Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Red
- Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB
Tajuk Rencana
Tajuk Rencana

Sungguh mengenaskan sebanyak 90 siswa SMP 4 Mrebet, Purbalingga, terpapar Covid-19. Semuanya berawal dari ada murid yang memiliki gejala terpapar virus korona dan akhirnya murid-murid lain terinfeksi.

Yang patut disayangkan, sekolah ini menyelenggarakan pembelajaran tatap muka tanpa izin. Mereka belum diperiksa oleh Tim Satgas Covid-19 dari kabupaten.

Karena belum diperiksa, tentu tak ada kontrol. Tak ada pengendalian. Belum pula ada pengobatan. Apa yang kemudian harus dilakukan? Menunda pelaksanaan pembelajaran tatap muka? Tentu tak serta merta kita memunculkan kebijakan semacam itu.

Jika kebijakan semacam itu dilakukan, itu sama saja "setitik noda di satu sekolah merusak sekolah selurunya".

Yang paling tepat dilakukan, segera anak-anak itu diminta menjalani program isolasi terpusat. Isolasi (bukan di rumah) diperlukan agar ada pengendalian, pengobatan, dan pemulihan kepada anakanak itu.

Memang tak mudah melakukan isolasi terpusat untuk anakanak. Akan terjadi penolakan dari para orang tua atau siswa.

Akan banyak yang keberatan menyerahkan anak-anak mereka kepada para tenaga kesehatan yang bakal melakukan penyembuhan dan pemulihan.

Dalam situasi semacam itu pemerintah harus hadir sebagai "penasihat" yang mendorong para orang tua agar memperbolehkan anak-anak mereka disembuhkan. Tak ada isolasi di rumah karena dirasa akan kurang kontrol dan kurang efektif.

Yang tak boleh dilupakan, sekolah- sekolah yang siswa-siswanya tak terpapar Covid-19 harus tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Mereka harus selalu mengenakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan sehat, dan menjaga imunitas tubuh.

Harus ada yang mengontrol pelaksanaan protokol kesehatan di sekolah agar siswa benar-benar terlindung dari bahaya Covid-19. Harus ada yang menjadi semacam "polisi Covid-19" untuk mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Tragedi Oktober di Kanjuruhan

Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:02 WIB

Obstruction of Press Freedom

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 09:16 WIB

Mari Dukung Partisipasi Taiwan di ICAO

Jumat, 30 September 2022 | 21:47 WIB

Jebol Benteng Terakhir Peradilan, MA oh MA

Rabu, 28 September 2022 | 10:28 WIB

Tidak Ada Alasan, KITB Lamban

Minggu, 25 September 2022 | 12:07 WIB

Seriuskah Kawasan Industri Terpadu Batang?

Sabtu, 17 September 2022 | 08:43 WIB

Jokowi Ngamuk Lagi, Karena Ulah Imigrasi

Rabu, 14 September 2022 | 07:31 WIB

Menjaga Relasi, Memupuk Kolaborasi

Rabu, 14 September 2022 | 01:34 WIB

Kenaikan Harga BBM, Solusi atau Beban untuk Masyarakat?

Senin, 12 September 2022 | 08:48 WIB

Mungkinkah Kenaikan BBM Direvisi ?

Kamis, 8 September 2022 | 08:56 WIB

Jangan Ada Lagi Politik Identitas dan Politisasi Agama

Minggu, 21 Agustus 2022 | 21:32 WIB

RUU KIA dan Peran Negara untuk Perempuan

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 10:05 WIB

Kiai NU dan Kretek

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:26 WIB

Mengapa BUMN Membentuk Holding?

Minggu, 17 Juli 2022 | 08:38 WIB

Pancasila dan Ancaman Pengasong Khilafah

Jumat, 8 Juli 2022 | 13:46 WIB

Pemuda Pancasila dan Rumah Kemartabatan

Kamis, 7 Juli 2022 | 23:18 WIB

Mencari Format Ideal Penjabat Kepala Daerah

Rabu, 6 Juli 2022 | 22:12 WIB
X