Ketenangan Atasi Long Covid-19

Red
- Jumat, 10 September 2021 | 00:20 WIB
SM/Dok
SM/Dok

Oleh Muchlis Achsan Udji Sofro

LONG Covid-19 atau dikenal dengan istilah sindroma pasca-Covid-19 adalah kondisi di mana gejala masih menetap selama 4-12 minggu (akut) atau lebih dari 12 minggu (kronik) sejak awal Covid-19. Gejala yang terjadi bisa sama dengan saat terinfeksi ataupun ada gejala baru yang bervariasi.

Fenomena Long Covid-19 bukanlah hal baru. Fenomena ini sudah mulai terdeteksi dan diteliti sejak awal masa pandemi. Bahkan WHO pada September 2020 menyatakan bahwa 35% pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19 mengaku tidak kembali ke kondisi fisik optimalnya. Dari penelitian tersebut, kelompok usia 18-24 tahun dengan kondisi yang tidak memiliki komorbid, 1 dari 5 pasien mengalami Long Covid-19.

Seberapa banyak orang mengalaminya? Data dari Inggris menunjukkan 13,7% dari 20.000 partisipan yang terinfeksi Covid- 19 mengalami gejala lanjutan selama minimal 12 minggu. Di Indonesia, data dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menunjukkan angka yang cukup tinggi, yakni 63,5% dari 463 pasien Covid- 19 mengalami Long Covid- 19.

Tentu tidak semua orang akan mengalami fenomena ini. Terdapat beberapa faktor risiko, di antaranya perempuan lebih berisiko dibandingkan laki-laki, usia di atas 50 tahun berisiko lebih tinggi, namun faktor usia ini masih belum ada hasil yang konklusif karena ada penelitian yang menunjukkan bahwa pasien dengan usia di atas 70 memiliki tingkat pemulihan yang lebih baik.

Kondisi pada saat terinfeksi Covid-19 juga dapat memengaruhi, apabila terdapat lebih dari lima gejala (terutama kelelahan, nyeri kepala, sesak napas, suara serak, nyeri otot) pada saat terinfeksi Covid-19 dan membutuhkan perawatan di rumah sakit, maka risiko mengalami Long Covid-19 semakin tinggi. Etnis kulit putih juga memiliki risiko lebih tinggi. Apabila terdapat lebih dari dua komorbid (darah tinggi, kencing manis, penyakit bawaan) maka memiliki risiko yang lebih tinggi. Yang tidak kalah penting, indeks massa tubuh yang tinggi, terutama di atas 30 kg/m2 atau obesitas (kegemukan) berisiko lebih tinggi.

Beberapa hipotesis berusaha menjawab mengapa fenomena ini dapat terjadi. Gangguan pada saluran pencernaan pada Long Covid-19 diduga karena tingginya zat sitokin dalam tubuh yang menyebabkan perubahan bakteri di usus. Sementara keluhan kelelahan yang terjadi diduga akibat gangguan fungsi mitokondria sel yang berperan penting dalam menghasilkan energi.

Selain itu, juga disebabkan beberapa kondisi seperti asidosis laktat (kondisi penumpukan asam laktat di tubuh) dan peningkatan sitokin. Sementara itu, gangguan pembekuan darah yang terjadi pada Long Covid-19 diduga akibat virus yang memicu ekspresi genetik yang menyebabkan aktivitas berlebihan keping darah yang berperan dalam pembekuan darah.

Protein virus korona ini juga bersifat neuroinvasif dan memiliki kemampuan untuk menyerang sistem saraf pusat manusia. Kemampuan neuroinvasi tersebut memicu peradangan pada sistem saraf pusat sehingga timbul gejala sistemik (menyeluruh). Pada otak terdapat suatu pelindung yang disebut sawar darah otak yang umumnya sulit untuk ditembus, namun akibat adanya sitokin yang memicu peradangan menyebabkan virus dapat menembus sawar darah otak dan menyebabkan gejala sistemik.

Halaman:

Editor: Imron Rosadi

Tags

Terkini

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB

Aksi Kita adalah Masa Depan Kita

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 21:36 WIB

Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 5 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Aspek Hukum Arisan Online

Jumat, 24 September 2021 | 00:30 WIB

Mengganti Beban Pembiayaan BLBI

Jumat, 24 September 2021 | 00:10 WIB

Antusiasme Menyambut Kompetisi Liga 3

Jumat, 24 September 2021 | 00:00 WIB

Memindai Cermin Kota Kudus

Kamis, 23 September 2021 | 11:36 WIB

Indonesia Diuji dalam Ketegangan AUKUS

Kamis, 23 September 2021 | 01:28 WIB

Mewujudkan Sekolah Tatap Muka Aman

Kamis, 23 September 2021 | 01:25 WIB

Keterampilan dan Kompetensi Abad 21

Kamis, 23 September 2021 | 01:16 WIB

Maksimalkan Efektivitas Blended Learning

Rabu, 22 September 2021 | 01:11 WIB

Gernas BBI Jangan Hanya Seremonial

Rabu, 22 September 2021 | 01:08 WIB

Mahasiswa Merdeka

Rabu, 22 September 2021 | 01:03 WIB

Penguatan Imunitas Usaha Koperasi

Selasa, 21 September 2021 | 00:32 WIB
X