Mewaspadai Covid-19 Varian Mu

Red
- Senin, 13 September 2021 | 00:20 WIB
SM/Dok
SM/Dok

Oleh Anies

KITA dikejutkan munculnya virus Covid-19 varian terbaru, yaitu varian Mu. Varian Mu atau dikenal dengan nama ilmiah B.1.621 tersebut ditambahkan dalam daftar pantauan WHO (World Health Organization) sejak 30 Agustus 2021 lalu. Varian ini telah dideteksi pada 40 negara yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Setelah muncul Covid-19 varian Alpha dan Delta, kini dunia harus menghadapi varian baru virus korona varian Mu. Organisasi Kesehatan Dunia WHO memasukkan varian baru Covid-19 ini ke dalam daftar variant of interest (VOI) bersama dengan beberapa varian lainnya.

Varian Covid-19 tersebut menghindari kekebalan tubuh masih merupakan perkiraan dan masih terus diteliti lebih dalam.

Sejauh ini, belum terdapat cukup bukti yang valid apakah varian tersebut lebih menular dan berbahaya dibandingkan dengan varian virus korona lain. Berdasarkan sejumlah informasi di atas, terutama dengan adanya potensi menurunkan respons imun terhadap Covid-19, varian tersebut dinilai berefek kepada beberapa hal, di antaranya kemampuan antibodi penyintas, kemampuan terapi antibodi dan plasma, serta kemampuan vaksin.

Varian Mu ini muncul akibat terjadinya mutasi pada virus. Mutasi virus ini merupakan cara beradaptasi yang dilakukan virus untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada di lingkungannya seiring terjadinya proses telah tersebar ke 40 negara hingga saat ini. Salah satu negara yang baru saja mengidentifikasi kasus pertama dari varian Mu adalah Jepang. Persebarannya sudah mencakup Amerika Selatan dan Eropa. Berdasarkan hasil pemantauan, virus korona varian Mu dianggap belum memicu kekhawatiran seperti dua varian yang lebih dulu ada, yakni Alpha dan Delta.

Mu merupakan varian kelima Covid-19 yang diawasi oleh WHO sejak Maret lalu. Walaupun dibutuhkan penelitian lebih lanjut, WHO memperingatkan varian ini memiliki sejumlah mutasi yang menunjukkan dia bisa lebih tahan terhadap vaksin. Tegasnya, varian tersebut memiliki kemampuan yang menunjukkan dirinya bisa lebih tahan terhadap vaksin, seperti halnya varian Beta.

Namun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memeriksa varian Mu. Ada kekhawatiran yang meluas atas munculnya mutasi virus baru. Hal ini karena tingkat infeksi kembali meningkat secara global, terlebih dengan adanya varian Delta yang mudah menular.

Menurut WHO, sejauh ini prevalensi varian Mu di seluruh dunia masih rendah, yakni kurang dari 0,1 persen. Prevalensi varian Mu di Kolombia, negara yang menjadi tempat varian baru ini teridentifikasi, sekitar 39 persen. Sedangkan di Ekuador, replikasi. Terjadinya mutasi ini pun memungkinkan varian Mu menghindari dirinya dari vaksin Covid-19 yang telah kita terima.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

Tidak Ada Alasan, KITB Lamban

Minggu, 25 September 2022 | 12:07 WIB

Seriuskah Kawasan Industri Terpadu Batang?

Sabtu, 17 September 2022 | 08:43 WIB

Jokowi Ngamuk Lagi, Karena Ulah Imigrasi

Rabu, 14 September 2022 | 07:31 WIB

Menjaga Relasi, Memupuk Kolaborasi

Rabu, 14 September 2022 | 01:34 WIB

Kenaikan Harga BBM, Solusi atau Beban untuk Masyarakat?

Senin, 12 September 2022 | 08:48 WIB

Mungkinkah Kenaikan BBM Direvisi ?

Kamis, 8 September 2022 | 08:56 WIB

Jangan Ada Lagi Politik Identitas dan Politisasi Agama

Minggu, 21 Agustus 2022 | 21:32 WIB

RUU KIA dan Peran Negara untuk Perempuan

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 10:05 WIB

Kiai NU dan Kretek

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:26 WIB

Mengapa BUMN Membentuk Holding?

Minggu, 17 Juli 2022 | 08:38 WIB

Pancasila dan Ancaman Pengasong Khilafah

Jumat, 8 Juli 2022 | 13:46 WIB

Pemuda Pancasila dan Rumah Kemartabatan

Kamis, 7 Juli 2022 | 23:18 WIB

Mencari Format Ideal Penjabat Kepala Daerah

Rabu, 6 Juli 2022 | 22:12 WIB

Keragaman Lebah, Pangan dan Manusia

Minggu, 22 Mei 2022 | 22:18 WIB

Buku dan Literasi Indonesia

Selasa, 17 Mei 2022 | 18:38 WIB

Semarang Menuju Kota Megapolitan

Selasa, 10 Mei 2022 | 15:51 WIB
X