Ganjar-Puan dan Elektabilitas Politik

Red
- Kamis, 2 September 2021 | 04:40 WIB
Karyudi Sutajah Putra
Karyudi Sutajah Putra

Hasil survei Indostrategic, 23 Maret-1 Juni 2021, misalnya, menempatkan Ganjar di urutan ke-3 capres 2024 dengan angka 8,1 persen, di bawah Menteri Pertahanan yang juga Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (17,5 persen) dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (17 persen). Sementara Puan ada di posisi ke-12 dengan angka 0,6 persen. Hasil survei Litbang Kompas, elektabilitas Prabowo 16,4 persen, Anies 10 persen, dan Ganjar 7,3 persen.

Hasil survei Voxpol Center bahkan menempatkan Ganjar Prabowo sebagai kandidat capres yang memiliki elektabilitas tertinggi, yakni 19,2 persen.

Ganjar mengungguli Prabowo (18,9 persen). Sementara posisi ketiga dan keempat masing-masing ditempati Anies (14,1 persen) dan Sandiaga Uno (8,3 persen). Nama Puan tidak masuk. Di kalangan milenial, Ganjar juga diunggulkan.

Hasil survei Center for Political Communication Studies (CPCS) menunjukkan pemilih milenial dan Gen Z dikuasai Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Elektabilitas Ganjar bertengger di angka 17,7 persen, ditempel RK (16,0 persen). Menyusul Prabowo (12,8 persen), Anies (7,6 persen), dan Agus Harimurti Yudhoyono (7,3 persen). Maka masuk akal bila kemudian baliho Puan bertebaran di manamana untuk mendongkrak elektabilitasnya.

Elite-elite PDIP yakin, elektabilitas Puan akan segera terkerek. Sayangnya, keyakinan itu tak paralel dengan fakta di lapangan. Baliho Puan menjadi sasaran vandalisme.

Alkisah, ketika mencuci pakaian keluarga di sungai, pekerjaan rutinnya sehari-hari, tak sengaja selendang ibu tirinya hanyut. Bawang Putih pun mencarinya ke sepanjang aliran sungai itu, hingga sampailah ia di sebuah gua.

Di dalam gua itu, Bawang Putih bertemu seorang nenek tua yang kemudian menawarinya dua labu sebagai hadiah karena telah membantunya bekerja. Namun Bawang Putih memilih labu yang kecil. Sesampai di rumah, ketika labu itu dipecahkan oleh sang ibu yang sedang marah karena Bawang Putih terlambat pulang, ternyata isinya perhiasan emas berkilauan.

Demi mendapat emas, Bawang Merah pun mengikut jejak Bawang Putih. Ia sengaja menghanyutkan selendang ibunya saat mencuci pakaian yang seumur-umur baru dia lakukan.

Ia pun mencarinya sampai ke gua. Di gua, ia bertemu nenek tua yang menawarinya dua labu. Bawang Merah pun memilih labu yang besar yang ia asumsikan lebih banyak isi emasnya.

Sesampai di rumah, ketika dipecahkan, ternyata labu itu berisi ular-ular berbisa. Apakah nenek tua itu bisa dianalogikan sebagai Pemilihan Presiden 2024 di mana Ganjar ibarat Bawang Putih yang akan mendapat labu emas berupa dukungan rakyat?

Halaman:

Editor: Teguh Wirawan

Tags

Terkini

Makna Angka 9 di Hari Jadi Ke–272 Blora

Senin, 6 Desember 2021 | 08:24 WIB

Masker Wahing

Jumat, 3 Desember 2021 | 14:23 WIB

Memperjuangkan Kualitas Pendidikan Dokter

Kamis, 25 November 2021 | 12:39 WIB

Tembang Pagebluk Menyulap Bagong Menjadi Konten Kreator

Selasa, 16 November 2021 | 08:15 WIB

Metamorfosis Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi

Senin, 8 November 2021 | 11:12 WIB

Kebijakan Publik Versus PCR dan Antigen

Minggu, 7 November 2021 | 23:23 WIB

Pangan dan Telur Ayam

Minggu, 7 November 2021 | 15:26 WIB

Negara Hadir Versus Pinjol illegal

Senin, 25 Oktober 2021 | 23:45 WIB

PON 20 Papua Membuka Mata, Telinga dan Hati

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:42 WIB

Kemandirian dan Menjaga Marwah Santri

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 00:10 WIB

Hikmah Covid-19 bagi Kehidupan Santri

Jumat, 22 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Menggerakkan MGMP melalui Spirit 'MGMP'

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:23 WIB
X