Awasi Semua Penambangan Galian C

Red
- Rabu, 11 Maret 2020 | 00:05 WIB

Areal bekas penambangan galian C di Dusun Sobotuwo, Desa Kronggen, Kecamatan Brati, Grobogan memakan korban. Seorang kiai pengasuh Pondok Pesantren Al Lathifiyah bersama lima santriwati tewas tenggelam. Mereka terperosok ke kolam luas bekas penambangan galian C. Kejadian menyedihkan tersebut kiranya perlu diusut tuntas. Munculnya bekas penambangan perlu ditelusuri apakah sesuai dengan aturan di dunia pertambangan.

Jika ditemukan adanya kelalaian dari pengelola galian C, selayaknya mereka mendapat hukuman. Tak sulit untuk melacak siapa penambang di dusun tersebut. Penambangan tidak berjalan hanya sehari dua hari. Pekerjanya bukan tidak mungkin melibatkan warga sekitar. Siapa penambang tentu bisa dilacak berdasarkan informasi dari banyak narasumber. Bila tidak lekas ditelusuri dan dibiarkan seperti kematian biasa, bukan tidak mungkin kejadian serupa kembali terulang.

Anggota DPRD Jateng telah mengonfirmasi status galian C tersebut dan memastikan ilegal alias tidak berizin. Karena itu, Wakil Ketua Komisi D Hadi Santoso mendesak agar kepolisian berani menindak siapa yang bertanggung jawab atas penambangan tersebut. Bukan hanya penambang, tetapi dalam kegiatan bisnis terdapat hubungan gandeng renteng, saling mengait. Bila penambangan ilegal, bisa dikatakan ada penadah barang tersebut.

Mengapa ilegal? Penambang yang mengantongi izin menambang galian C tentu akan mematuhi aturan, termasuk mereklamasi dari aktivitas bekas penambangan. Tanpa reklamasi, mereka sulit untuk mendapat izin. Bahkan ada uang jaminan reklamasi yang tidak bisa dikembalikan sebelum semua persyaratan terpenuhi. Karena itu, apabila pihak berwajib tidak segera mengusut dan meminta pertanggungjawaban penambang ilegal sungguh disesalkan.

Jatuhnya korban jiwa di areal kolam bekas penambangan ilegal sebenarnya bisa dicermati sejak dimulainya penambangan. Penambangan ilegal akan mengancam keselamatan manusia. Penggunaan merkuri, misalnya, bisa menimbulkan kecacatan fisik dan perusakan lingkungan. Enam korban jiwa di Grobogan hanyalah fenomena gunung es. Hanya sebagian kecil di permukaan yang terlihat, namun sebenarnya masih banyak kegiatan serupa tidak terkuak.

Banyak dan mudah dijumpai penambangan ilegal di Jawa Tengah jika ada kemauan dan kemampuan untuk menelisik. Kita berduka atas kematian kiai dan lima santriwati di Grobogan. Ini sekaligus jadi memontem evaluasi. Pemprov yang memiliki otoritas perizinan penting untuk mencermati izin. Bila perlu mengeluarkan moratorium pertambangan serta memantau aktivitas legal ataupun ilegal, terutama jalannya reklamasi setelah penambangan.

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB

Keamanan Nelayan di Laut China Selatan

Senin, 20 September 2021 | 00:10 WIB

Berharap kepada Inovasi Kepariwisataan

Senin, 20 September 2021 | 00:00 WIB

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB
X