Memindai Cermin Kota Kudus

- Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB
Prayitno. (suaramerdeka.com / dok)
Prayitno. (suaramerdeka.com / dok)

Bupati Kudus KRAA Tjokronagoro yang sejak 20 Oktober 1918 terbaring sakit (terinfeksi flu spanyol?), menugasi Patih Martosudirjo agar meredam.

Bersama dengan pengawas polisi JW Snabille, kontroleur WE Scheurer, dan Asisten Wedono Kota Raden Soesilo, Patih Martosudirjo pun mendamaikan,serta menenangkan tokoh masing-masing kubu.

Upaya menumpas kerusuhan berjalan secara optimal, karena 22 dari 30 personel keamanan dari Semarang yang dikerahkan oleh Kompeni, ternyata terinfeksi flu spanyol.
Mengalami demam tinggi, setibanya di Kudus, sehingga tak mampu bertugas. Seketika itu juga harus diisolasi di Kota Kudus.

Setelah 62 tahun kerusuhan antar-etnis tersebut terlupakan dari memori, kembali lagi meletus peristiwa serupa di Kota Kudus. Yang membedakan hanya pada soal asal-muasal penyebabnya, dalam kerusuhan pada November 1980 di Kota Kudus, bisa dikatakan sebagai kasus yang merembet dari Surakarta.

Namun, sepertinya, pemantik sesungguhnya dalam dua kerusuhan rasialis di Kota Kudus (pada 1918 dan 1980) tiadalah beda.

Sama-sama kecemburuan lantaran ekonomi yang berlarut-larut, persaingan usaha yang kemudian dimaknai dengan konotasi miring dan tindakan desduktrif.

Fakta-fakta sejarah di atas, yang secara lebih sederhana sebagai cermin bagi kita, memang selama ini tidak mendapat tempat sebagai mainstream (arus utama) Kota Kudus.
Akan halnya beberapa kisah lainnya, dalam kilas sejarah modern Kudus, misalnya tentang sosok dokter Lukmono Hadi, Mayor Tit Sudono, RM Sosrokartono, dan Subchan ZE.

Apalagi tentang penggalan kisah tandak (penari erotis) bernama Adjeng Taroe Resmi. Penandak tersohor dari Surakarta itu, demikian buku “Djamhari Penemu Kretek”, dua kali diundang untuk menggoyang Pendapa Kabupaten Kudus.

Pada 5 Juni 1874 mengisi hiburan dalam hajatan khitan anak Bupati KRMT Ario Soerio Tjondronegoro, serta acara halal bil halal pada Lebaran Idul Fitri pada 18 September 1879.

Dua tahun sebelumnya, yakni 27 Agustus 1877, sang tandak beraksi di prosesi ritual Cioko yang digelar oleh orang Tionghoa.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB
X