Memindai Cermin Kota Kudus

- Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB
Prayitno. (suaramerdeka.com / dok)
Prayitno. (suaramerdeka.com / dok)

KABUPATEN Kudus, hari ini ada, karena perjalanan peradaban kemarin, di mana berproses dengan beragam dinamika, terakumulasi dan beroleh pengakuan secara kolektif.

Titik tolak yang kemudian disepakati sebagai (menjadi) Kabupaten Kudus.

Tentu ketika (Kudus) masih hanya berupa perkampungan kecil yang belum bernama, tak dapat dimungkiri sebagai mata rantai Kudus kini.

Kabupaten dengan wilayah seluas 42,515,64 Km2, daerah terkecil kedua di Provinsi Jawa Tengah, setelah Kota Salatiga.

Baca Juga: Sampaikan Nilai Moderasi Beragama, Mahasiswa KKN-IK IAIN Kudus Ciptakan Puzzle Etnomatematika

Kamis ini, Kabupaten Kudus mencatat hari jadinya yang ke-472.

Hari jadi yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) No 11 tahun 1990 tentang Hari Jadi Kudus, bertepatan pada 23 September 1549.

Pemilihan titimangsa (masa) Kota Kudus berproses menjadi, yang mendasarkan pada Sunan Kudus Raden Djakfar Sodiq, jejaknya antara lain berupa batu prasasti Al-Quds.

Hari Jadi Kabupaten Kudus tahun 2021, sebagaimana pada 2020, sudah tentu (perayaannya) dalam situasi istimewa.

Baca Juga: Sutarno Dilantik Jadi Ketua IPI Kudus

Situasi dan kondisi yang tidak biasa, karena wabah, pandemi, atau pagebluk Covid-19 sedang membelit dunia. Keadaan kacau balau dan merisaukan, di tengah pelbagai upaya dalam mengatasinya, yang selayaknya sebagai kaca cermin.

Ledakan pagebluk akibat varian Delta beberapa bulan lalu, yang menjadi sorotan secara nasional dan perhatian dunia internasional, semestinya menjadi pelajaran getir.

Namun keguncangan tersebab virus varian Delta yang merupakan mutasi dari Covid-19, tak mampu memaksa atau menyadarkan warga masyarakat untuk memahami atas pagebluk itu.

Peningkatan raungan ambulans yang berlalu-lalang membawa korban meninggal terenggut pagebluk, juga barisan antrean pasien terinfeksi di dalam mobil pengantar di depan UGD rumah sakit, hanya sekilas saja menggetarkan hati.

Baca Juga: Kedepankan Literasi, Tim KKN IAIN Kudus Desa Colo Kembangkan STEAM Village

Masih saja banyak yang (sengaja) tidak patuh protokol kesehatan (prokes). Juga menghamba pada berita hoaks, karena pelbagai kepentingan, yang sengaja dibuat oleh pihak tertentu.

Jikalau pagebluk Covid-19 dianggap sama sekali tidak merupakan kaca cermin, maka tak berlebihan bila, wabah flu spanyol yang melanda dunia pada 1918 juga sama sekali tidak pernah diingat lagi. Meski kala itu, Kudus juga tak luput dari terkaman maut flu spanyol.

Melupa pada Jasmerah (jangan sekali-kali melupakan sejarah).

Puluhan orang di Kudus, dalam buku “Djamhari Penemu Kretek” dan “Kriminalitas dan Filontropi Selama Pandemi; Perang Melawan Influenza”, melayang nyawanya karena terinfeksi flu spanyol.

Suasana semakin mencekam ketika di Pasar Bitingan Kota Kudus, empat orang diketahui secara mendadak meninggal dunia, dalam waktu yang berimpitan.

Kerusuhan Rasialis

Dari cermin flu spanyol di Kota Kudus pada 100 tahun silam -- yang di seluruh Jawa mengakibatkan satu juta orang meninggal dunia, menghadirkan cermin lainnya tak kalah penting untuk berkaca, dalam menatap ke depan.

Tersebab dari hari ke hari terus-menerus dihantui oleh ganasnya pagebluk, warga masyarakat melakukan pelbagai upaya.

Warga Bumiputera melihat wabah flu spanyol lebih merupakan kekuatan gaib yang meminta tumbah nyawa, sehingga dengan caranya sendiri bertindak.

Mengadakan doa bersama, among-among (memanjatkan mantra dengan membakar kemenyan dilengkapi sesaji), dan di antaranya meminta mantra serta azimat kepada dukun sebagai tolak balak.

Warga Tionghoa juga melakukan upaya sama. Antara lain dengan mengarak patung Dewa Toa Pek Kong, keluar masuk jalan di perkampungan pecinan.

Tragisnya, arak-arakan hari ke empat pada 30 Oktober 1918, memantik kerusuhan rasialis saat pawai tersebut melintas di depan Menara.

Bentrokan antara Bumiputera yang dikomando oleh Sarekat Islam (SI) dan etnis Tionghoa tersebut mengakibatkan 10 orang terbunuh, terdiri atas delapan orang Tionghoa dan dua korban pribumi.

Sebanyak 43 rumah yang sebagian besar juga sekaligus tempat usaha dibakar, tak terkecuali rumah milik Haji Rahmat yang sedang dikontrak oleh warga Tionghoa.

Peristiwa rasialis yang berasal-muasal dari flu spanyol, memaksa sekitar separuh atau 2.000 orang Tionghoa yang telah beranak-pinak di Kota Kudus, eksodus ke Semarang dengan berjalan kaki sejauh 50 Km.

Bupati Kudus KRAA Tjokronagoro yang sejak 20 Oktober 1918 terbaring sakit (terinfeksi flu spanyol?), menugasi Patih Martosudirjo agar meredam.

Bersama dengan pengawas polisi JW Snabille, kontroleur WE Scheurer, dan Asisten Wedono Kota Raden Soesilo, Patih Martosudirjo pun mendamaikan,serta menenangkan tokoh masing-masing kubu.

Upaya menumpas kerusuhan berjalan secara optimal, karena 22 dari 30 personel keamanan dari Semarang yang dikerahkan oleh Kompeni, ternyata terinfeksi flu spanyol.
Mengalami demam tinggi, setibanya di Kudus, sehingga tak mampu bertugas. Seketika itu juga harus diisolasi di Kota Kudus.

Setelah 62 tahun kerusuhan antar-etnis tersebut terlupakan dari memori, kembali lagi meletus peristiwa serupa di Kota Kudus. Yang membedakan hanya pada soal asal-muasal penyebabnya, dalam kerusuhan pada November 1980 di Kota Kudus, bisa dikatakan sebagai kasus yang merembet dari Surakarta.

Namun, sepertinya, pemantik sesungguhnya dalam dua kerusuhan rasialis di Kota Kudus (pada 1918 dan 1980) tiadalah beda.

Sama-sama kecemburuan lantaran ekonomi yang berlarut-larut, persaingan usaha yang kemudian dimaknai dengan konotasi miring dan tindakan desduktrif.

Fakta-fakta sejarah di atas, yang secara lebih sederhana sebagai cermin bagi kita, memang selama ini tidak mendapat tempat sebagai mainstream (arus utama) Kota Kudus.
Akan halnya beberapa kisah lainnya, dalam kilas sejarah modern Kudus, misalnya tentang sosok dokter Lukmono Hadi, Mayor Tit Sudono, RM Sosrokartono, dan Subchan ZE.

Apalagi tentang penggalan kisah tandak (penari erotis) bernama Adjeng Taroe Resmi. Penandak tersohor dari Surakarta itu, demikian buku “Djamhari Penemu Kretek”, dua kali diundang untuk menggoyang Pendapa Kabupaten Kudus.

Pada 5 Juni 1874 mengisi hiburan dalam hajatan khitan anak Bupati KRMT Ario Soerio Tjondronegoro, serta acara halal bil halal pada Lebaran Idul Fitri pada 18 September 1879.

Dua tahun sebelumnya, yakni 27 Agustus 1877, sang tandak beraksi di prosesi ritual Cioko yang digelar oleh orang Tionghoa.

Apa pun, pelbagai kisah sejarah yang pahit sekali pun, tidak elok untuk dihapus.

Ia tetaplah kaca cermin bagi kita. Pagebluk adalah satu keniscayaan, perlu disikapi sesuai prokes, bukan untuk digoreng menjadi hoaks.

Bagaimana hidup berdampingan antar-warga masyarakat dalam rumah besar Kudus, tidak perlu ada lagi dalam bersit pun memunculkan permusuhan.

Kota Kudus kini, menjadi kota industri, melewati proses yang panjang.

Kontribusi ke Negara dari cukai rokok yang rata-rata Rp 90 miliar per hari, berlatar untaian sejarah akan awal industrialisasi yang dibangun oleh Raja Kretek M Nitisemito.

Iklim kewirausahaan di Kota Kudus saat ini, adalah kumpulan dari serpihan-serpihan sejarah, jauh sebelum berdirinya Rendeng Suiker Faberiek (PG Rendeng) pada 1840 serta PG Tanjungmojo dan PG Tjendono.

100 tahun sebelumnya, sudah ada belasan pabrik gula putih di Kudus.

Begitu pula pabrik kertas.

Selamat Hari Jadi ke-472 Kabupaten Kudus.

Penulis adalah Jurnalis Harian Suara Merdeka, penulis cerita bersambung Sang Tandak, sedang menyelesaikan novel Pagebluk, tinggal di Kudus.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB
X