Gagal total di Denmark Open 2021, Ini Penjelasan PBSI

- Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:49 WIB
Ilustrasi: Lambang PBSI. (foto :PBSI)
Ilustrasi: Lambang PBSI. (foto :PBSI)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Indonesia tanpa wakil pada final Denmark Open 2021. Dua andalan terakhir, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dan Tommy Sugiarto tumbang pada semifinal, Sabtu (23/10).

Pengurus Pusat Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) menyebutkan faktor utama kekalahan seluruh atlet Pelatnas Cipayung di ajang Denmark Open 2021 lebih dikarenakan kelelahan setelah sebelumnya berlaga di tiga turnamen Eropa.

Manajer tim Denmark Open Aryono Miranat menuturkan banyak pemainnya yang sudah kehabisan energi sehingga tak bisa tampil maksimal dan tersingkir dari seluruh nomor turnamen BWF Super 1000 ini.

Baca Juga: Gerakan Perubahan Iklim, Pepelingasih dan Pemuda Wonosalam Tanam 20 Ribu Pohon di Demak

"Sebelumnya pemain sudah tampil di ajang Piala Sudirman di Finlandia dan Piala Thomas-Uber di Denmark. Tenaga dan stamina tidak cukup untuk kembali tampil maksimal di Denmark Open yang juga melibatkan pemain top dunia," kata Aryo dalam keterangan resmi PBSI di Jakarta, Minggu (24/10).

Selain kelelahan, PBSI juga mendapati dua atlet terbaiknya di sektor tunggal putra mengalami cedera pinggang, yaitu Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie.

Akibat cedera itu, Ginting terpaksa langsung mundur di babak pertama sementara Jonatan mengundurkan diri saat sudah di perempat final.

Baca Juga: Meriahkan Hari Santri Nasional 2021, Mahasiswa KKN RDR Ke-77 UIN Walisongo Adakan Lomba di TPQ Al Firdaus

Aryo menjelaskan cedera yang dialami kedua pemain itu sebenarnya sudah terjadi sejak Piala Thomas, namun keduanya terus memaksakan untuk bermain hingga Denmark Open.

"Ginting dan Jonatan mengalami cedera yang sebenarnya didapat saat tampil di Piala Thomas sebelumnya. Mereka ngotot dan tampil habis-habisan di Piala Thomas karena motivasi untuk juara begitu besar, mengalahkan rasa sakitnya," cerita Aryo.

Tidak hanya pemain utama, Aryo juga menyoroti susunan pelapis yang sudah tampil baik, namun masih kurang pengalaman untuk berlaga di turnamen tingkat atas.

"Pemain pelapis yang baru main di level Super 1000 beberapa ada yang menunjukkan permainan yang baik. Hanya saja, faktor pengalaman bertanding yang masih kurang, mereka pada poin-poin akhir sering terburu-buru dan banyak melakukan kesalahan sendiri," ujar Aryo.

Baca Juga: Pendapatan Kecil, Guru Honorer Dapat Bantuan Subsidi Bangun Rumah

Ia menilai kurang tenangnya permainan atlet pelapis lebih dikarenakan jam terbang yang masih minim.

Namun sisi positifnya adalah dengan mengikuti Denmark Open, mereka bisa menambah pengalaman bertanding.

"Walaupun kalah, hal itu tetap ada sisi positifnya bagi mereka untuk bisa menambah jam terbang dan pengalaman, karena kalahnya oleh pemain-pemain top level dunia," ungkap Aryo.

Sementara bagi pemain yang performanya dirasa kurang berkembang, Aryo akan menyerahkan evaluasinya kepada pelatih masing-masing agar menemukan celah perbaikan sehingga ke depan bisa bermain lebih optimal.

Halaman:
1
2

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Debora Mahasiswi USM Juarai Tunggal Putri UM Open

Sabtu, 25 Desember 2021 | 16:13 WIB

Indonesia Resmi Mundur dari Kejuaraan Dunia 2021

Rabu, 8 Desember 2021 | 09:36 WIB
X