• KANAL BERITA

Kekompakan, Kunci Ngesti Pandawa Bertahan Sampai 81 Tahun

Pemotongan tumpeng milad ke 81 Ngesti Pandawa oleh Prof Dr dr Edi Dharmana kepada  Mona Marina, mewakili keluarga pendiri Ngesti Pandawa. (suaramerdeka.com/Bambang Isti)
Pemotongan tumpeng milad ke 81 Ngesti Pandawa oleh Prof Dr dr Edi Dharmana kepada Mona Marina, mewakili keluarga pendiri Ngesti Pandawa. (suaramerdeka.com/Bambang Isti)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Mempertahankan eksistensi perkumpulan seni tradisional wayang orang di tengah modernisme seperti sekarang ini, sungguh tidak mudah. Tapi hal itu bisa dilalui grup wayang orang (WO) Ngesti Pandawa selama 81 tahun.

Hal itu dikatakan Djoko Mulyono, pimpinan WO Ngesti Pandawa dalam acara peringatan 81 tahun berdirinya grup kesenian wayang orang satu-satunya di Kota Semarang, Minggu (1/7).

"Betapa jatuh bangun serta suka dan duka telah kami lalui sejak zaman penjajahan, masa kemerdekaan, dan saat ini. Sehingga Ngesti Pandawa masih bisa memberi hiburan di masyarakat, sejak berdiri pada hari Kamis Pahing 1 Juli 1937 sampai sekarang. Kuncinya itu hanya satu yaitu kekompakan," lanjut kata Djoko Mulyono.

Kiat lain dari suksesnya mempertahankan Ngesti Pandawa adalah melakukan sejumlah terobosan, agar masyarakat mau menonton wayang orang. "Terobosoan itu misalnya menyajikan cerita yang mudah dicerna dan telah dikenal masyarakat. Juga memperpendek durasi pementasan, juga menyelipkan unsur humor," lanjut Djoko Mulyono.

Menandai peringatan itu adalah pemotongan tumpeng oleh Ketua Yayasan Ngesti Pandawa, Prof Dr dr Edi Dharmana dan Mona Marina, mewakili keluarga salah satu pendiri Ngesti Pandawa Sastro Soedirdjo, disaksikan oleh para anggota grup wayang orang itu. Sebelumnya mereka berziarah ke kompleks makam para pendiri Ngesti Pandawa di TPU Bergota.

WO Ngesti Pandawa didirikan di Madiun Jawa Timur oleh Sastro Sabdo pada 1 Juli 1937. Pada tahun 1954 grup ini mulai menetap ke Semarang sampai sekarang. Sastro Sabdo membangun kelompok ini beberapa seniman lain yakni Sastro Soedirdjo, Koesni, Narto Sabdo, dan Darso Sabdo.


(Bambang Isti/CN40/SM Network)