Wakaf untuk Sektor Informal

Red
- Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB
Purbayu Budi Santosa
Purbayu Budi Santosa

Berkaitan dengan wakaf produktif yang dapat dilakukan untuk penyelamatan dan perbaikan nasib sektor informal ada beberapa langkah penting.

Pertama, Bantuan Sosial (Bansos). Seperti sudah berlaku umum dalam pengurusan wakaf, harus ada wakif, nazdir dan mauquh alaih. Wakif dalam hal ini adalah orang, kelompok orang atau lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang atau surat berharga.

Nazdir adalah pihak yang mengelola wakaf, di mana kelebihannya dari usaha dapat dimanfaatkan untuk membeli kebutuhan pokok (sosial) seperti beras, gula, minyak dan sebagainya.

Mauquh alaih-nya adalah peruntukannya kepada sektor informal, yang terdampak Covid- 19. Perlu pula dikemukakan bahwa dalam wakaf Bansos, harus ada akta ikrar wakafnya, yang tentunya menyesuaikan dengan peraturan yang ada dalam wakaf.

Bank Wakaf Mikro

Kedua, wakaf untuk pembiayaan dan pendampingan sektor informal. Guna mencapai tujuan perbaikan kedaadaan sektor informal setelah pandemi Covid- 19 berlalu (melandai) dapat dilakukan melalui skema kelembagaan Bank Wakaf Mikro (BWM) ataupun pembiayaan syariah lainnya.

BWM merupakan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang bertujuan menyediakan akses permodalan bagi masyarakat kecil yang belum memiliki akses pada lembaga keuangan formal dengan pola pendampingan.

Pembentukan LKMS ini berkat kerja sama antara Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) dan OJK. Skema permodalan pada BWM berkisar antara Rp 3 miliar sampai Rp 4 miliar yang berasal dari donatur, yang bisa berasal dari semua kalangan atau perusahaan dengan biaya awal Rp 1 juta per orang. Jadi dalam hal ini istilah donatur dipakai sebagai wakif dalam model BMW.

Adapun nadzir-nya adalah LKMS dan mauquh alaih adalah sektor informal. Tetapi perlu dicatat BWM pada dasarnya ditujukan pada pondok pesantren di pedesaan, dengan pinjaman maksimum Rp 3 juta dengan skema Qardhul Hasan di mana tidak ada agunan dan pengembaliannya pada pokok pinjaman, hanya dikenakan biaya administrasi 3 %.

Di samping itu dalam BWM disediakan pelatihan dan pendampingan usaha, karena dibentuk kelompok usaha. Mengingat usaha sektor informal banyak terdapat di perkotaaan, maka dapat dibentuk lembaga serupa yang berbasis wakaf di daerah perkotaan.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB
X