Mahasiswa Merdeka

Red
- Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB
Dr Agustina Fitrianingrum
Dr Agustina Fitrianingrum

"Dengan disahkan Kebijakan MBKM tentunya menjadi angin segar bagi mahasiswa, karena memiliki keluasan dan kemerdekaan untuk menyelesaikan pendidikan tinggi serta kesempatan mengaktualisasikan passion yang dimiliki."

PADA tahun 2017, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa pada tahun 2045 Indonesia akan memasuki masa keemasan dengan pendapatan per kapita mencapai 29.000 dolar AS.

Prediksi tersebut berdasarkan kajian Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro.

Prediksi tersebut bukan tanpa dasar, karena saat ini terdapat sebuah metode dari cabang ilmu Sejarah Ekonomi yang dapat dipergunakan untuk memproyeksikan pertumbuhan negara dengan menggabungkan perkembangan sejarah ekonomi dengan menggunakan metode kuatitatif dan perhitungan matematis yang dikenal dengan Cliometrics.

Metode ini kali pertama dikenalkan oleh Alfred Conrad dan John Meyer, yang menerbitkan Economic Theory, Statistical Inference, and Economic History, dalam Journal of Economic History (JEH) pada tahun 1957. Pada tahun 2020 Indonesia memiliki pendapatan per kapita 3.870 dolar AS yang dinyatakan dalam World Bank Country Classifications by Income Level: 2021-2022.

Untuk tahun 2020, Bank Dunia mengklasifikasikan negara berdasarkan pendapatan per kapita dalam USD sebagai berikut: Low Income: 1.046, Lower Middle Income:1.046 - 4,095, Upper Middle Income: 4.095 - 12.695, dan High Income > 12.695.

Dengan kondisi saat ini Indonesia berada dalam posisi lower middle income. Peringatan HUTKe-76 Kemerdekaan Republik Indonesia baru saja usai.

Gegap-gempita rasa syukur atas kemerdekaan yang dianugerahkan Tuhan YME melalui perjuangan panjang para pejuang yang gugur di medan laga menggelora di setiap anak bangsa.

Pertanyaan yang sering digaungkan adalah apakah arti kemerdekaan yang sesungguhnya? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemerdekaan adalah sebuah kata benda yang menyatakan keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya).

Secara umum dapat diartikan ketika sebuah negara sudah merdeka maka negara tersebut mampu secara mandiri dari sisi ekonomi, politik, sosial kebudayaan, dan memberikan rasa aman kepada seluruh elemen masyarakat.

Dalam sebuah deskripsi yang lebih ringkas kemerdekaan adalah mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah bagaimana mewujudkannya dalam rentang waktu 24 tahun dari sekarang, pada saat 100 tahun kemerdekaan Indonesia? Sejak tahun 2014, pemerintah menyusun prioritas pembangunan lima tahunan mengacu pada Nawa Cita.

Kata tersebut diadopsi dari bahasa Sansekerta yang artinya adalah Sembilan Harapan. Nawa Cita menjadi haluan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Cita-cita tersebut bukan hal yang tidak mungkin diraih, karena sejarah telah mencatat bahwa sebuah negara dapat tumbuh berkembang menjadi negara maju.

Beberapa negara tersebut misalnya Amerika Serikat yang dulu benua kosong yang ditemukan oleh Colombus, Jepang yang pernah dilumpuhkan dengan bom Nagasaki dan Hiroshima, kemudian saat ini menyusul Korea Selatan yang bahkan masih dalam kondisi perang dingin dengan Korea Utara sejak perang tahun 1950-1953.

Tiongkok juga tumbuh menjadi negara yang sangat kuat secara ekonomi di daratan benua Asia.

Sejarah kejayaan ekonomi bergulir dari satu negara ke negara yang lain adalah sebuah keniscayaan.

Susun Strategi

Untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju, maka pemerintah menyusun strategi agar Indonesia mampu keluar dari middle income trap dengan memanfaatkan momen bonus demografi. Dengan komposisi penduduk produktif lebih besar, Indonesia memiliki keunggulan dari sisi jumlah SDM.

Karena itu, pemerintah mendorong sinergi kerja sama antarkementerian untuk mendukung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Seperti yang disampaikan oleh Presiden RI pertama Ir Soekarno, beri aku 10 orang pemuda, niscaya aku guncangkan dunia, maka Kemendikbudristek memegang posisi paling strategis untuk mendesain arah pengembangan generasi muda.

Karena itu, sejak tahun 2020, Kemendikbudristek meluncurkan Kebijakan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka (MBKM) yang disahkan dengan Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

Kebijakan ini memperluas akses untuk pendidikan tinggi dan relevansi lulusan sebagai output pendidikan tinggi untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja pada masa disruptive technology.

Menilik laman https://pddikti. kemdikbud.go.id/ pada Agustus 2021, jumlah dosen di Indonesia berjumlah 294.706 orang dengan jumlah mahasiswa mencapai 8.839.182 yang tersebar di 4.590 perguruan tinggi dengan 35.894 program studi.

Data tersebut memperlihatkan besarnya aset SDM yang dapat menjadi agen transformatif untuk mendorong Indonesia bertumbuh dari negara berkembang menjadi negara maju dan tangguh.

Mahasiswa adalah generasi muda yang cerdas, penuh energi, inspirasi dan kreatif sehingga untuk metode pembelajarannya harus mampu mengakomodasi kebutuhan agar potensi dan kemampuannya terasah secara optimal.

Besar harapan mereka tidak gagap lagi ketika sudah menyelesaikan pendidikannya, mampu menjadi problem solver, memecahkan masalah dalam permasalahan riil yang kompleks.

Dulu mahasiswa yang aktif dengan kehidupan organisasi, pecinta alam, kemanusiaan atau yang tertarik untuk belajar menjalankan bisnis baik karena tuntutan kebutuhan atau mengelola passion harus mengorbankan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan pendidikan daripada mahasiswa yang fokus pada kegiatan akademik.

Kelompok mahasiswa tersebut acapkali menyandang gelar mahasiswa abadi karena tidak mampu menyelesaikan pendidikan bahkan sampai habis masa belajarnya.

Dengan disahkan Kebijakan MBKM tentunya menjadi angin segar bagi mahasiswa, karena memiliki keluasan dan kemerdekaan untuk menyelesaikan pendidikan tinggi serta kesempatan mengaktualisasikan passion yang dimiliki.

Program MBKM pada praktiknya dapat diambil dari semester lima dengan mengambil 20-40 sks selama 1-2 semester baik di kampus asal atau di kampus lainnya yang dinaungi kerja sama antarlembaga untuk menjamin mutu program yang dilaksanakan.

Kegiatan MBKM yang dapat menjadi pilihan mahasiswa di PT, yaitu 1) Pertukaran mahasiswa dalam atau luar negeri baik dalam program studi yang sama ataupun lintas disiplin ilmu, 2) Magang kerja di perusahaan, 3) Mengajar bisa dilakukan mulai dari tingkat SD yang sekolahnya belum terakreditasi A, 4) Penelitian sesuai dengan bidang ilmu, (5) Proyek kemanusiaan misalnya bergabung dengan PMI atau UNHCR, 6) Berwirausaha dari proposal sampai dengan menjalankan bisnis, 7) Studi/proyek independen misalnya mengikuti pembelajaran daring dari massive open online course /MOOC, 8) Membangun desa dengan mengikuti KKN tematik. Pandemi Covid-19 telah membatasi ruang gerak, namun bukan ruang berkarya.

Dengan kampus merdeka, maka mahasiwa juga merdeka belajar dan berkarya. Indonesia Emas 2045 sedang menanti kita, dengan doa dan usaha nyata kita akan membuktikan bahwa kejayaan Indonesia bukan prediksi kajian semata. (37)

— DrAgustina Fitrianingrum, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB
X