Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Red
- Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB
Tajuk Rencana
Tajuk Rencana

Menkop-UKM Teten Masduki menegaskan tekad pemerintah untuk merevitalisasi koperasi. Koperasi diyakini sebagai usaha yang cocok untuk diterapkan dalam masyarakat yang menghargai semangat kegotongroyongan.

Semangat yang diyakini telah tumbuh subur di Indonesia. Tidak mengherankan bila muncul harapan menjadikan koperasi sebagai sokoguru perekonomian negeri ini.

Namun, contoh tentang keberhasilan usaha koperasi ternyata sering merujuk pada apa yang terjadi di luar negeri.

Koperasi sebagai badan usaha membutuhkan lebih dari kegotongroyongan para anggotanya. Koperasi perlu berperan layaknya korporasi.

Tantangan yang memang harus dijawab dengan revitalisasi. Koperasi yang biasa dikelompokkan sebagai bagian dari usaha kecil dan menengah sebenarnya telah mendapat perhatian lebih.

Misalnya saja dengan meminta perbankan untuk makin memedulikan UKM. Belum lama berselang Bank Indonesia meminta peningkatan porsi kredit kepada sektor itu.

Saat ini bank-bank umum diharuskan menyalurkan 20 persen pinjamannya kepada UMKM. Baru-baru ini, lewat kebijakan rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM), porsi itu diminta untuk ditingkatkan menjadi 30 persen dengan jangka waktu pemenuhan sampai 2024.

Dengan demikian mulai 2024 ketentuan itu wajib dijalankan oleh bank-bank umum. Dalam pelaksana, tantangannya tentu tidak hanya pada bank-bank umum saja. Tetapi juga pada sektor UMKM, termasuk dunia perkoperasian.

Imunitas koperasi perlu ditingkatkan supaya mereka bisa eksis, untuk kemudian berperan lebih besar dalam perekonomian negeri ini. Karena itu korporatisasi tidak terelakkan.

Prinsip-prinsip efisiensi dan efektivitas menjadi kunci dalam dinamika usahanya. Pada lingkup strategis, efisiensi bisa ditempuh lewat merger. Secara teori, merger memungkinkan keterwujudan kondisi yang disebut skala ekonomi.

Koperasi yang berbisnis mengedepankan skala ekonomi bakal adaptif dalam persaingan. Merger bisa jadi alternatif untuk ditempuh koperasi-koperasi sejenis.

Kegotongroyongan diperluas tidak hanya tertuju pada kebersamaan sekelompok orang untuk membentuk sebuah koperasi, tetapi juga pada pengembangan koperasi-koperasi itu untuk secara bersama-sama memperoleh manfaat.

Pandemi Covid-19 yang mengakibatkan perekonomian terkontraksi bisa menjadi pendorong untuk memunculkan pola kemitraan yang mengarah pada aliansi strategis.

Sasaran utamanya adalah keunggulan kompetitif. Aliansi strategis yang perlu ditempuh itu sekaligus menjadi solusi terhadap kebutuhan akan penguasaan teknologi.

Dengan merger, pendanaan yang antara lain bisa diperoleh lewat pemanfaatan akses kredit, bisa diarahkan untuk meningkatkan penguasaan teknologi komunikasi dan informasi.

Tanpa merger, kebutuhan akan ditanggung oleh masing-masing koperasi. Lewat penggabungan usaha, penghematan bisa ditempuh mengingat platform teknologi bisa digunakan secara bersama.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB
X