• KANAL BERITA

Rupiah dan IHSG Masih Terancam

Foto Istimewa
Foto Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Seluruh mata uang pasar berkembang terpukul telak oleh Dolar AS yang menguat secara umum.

Situasi perdagangan yang semakin tegang antara Amerika Serikat dan China ditengarai menambah kegelisahan pasar dan memperburuk situasi untuk pasar berkembang. 

"Prospek kenaikan suku bunga AS dapat memicu kekhawatiran mengenai arus keluar modal dari pasar berkembang, namun masalah perdagangan global juga menjadi risiko besar. Ketegangan perdagangan dapat menimbulkan kekhawatiran pada memburuknya proteksionisme global yang berdampak negatif pada pertumbuhan pasar berkembang. Karena itu, mata uang dan saham pasar berkembang dapat semakin melemah, " jelas Research Analyst FXTM Lukman Otunuga, Rabu (20/6).

Menurutnya, Rupiah terancam terus melemah pekan ini karena masalah perdagangan menggerus selera pada mata uang berisiko.

"Pasar akan memantau apakah apresiasi Dolar membuat nilai tukar Rupiah bergerak menuju 13950. Rupiah berpotensi melemah pekan ini apabila Dolar terus menguat dan sentimen risiko memburuk karena situasi perdagangan global," cetusnya. 

Lukman juga mencermati ancaman terbaru Donald Trump untuk memberlakukan tarif baru terhadap China. Hal ini dinilainya membuat pasar finansial bergejolak dan investor pun waspada.

"Trump membuat perkembangan mengejutkan dengan menyampaikan rencananya untuk memberlakukan tarif pada barang China senilai 200 miliar dolar AS lagi. Tindakan yang tak diharapkan ini dapat memperburuk hubungan perdagangan AS-China dan memicu kekhawatiran terjadinya perang perdagangan global. Ketegangan antara dua negara adidaya ini membuat pasar berhati-hati. Saham global melemah karena keadaan ini. Perang perdagangan yang saling balas ancam dan semakin memburuk ini sangat mengancam stabilitas internasional. Oleh sebab itu, investor mungkin akan melepas aset berisiko dan beralih pada investasi safe haven," paparnya. 

Selain itu, tambahnya, selera risiko menurun karena ketegangan AS-China dan harga minyak pun melemah.

Minat pasar terhadap minyak semakin berkurang karena ekspektasi bahwa OPEC dan Rusia akan mengurangi pembatasan produksi untuk mengimbangi penurunan produksi Venezuela serta gangguan produksi di Iran. "Walaupun peningkatan produksi ini sepertinya telah tergambar pada harga, namun minyak tetap berisiko terus menurun apabila rapat OPEC Jumat ini di Wina tidak menghasilkan terobosan. Perlu diingat bahwa Iran, Venezuela, dan Irak diperkirakan akan menolak keputusan Arab Saudi dan Rusia untuk meningkatkan produksi. Perselisihan antar anggota kartel dalam diskusi ini dapat memicu kekhawatiran mengenai masa depan kesepakatan pemangkasan produksi OPEC, " ungkapnya. 

Minyak mentah WTI saat ini bearish di grafik harian. Harga melintas ke bawah 65.00 dolar AS per barel pada sore Rabu (20/6). Penurunan berulang kali di bawah level ini dapat membuat bears membidik 64.30 dolar AS kemudian 64.00 dolar AS. 

Untuk komoditas emas, Lukman menilai emas akan terperosok walaupun situasi perdagangan yang semakin tegang telah menimbulkan kewaspadaan di pasar finansial dan di kalangan investor.

"Faktor utama yang memengaruhi penurunan harga emas adalah apresiasi Dolar AS," tambahnya. 

Emas terancam semakin melemah karena Dolar sepertinya tetap akan menguat dengan sentimen bullish terhadap ekonomi AS dan peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga AS. 

"Memang ada argumen bahwa logam mulia ini berpotensi memantul didukung oleh ketegangan dagang dan ketidakpastian geopolitik, namun apresiasi Dolar dapat terus menghalangi kenaikan harga emas" ujar Lukman. 

Dari sisi teknis, emas tetap tertekan pada kerangka waktu mingguan. Jika emas terus melemah di bawah 1280 dolar AS maka ini dapat menjadi indikasi awal bahwa bears kembali berkuasa. Level support sebelumnya di sekitar level ini dapat berubah menjadi resistance dinamis yang membuka jalan menuju 1264 dolar AS.


(Kartika Runiasari/CN19/SM Network)