Panwas Tegur Petugas TPS Layanan Khusus

- Rabu, 27 Juni 2018 | 20:47 WIB
Foto: Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga Panwaskab Wonosobo, Sumali Ibnu Chamid menegur sejumlah petugas KPPS yang melakukan layanan TPS khusus di RSUD Setjonegoro Wonosobo, Rabu (27/6) siang. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Foto: Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga Panwaskab Wonosobo, Sumali Ibnu Chamid menegur sejumlah petugas KPPS yang melakukan layanan TPS khusus di RSUD Setjonegoro Wonosobo, Rabu (27/6) siang. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten (Panwaskab) Wonosobo menegur sejumlah petugas tempat pemungutan suara (TPS) layanan khusus di Rumah Sakit Umum (RSUD) Setjonegoro Wonosobo, Rabu (27/6) siang. Sejumlah petugas tersebut dinilai ada yang kurang memperhatikan aspek etika, tak mempersiapkan alat pencoblos, serta kurang berkoordinasi dengan pihak rumah sakit tersebut.

Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga Panwaskab Wonosobo, Sumali Ibnu Chamid menyebutkan, saat melakukan pengawasan di TPS layanan khusus tersebut, pihaknya masih mendapati petugas kurang menjaga etika terhadap para pasien.

"Untuk layanan kepada pasien, cara pelayanannya pun harusnya dengan unggah-ungguh, tidak boleh asal masuk," ujar dia.

Pasalnya, pihaknya masih mendapati petugas KPPS, masuk tanpa melakukan koordinasi dengan petugas bangsal rumah sakit tersebut. Bahkan, saat masuk ke kamar pasien, aspek etika ada yang kurang dijaga.

"Harusnya berpamitan terlebih dahulu, kemudian berupaya menjelaskan maksud dan tujuan menemui pasien tersebut, sehingga mereka benar-benar mengetahui maksud dan tujuannya," tutur dia.

Hal itu, kata dia, penting dilakukan, karena pasien rumah sakit tersebut, tentu kondisinya belum tahu seperti apa. Bisa saja ada yang mengalami sakit jantung. Jadi, jika petugas masuk mendadak tanpa berpamitan, takutnya pasien akan kaget. Selain itu, pihaknya menyoroti kekurang telitian petugas membawa keperluan alat pencoblosan, sehingga akan menghambat proses pemilihan. 

"Temuan kami, tadi ada juga petugas yang sudah masuk di ruangan pasien, namun tidak membawa alat untuk mencoblos. Mereka kebingungan mencari alat pencoblos, yakni paku yang merupakan salah satu alat yang dipersyaratkan dalam aturan. Akhirnya mereka malah menggunakan bolpoin untuk mencoblos kartu suara, tentu itu tidak bisa dibenarkan. Mereka kurang teliti mempersiapkan kebutuhan pencoblosan," terang dia.

Harusnya, kata dia, mereka sudah mempersiapkan terlebih dahulu jika ingin melakukan layanan TPS khusus tersebut. Selain itu, ada pula petugas yang langsung masuk ruangan pasien tanpa lebih dahulu berkoordinasi dengan bagian bagsal.

"Tadi juga kami temukan, proses pencoblosan disaksikan petugas. Tentu itu juga mengurangi nilai-nilai Luber-Jurdil. Harusnya saat pasien akan menoblos, petugas memberi kesempatan dengan keluar terlebih dahulu, atau membelakangi pasien," bebernya.

Halaman:

Editor: Adib Auliawan

Tags

Terkini

Tangis Haru Warnai Pelepasan Muaythai ke PON

Minggu, 19 September 2021 | 21:25 WIB

Pecatur Semarang Siap Persembahkan Emas di PON XX Papua

Minggu, 19 September 2021 | 18:42 WIB

Joko Pranawa Adi Pimpin ABTI Jateng Periode 2021-2025

Sabtu, 18 September 2021 | 19:23 WIB

Kejuaraan Berkuda Equestrian Harus Dipacu

Sabtu, 18 September 2021 | 18:35 WIB

Selain Covid 19, Malaria Juga Perlu Diwaspadai Saat PON

Jumat, 17 September 2021 | 21:20 WIB

Atlet Menembak PON Sukses di Kazakhstan

Jumat, 17 September 2021 | 13:51 WIB

PON XX Papua: Adaptasi Venue Jadi Kendala Roller

Kamis, 16 September 2021 | 21:34 WIB
X