• KANAL BERITA

Bangkit Bersama Koperasi, Anggota Melek Teknologi

DARI LUAR JAWA : Bahan baku berasal dari luar Jawa di terminal rotan yang dikelola KSU Trangsan Manunggal Jaya di Klaster Rotan Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo. (suaramerdeka.com / Asep Abdullah)
DARI LUAR JAWA : Bahan baku berasal dari luar Jawa di terminal rotan yang dikelola KSU Trangsan Manunggal Jaya di Klaster Rotan Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo. (suaramerdeka.com / Asep Abdullah)

SEMERBAK  aroma khas rotan samar-samar tercium. Suara alat produksi yang berasal dari berbagai sudut rumah, terdengar seirama. Pun tumpukan bahan baku hingga barang yang selesai dikerjakan, terlihat di dalam rumah saat perlahan memasuki perkampungan mebel rotan berkualitas ekspor itu.

Di antaranya tampak di salah satu rumah produksi milik Sardjito. Di rumah pegiat koperasi yang sudah 40 tahun menggeluti kerajinan rotan di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo itu, bahan baku rotan, tertata rapi. Sama rapinya dengan tumpukan rotan yang tersimpan tidak jauh dari rumahnya di Terminal Bahan Baku yang dikelola Koperasi Serba Usaha (KSU) Trangsan Manunggal Jaya. Sembari menghela nafas panjang, pria 60 tahun itu menceritakan lika-liku usahanya yang sempat dihantam gejolak ekonomi global pada 2006. “Saat itu, banyak perajin rotan gulung tikar,” celetuknya.

Perlahan tetapi pasti, menurut salah satu inisiator terbentuknya koperasi itu, usaha perajin berkualitas ekspor yang sempat “mati suri”, mulai bertumbuh. Tepatnya sejak Februari 2007, saat koperasi resmi mendapatkan badan hukum bernomor 518/138/BH/II/2007. Bahkan lanjut pria yang belum lama ini dipercaya mengerjakan kursi rotan untuk tamu VIP ijab qabul putri Presiden Indonesia, Joko Widodo itu, koperasi penyambung nafas. “Selain itu, di koperasi belajar berteknologi. Di antaranya manfaatkan internet untuk pemasaran online. Sebelumnya, saya tidak tahu caranya jualan lewat online,” tutur dia.

Bagi dia yang sudah “sepuh” karena genap 60 tahun, menyelami teknologi serba internet, bukan perkara mudah. Dia membutuhkan berbulan-bulan agar bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Namun saat ini dia begitu lincah memanfaatkan kecanggihan ponsel android untuk menunjang pemasaran produk industri rumahannya yang di ekspor ke Belanda, Perancis dan Italia. Bahkan lanjut dia, koperasi sejak bertahun-tahun ini mendorong anggotanya memanfaatkan teknologi. “Misalnya saya nih, ada produk yang  selesai dikerjakan, saya foto kemudian share lewat jejaring jual beli online. Alhamdulillah sering ada yang order lewat situ,” ungkap dia yang memilki enam pekerja di rumahnya.

Produk Jadi Lebih Bervariatif

Perajin rotan rumahan lainnya, Supriyadi mengaku beruntung usahanya yang dibuka setelah krisis ekonomi global dan berbarengan dengan terbentuknya KSU Trangsan Manunggal Jaya itu. Anggota  KSU termuda berusia 38 tahun itu, mengaku adanya koperasi menambah optimisme. Apalagi dia mengawali usaha kerajinan rotan dari tukang amplas dan anyam pada 2004 hingga 2006 lalu dengan ikut perajin lain. Adapun 2007 dia memberanikan diri untuk mandiri dengan membuka usaha barunya. “Berkat bimbingan perajin senior di koperasi, bisa melewati masa ketidakstabilan saat itu,” tutur dia.

Di dalam koperasi lanjut pria yang saat ini memiliki empat pegawai itu, tidak hanya sekedar menggugurkan kewajibannya sebagai anggota melalui simpanan pokok dan wajib. Tetapi pada tahun-tahun pertama membuka usaha kerajinan rotan, dia mendapatkan pendampingan. Bahkan dia sering memanfaatkan fasilitas koperasi. Diantaranya membeli bahan baku rotan yang harganya lebih murah Rp 1.500/kg dibandingkan membeli ke distributor lain. “Apalagi saat orderan banyak, kemudian modal kurang, bisa meminjam bahan baku rotan. Bayarnya setelah orderan dibayar oleh pembeli,” paparnya.

Tidak berhenti sampai di situ, menurut Supriyadi prinsip dari anggota untuk anggota dirasakannya. Saat koperasi mendapatkan order di pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2016 dan 2017 di Jakarta, dia dipercaya ikut mengerjakan barang yang dipesan pembeli dari Uni Emirat Arab, Spanyol dan Afrika Selatan. Dikatakan, dalam pengambilan keputusan untuk menetapkan siapa anggota yang mampu menyelesaikan, dilakukanlah musyawarah. “Melalui prinsip terbuka membuat saya betah. Bahkan ada pertemuan rutin, sehinga antar perajin bisa berkomunikasi dan tukar informasi. Termasuk didorong kreatif, agar produk bervariatif, sehingga lebih kekinianlah,” tuturnya.

Mencari Buyer untuk Anggota

Ketua KSU Manunggal Jaya, Suparji menerangkan, sebenarnya jauh sebelum 2007 sempat ada koperasi di kerajinan rotan di Desa Trangsan yang dikelola perajin lain. Namun karena tidak dilandasi dengan kejujuran, koperasi dan anggotanya rontok. Puncaknya saat krisis global yang melanda di Eropa, sehingga perajin ikut terdampak karana orderan dari luar negeri menyusut drastis. Mengingat kerajinan rotan yang sebagian besar usaha kecil dan menengah (UKM) itu, 80 persen produknya diminati eksporir. “Kami berembuk membuat koperasi lagi. Ya asalkan jujur dan ikhlas,” terang dia.

Apa yang dicita-citakan perlahan terwujud. Menurut Suparji yang juga perajin mebel rotan itu, beberapa bulan dihantam dihantam krisis, anggota berbenah bersama-sama melalui koperasi. Bahkan tidak hanya itu, koperasi juga “mengusir” pembeli nakal yang diketahui mengadu domba antar perajin sehingga mengakibatkan perang harga dan menurunnya kualitas. Meskipun tahun pertama hanya 22 perajin yang tergabung, tetapi menjadi angin segar. “Saat kondisi tidak stabil, banyak buyer yang masuk kampung. Akhirnya buyer nakal itu pergi, karena membeli lewat satu pintu koperasi,” jelas dia.

Bahkan untuk menguatkan kerajinan rotan lanjut dia, pada 2007-2009 dirancang pembentukan klaster atau paguyuban. Saat itu didampingi Kementerian Koperasi dan UKM, Bank Indonesia, Pemkab serta NGO dari Jerman. Dia mengaku kehadiran klaster mengokokohkan perajin dan koperasi. Puncaknya pada 2014 dibuatlah terminal bahan baku yang dikelola koperasi. “Karena yang dibutuhkan anggota adalah bahan baku, kami putar otak akhirnya wujudkan terminal. Koperasi hanya punya Rp 50 juta, dibantu sama BI Rp 70 juta. Saat itu sewa gedung, kan belum punya bangunan terminal,” ungkapnya.

Dikatakan, untuk masuk ke koperasi perajin menyetor simpanan pokok Rp 750 ribu. Sementara simpanan wajib Rp 25 ribu per bulan. Namun sebenarnya kata dia, yang difokuskan di dalam koperasi produksi itu bagaimana membangkitkan usaha setelah dihantam krisis, menghidupkan mereka yang “mati suri” melalui terminal bahan baku berasal dari rotan di Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera itu, hingga mencari pembeli untuk anggota pada era dengan tantangan zaman yang semakin kompleks. “Kerja keras kami bertahun-tahun membuahkan hasil usai ikut pameran di IFEX Jakarta. Pada 2016-2017 kami (koperasi) mendapat banyak orderan. Anggota juga gencar jualan lewat online,” kata dia.

Dia menceritakan, 2016 KSU mendapatkan order dari buyer asal Uni Emirat Arab sebanyak dua kontainer dan Spanyol empat kontainer. Prestasi berlanjut, pada IFEX 2017 mendapat order dari Spanyol lagi dua kontainer. Bahkan di tahun yang sama mendapatkan oder dari Afrika Selatan lima kontainer. Yakni berupa kursi, meja hingga alat rumah tangga lain. Dalam keputusan siapa yang mengerjakan pesanan, dilakukan musyawarah mufakat. "Jadi selain mengamankan bahan baku, dari order itu bisa merasakan manfaat. Belum lagi masih ada sisa hasil usaha (SHU). Dari keterbukaan ini perajin yang pernah tersakiti saat masuk koperasi sebelum KSU berdiri, mulai percaya dengan peran koperasi,” terangnya.

Dia menambahkan, untuk menyikapi perkembangan zaman di antaranya karena globalisasi internet beberapa tahun ini perajin mendapatkan pelatihan khusus bersama dinas. Misalnya pemanfaatan teknologi, perajin sudah akrab dengan internet untuk berjualan online. Sebelumnya hanya menggunakan brosur dan getok tular (dari mulut ke mulut). Bahkan perajin-perajin muda yang muncul diajak bergabung untuk mengembangkan mebel rotan melalui koperasi dan klaster. “Pun akhir-akhir ini lahir produk baru yang diciptakan jadi barang kreatif. Misalnya perpaduan antara akar jati dengan rotan, karena banyak diminati anak muda yang membuka warung kopi dan rumah makan,” ujar dia.

Paket Wisata Latih Anak Muda

Ketua Klaster Mebel Rotan Trangsan, Mujiman membenarkan, KSU Trangsan Manunggal Jaya telah membangkitkan geliat perajin yang terpuruk. Bersama koperasi, dia berharap bisa mengembalikan kejayaan tahun 1990. Saat itu kerajinan rotan Trangsan tidak hanya mewarnai pasar di Eropa, Amerika dan Afrika. Tetapi menjadi penopang hidup bagi 8.000 pekerja dan 400 perajin berskala kecil hingga menengah atas. “Jadi 2006/2007 tinggal 110 pekerja dan 85 perajin. Beberapa tahun ini tumbuh jadi 200-an perajin dengan rata-rata mengirim 80 kontainer ke pasar ekspor, di antaranya Eropa,” jelas dia.

Dia memaparkan selama ini antara koperasi dengan klaster saling mendukung. Beruntung pada 2016 mendapatkan bangunan baru terminal bahan baku dari BI yang sebelumnya menyewa. Tidak berhenti, juga ada suntikan bantuan berupa alat-alat produksi dari anggota DPR sebanyak 60 paket dengan harga ratusan juta. Namun diutamakan untuk anggota koperasi yang memang tengah bangkit dan berlari agar berkembang. “Baik itu kompresor, bor hingga steples tembak. Kan dulu yang gulung tikar, ada yang barang untuk produksi dijual untuk bertahan hidup. Kini mereka bangkit kembali,” paparnya.

Selain itu menurut dia, beberapa tahun ini juga mengukuhkan Desa Trangsan menjadi kawasan wisata kreatif. Yakni ditandai gelaran Grebeg Penjalin. Kegiatan yang diikuti ribuan orang baik dari perajin, masyarakat dan elemen muda-mudi, berusaha membangkitkan semangat menggunakan produk dalam negeri berupa rotan. Serta mengenalkan kreasi-kreasi baru mebel rotan kekinian sesuai dengan perkembangan zaman. “Ada juga paket wisata yang kami kembangkan bersama koperasi, diantaranya praktek membuat anyaman rotan untuk anak-anak muda, agar tertarik pada kerajinan itu,” terang dia.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Sukoharjo Sutarmo menambahkan, agar tidak ketinggalan karena perkembangan zaman yang serba internet, anggota koperasi di Kota Makmur (sebutan Sukoharjo) diberikan pelatihan secara kontinyu. Di antaranya tata cara pengelolaan manajemen yang kekinian, pelatihan model yang lebih kreatif, pendampingan hingga pemasaran lewat online. “Ada 474 koperasi. Salah satunya di pusat UKM mebel rotan Trangsan. Karena serba internet, kami dorong memanfaatkan teknologi demi usahanya. Misalnya rajin jualan lewat online. Termasuk pelatihan manajemen design yang lebih segar dan inovatif lagi,” ungkapnya.

Meskipun mebel Trangsan lebih tersohor di luar negeri, menurut dia, pasar domestik harus digarap dengan maksimal. Diantaranya melalui jaringan bisnis berbasis internet. Apalagi di Indonesia saat ini tercatat ada 132,7 juta orang pengguna internet. Sementara 92 juta orang itu pengguna ponsel pintar. Selain memanfaatkan jaringan online yang dibangun pelaku UKM sendiri, pemerintah memfasilitasi. Salah satunya lewat website http://sadewamarket.cyberumkm.com untuk berjualan. “Pelaku UKM di dalam koperasi kami upgrade lewat pelatihan, agar mereka bisa melaju kencang. Mereka bisa berjualan dan mengembangkan usahanya tanpa batas lewat internet,” harap dia.


(Asep Abdullah/CN26/SM Network)