• KANAL BERITA

Tradisi Bakda Sapi Makin Lestari

Warga menunggang sapi miliknya saat ternak sapi diarak keliling pada acara bakda sapi di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk belum lama ini. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)
Warga menunggang sapi miliknya saat ternak sapi diarak keliling pada acara bakda sapi di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk belum lama ini. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka.com - Masyarakat Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk mempunyai tradisi menarik, yakni Bakda Sapi atau Lebaran sapi. Masyarakat desa itu senantiasa menjaga dan melestarikan tradisi turun-temurun itu hingga era sekarang.

Sejumlah tokoh pemuda desa menggagas untuk mengembangkan tradisi itu menjadi event yang lebih menarik dan membawa Dukuh Mlambong semakin dikenal masyarakat. ‘’Ya, kami berencana mengemas tradisi ini agar menarik lebih banyak pengunjung,’’ kata tokoh pemuda setempat, Jarmaji.

Tradisi yang digelar pada H+7 lebaran selama ini menjadi perhatian masyarakat Desa Sruni. Belakangan, masyarakat lain di wilayah Kecamatan Musuk dan wilayah lain turut meramaikan tradisi tersebut. ‘’Kegiatan ini makin dikenal masyarakat lewat gethok tular dan media sosial (medsos),’’ jelasnya.

Untuk itulah, dia dan para pemuda sepakat agar kegiatan semakin meriah. Pihaknya akan menjalin kerja sama dengan jajaran terkait di Pemkab Boyolali. Antara lain dengan menggelar festival dan kontes ternak sapi.

Tokoh masyarakat Desa Sruni, Hadi Sutarno menyambut positif rencana tersebut. ‘’Kami yang sudah tua- tua ini tentu gembira dengan upaya pemuda untuk mengemas bakda sapi lebih menarik. Silahkan saja, justru ini bisa lebih meramaikan suasana, sekaligus mengenalkan Desa Sruni, Musuk,’’ ujarnya.

Bakda sapi, lanjut dia, adalah acara mengarak hewan ternak sapi keliling kampung. Sapi-sapi itu juga dikalungi ketupat, sebagai simbol Lebaran. Tradisi ini pun menjadi tontonan warga, sehingga suasana semakin meriah.

Bakda Kupat

Tradisi budaya ini merupakan tinggalan dari nenek moyang ini terus kami budayakan dan lestarikan. Acara ini digelar pada Jumat (22/6) pada akhir perayaan Lebaran atau di H + 7, bertepatan dengan kupatan. Oleh masyarakat setempat juga biasa disebut bakda kupat dan bakda sapi.

Dia mengatakan tradisi syawalan atau bakda kupat warga membawa hewan ternak keliling dukuh, karena pada hari itu Nabi Sulaiman memeriksa hewan-hewan ternak milik warga. ‘’Sehingga warga pun mengeluarkan sapi dari kandang dan dibawa keliling,’’ tambahnya.

Tradisi diawali dengan kenduri menggunakan ketupat berikut sayur dan lauk. Ratusan warga dari 4 RT di Dukuh Mlambong, Rejosari dan Gedongsari mengikuti kenduri di jalan dukuh setempat. Setelah kenduri, warga kemudian membawa sapi-sapi keliling dukuh. Selain sapi, ada pula kambing. Bahkan ada pula ternak sapi dicat warna- warni.

Sebuah gunungan besar ketupat dan sayuran hasil bumi ikut diarak. Kesenian tradisional juga turut dalam arak-arakan. Tradisi arak-arakan sapi disebuah desa di lereng Gunung Merapi sisi timur ini pun menjadi tontonan warga dari berbagai daerah.


(Joko Murdowo/CN40/SM Network)