 11 November 2022 | 11:15 WIB

Sustainability dalam Bisnis Perusahaan

Kamis, 10 November 2022 | 11:12 WIB

Pungli dalam Pengurusan Warisan

Minggu, 30 Oktober 2022 | 12:04 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Minggu, 23 Oktober 2022 | 21:00 WIB

Peci untuk Cakades

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 21:55 WIB

Mencari Pemimpin Profetik

Senin, 10 Oktober 2022 | 12:03 WIB

Tragedi Oktober di Kanjuruhan

Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:02 WIB

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 09:16 WIB

Mari Dukung Partisipasi Taiwan di ICAO

Jumat, 30 September 2022 | 21:47 WIB
X