• KANAL BERITA

Rencana Blacklist Importir Nakal Didukung

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Langkah Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan blacklist kepada lima importir bawang bombai yang tidak sesuai aturan didukung DPR RI. Apalagi menyusul kabar, bawang bombai yang berukuran kecil itu rencananya dipasarkan sebagai bawang merah.

''Ini tentu saja merugikan petani bawang merah kita. Karena bawang impor imitasi itu harganya jauh lebih murah, jadinya petani kita tidak mampu bersaing secara harga,'' kata Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan, Minggu (24/6).

Menurutnya, bawang hasil petani lokal tidak laku. Karenanya, kata Taufik, Pemerintah harus ambil langkah tegas. Dia berpendapat, tindakan blacklist dari Kementan itu sebagai bentuk perlindungan kepada petani lokal dan konsumen.

''Kalau bisa, jangan hanya blacklist, tapi ambil tindakan hukum” tegas Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Dia juga menambahkan, bawang bombai berukuran kecil itu berpotensi mengelabui konsumen. Karena bentuknya menyerupai bawang merah lokal. Ke depannya, ia meminta Kementan untuk lebih meningkatkan pengawasan kepada importir. Selain itu, ia mendorong Kementan untuk memberikan perhatian lebih serius kepada petani bawang lokal.

“Masyarakat kita jangan sampai dirugikan. Selain itu, Kementan juga harus memperhatikan lebih serius petani bawang kita, dan mendorong untuk meningkatkan produksi, sehingga bisa memenuhi kebutuhan bawang secara nasional,” anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah ini.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan ada lima importir bawang bombai yang akan dikenakan sanksi blacklist karena diduga memasukkan bawang bombai yang tidak sesuai ketentuan. Kelima importir itu antara lain PT TAU, PT SMA, PT KAS, PT FMP dan PT JS.

Menurut Amran, setidaknya ada total 10 importir yang melanggar ketentuan tersebut dan sedang diperiksa pihak berwajib. Mentan Amran mengatakan bahwa masuknya bawang merah imitasi ini bisa merusak pasaran harga bawang merah di pasar. Sehingga, para petani tidak akan mampu bersaing dengan bawang merah imitasi impor tadi.

“Kalau misalnya bawang bombai diimpor dengan harga R 2 ribu per kilogram, harusnya dijual paling di kisaran harga Rp 6 ribu per kilogram. Ini kan mereka membrandingnya sebagai bawang merah, pasti mereka jualnya di kisaran harga Rp 10 sampai Rp 20 ribu per kilogram," kata Amran di Kementan, Jumat (22/6/2018).


(Mahendra Bungalan/CN39/SM Network)