Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Red
- Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB
Tajuk Rencana
Tajuk Rencana

Setiap kota memiliki masa lalu yang layak ditinjau dan disusuri kembali. Cara yang segera bisa dilakukan adalah membentuk komunitas sejarah atau komunitas penggemar masa lalu dan segera melakukan blusukan ke berbagai kawasan (ruang), ke berbagai tahun (waktu) yang telah lewat.

Tentu ada banyak manfaat yang bisa dipetik ketika kita bisa menyusuri masa lalu. Paling tidak, kita bisa melihat bagaimana sebuah kota dibangun, mengapa sebuah kota didirikan dengan pola tertentu.

Ada contoh yang bisa ditiru. Kita bisa belajar dari Muhammad Yogi Fajri yang antara lain bersama Komunitas Sejarah Lopen Semarang menyelenggarakan Jelajah Spoorlan (2013), Jelajah Benteng Willem (2013), Jelajah Warisan Karsten (2016), Jelajah Jalur Trem Semarang (2017), dan memproduksi film Twaalf uur van Semarang (2015).

Lewat kegiatan yang tak kunjung henti itu, muncul satu simpulan, “Kota yang serius memperhatikan bangunan bersejarah, pembangunan (ke depannya) akan lebih baik.” Untuk menyusuri masa lalu di Semarang di bidang apa pun, yang dilakukan Komunitas Sejarah Lopen Semarang tentu saja masih belum cukup.

Untuk melihat bagaimana perkembangan ekonomi pada era sebelum, saat, dan poskolonial, misalnya, diperlukan komunitas sejarahekonomi.

Untuk memahami masa lalu kemiliteran di Semarang, misalnya, kita tak mungkin tak membentuk lembaga baru yang melibatkan warga sipil dan militer. Karena itulah, kita memang membutuhkan komunitas-komunitas penggemar masa lalu baru.

Apa saja yang bisa dijelajahi di Semarang? Cukup banyak. Kita bisa melihat perkembangan tembang Jawa khas Semarang sebelum, saat, dan pasca-Ki Nartosabdho.

Untuk sampai mendapatkan “temuan-temuan” kita perlu melibatkan tokohtokoh sekelas Remy Sylado atau Jaya Suprana ke dalam komunitas yang bakal melacak jejak sejarah tembang semarangan itu.

Paling tidak jika kegiatan semacam ini dilakukan, memori orang terhadap tembang dan tempat mendengarkan tembang-tembang itu muncul kembali.

Apakah kota butuh memori? Butuh. Kata Prof Eko Budihardjo, “Bangunan-bangunan bersejarah itu semacam ingatan kota.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB

Jangan Lengah dalam Mitigasi Covid-19

Selasa, 21 September 2021 | 00:27 WIB

Wakaf untuk Sektor Informal

Selasa, 21 September 2021 | 00:22 WIB

Menjaga Keamanan ”PeduliLindungi”

Senin, 20 September 2021 | 00:20 WIB

Keamanan Nelayan di Laut China Selatan

Senin, 20 September 2021 | 00:10 WIB

Berharap kepada Inovasi Kepariwisataan

Senin, 20 September 2021 | 00:00 WIB

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB
X