”Samudra Biru” Pendidikan Tinggi

Red
- Selasa, 14 September 2021 | 20:10 WIB
Prof Dr Fathur Rokhman MHum
Prof Dr Fathur Rokhman MHum

"Samudra biru menggambarkan peluang luar biasa luas yang selama ini luput dari perhatian karena kita terlalu fokus "berebut ikan di laut yang sudah kita kenal". Padahal, di luar laut yang kita kenal terdapat samudra yang luas dan sumber dayanya berkali-kali lipat lebih melimpah."

PANDEMI Covid-19 yang berlangsung hampir dua tahun menciptakan budaya baru di berbagai bidang kehidupan.

Di perguruan tinggi, budaya baru tersebut lahir sebagai respons masyarakat akademik terhadap situasi di masyarakat. Budaya baru memperkuat nilai kreativitas, efektivitas, dan inisiatif yang membawa masyarakat akademik pada "samudra biru".

Budaya baru yang paling terasa dalam pendidikan tinggi adalah penyelenggaraan pembelajaran secara daring. Pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran tersebut membawa nilai-nilai baru yang mengubah cara berpikir penggunanya.

Dalam pembelajaran daring, kreativitas dan fleksibilitas menjadi dua nilai yang sangat berharga. Selain itu, inisiatif dan tanggung jawab juga menjadi nilai lain yang sangat diperlukan.

Nilai-nilai itu mengkristal membentuk kesadaran kolektif masyarakat akademik, baik dosen, mahasiswa, maupun pengelola perguruan tinggi. Nilai-nilai itulah yang secara sadar atau tidak menciptakan cara berpikir dan berperilaku baru dalam tata kelola perguruan tinggi.

Secara akumulatif, hal tersebut menciptakan budaya baru yang lebih produktif. Perubahan mindset dan berperilaku tersebut merupakan modal budaya yang berharga bagi masyarakat pendidikan tinggi.

Modal kultural tersebut perlu dikelola agar menciptakan budaya baru yang lebih produktif, yaitu budaya prestasi. Secara sederhana, budaya prestasi dapat dipahami sebagai kesadaran, komitmen, dan kompetensi dalam diri atau organisasi untuk menjadikan prestasi sebagai orientasi dalam bekerja dan berkarya.

Adapun prestasi adalah hasil kerja unggul yang dicapai dengan kesadaran, motivasi, dan strategi tertentu. Kim and RenÈe Mauborgne (2004) menawarkan model strategi yang dapat melampui target dengan sebutan strategi samudra biru (blue ocean strategy).

Strategi ini diimplementasikan dengan mengejar diferensiasi dan efektivitas secara simultan untuk membuka pasar baru dan menciptakan permintaan baru. Ketika situasi sudah mencapai kejenuhan target dan kinerja sudah biasa terlampui, mengarungi samudra biru adalah orientasi baru.

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Menyusuri Masa Lalu Aneka Kota

Sabtu, 18 September 2021 | 00:59 WIB

Arah Jalan Berbahaya bagi KPK

Sabtu, 18 September 2021 | 00:49 WIB

Strategi UMKM saat Endemi

Sabtu, 18 September 2021 | 00:44 WIB

Perpres Pendanaan Pesantren

Jumat, 17 September 2021 | 00:20 WIB

Membangun Fondasi Green Economy

Jumat, 17 September 2021 | 00:10 WIB

Standar Pembelajaran Tatap Muka

Jumat, 17 September 2021 | 00:00 WIB

Membenahi Rantai Pasokan Pangan

Kamis, 16 September 2021 | 00:47 WIB

Modal Manusia Islami untuk LKMS

Rabu, 15 September 2021 | 01:40 WIB

Mewujudkan Jalur Kereta Api Semarang-Rembang

Selasa, 14 September 2021 | 20:24 WIB

”Samudra Biru” Pendidikan Tinggi

Selasa, 14 September 2021 | 20:10 WIB

Mengawal Dana PEN di Bank Umum

Senin, 13 September 2021 | 11:21 WIB

Mewaspadai Covid-19 Varian Mu

Senin, 13 September 2021 | 00:20 WIB

Menatap Kemungkinan Pandemi ke Endemi

Senin, 13 September 2021 | 00:10 WIB

Membangun Ekosistem Industri Game Lokal

Senin, 13 September 2021 | 00:00 WIB

Menjaga Kohesi Sosial

Sabtu, 11 September 2021 | 04:13 WIB

Menjaga Kohesi Pascapandemi

Jumat, 10 September 2021 | 09:48 WIB

Ketenangan Atasi Long Covid-19

Jumat, 10 September 2021 | 00:20 WIB

Segerakan Reformasi Pengelolaan Lapas

Jumat, 10 September 2021 | 00:10 WIB

Meniru Semangat Pembuatan UU Cipta Kerja

Jumat, 10 September 2021 | 00:00 WIB
X