• KANAL BERITA

Menyemai Empati di Tengah Bencana yang Terus Membayangi

TEROBOS GENANGAN: Warga menerobos genangan rob yang menutup Jalan Kusuma Bangsa, Kota Pekalongan. (suaramerdeka.com / Isnawati)
TEROBOS GENANGAN: Warga menerobos genangan rob yang menutup Jalan Kusuma Bangsa, Kota Pekalongan. (suaramerdeka.com / Isnawati)

SEMBARI  menggendong cucunya, Sumiati (55) sesekali menengok jalan di depan rumahnya, di RT 2/ RW 13 Salam Manis, Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Kamis (14/6) sore. Pandangannya menyapu seluruh permukaan jalan dan berhenti pada genangan rob yang menutup jalan tak jauh dari rumahnya. Sumiati khawatir jika rob besar kembali menerjang lingkungan tempat tinggalnya. “Kemarin ada kabar kalau akan terjadi banjir rob yang besar lagi,” kata Sumiati sembari masuk ke dalam rumah.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Mas Semarang, pada tanggal 16 hingga 17 Juni di Pantura Jawa Tengah meliputi Semarang, Pemalang, Batang, Pekalongan dan Tegal, pasang air laut dapat mencapai satu meter sampai 1,1 meter pada pukul 11.00 hingga 15.00 dan surut pada pukul 19.00 hingga pukul 24.00. Informasi tersebut bersumber dari prakiraan pasang surut perhitungan Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal). Sementara prakiraan tinggi gelombang dari BMKG, pada tanggal 16 dan 17 Juni akan mencapai 1,25 meter hingga 2,5 meter.

Kelurahan Kandang Panjang merupakan salah satu kelurahan yang sering dilanda rob. Rob datang hampir setiap hari dan terus membayangi kehidupan warga. Biasanya, rob datang pada sore hari. Meskipun sudah terbiasa menghadapi rob, namun bencana rob yang menerjang lingkungan tempat tinggalnya pada 22 Mei lalu, masih menyisakan trauma. Sumiati ingat betul peristiwa itu.

“Kondisi saat itu sangat mencekam. Lingkungan sini seperti lautan. Rumah-rumah tergenang. Banyak lansia yang harus diungsikan karena rumahnya tergenang air hingga perut. Itu rob paling besar yang pernah terjadi,” kenang Sumiati.

Banjir rob yang terjadi malam itu memaksa warga mengungsi di sejumlah lokasi, sehingga warga harus menjalani aktivitas di Bulan Ramadan di pengungsian. Terpisah, Sulistya (26), warga Kelurahan Panjang Baru, Kecamatan Pekalongan Utara juga mengaku masih trauma dengan rob yang terjadi pada Mei lalu. Ia tidak ingin kejadian serupa terjadi lagi. “Itu rob yang paling besar. Lebih besar dari rob yang terjadi pada Desember tahun lalu. Hampir semua wilayah tertutup air,” terangnya.

Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas warga pada Bulan Ramadan terganggu. “Tarawih tidak bisa karena mushala yang paling tinggi pun tergenang rob. Dan warga harus bersantap sahur di tengah rob,” sambungnya.

Tercatat ada sembilan kelurahan terdampak rob. Tujuh kelurahan di Kecamatan Pekalongan Utara dan dua kelurahan di Kecamatan Pekalongan Barat. Luas wilayah yang tergenang rob mencapai 1.054,93 hektare atau 60,29 persen dari luas sembilan kelurahan tersebut. Ketinggian air antara 30 sentimeter hingga 90 sentimeter.

Warga terdampak rob mencapai 18.742 kepala keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, 2.478 jiwa di antaranya terpaksa mengungsi karena  rumah mereka tidak bisa ditinggali akibat tergenang rob cukup tinggi. Lokasi pengungsian tersebar di 19 lokasi. Di antaranya Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Panjang Wetan, Aula Kecamatan Pekalongan Utara, Gedung Kesenian dan Olahraga (GOR) Jetayu, Aula Kelurahan Kandang Panjang dan Aula Kelurahan Bandengan.

Dua hari setelah kejadian, Wali Kota Pekalongan Mochammad Saelany Machfudz menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari. Pemkot Pekalongan kemudian mendirikan Posko Dapur Umum di halaman GOR Jetayu untuk menyuplai makanan bagi warga yang mengungsi. “Sisa dana tak terduga tidak banyak. Namun diharapkan bisa membantu masyarakat terdampak rob,” terangnya, saat itu.

Empati

Rob yang menerjang sejumlah kelurahan di Kota Pekalongan menyemai empati dan solidaritas untuk membantu sesama. Selama masa tanggap darurat, warga secara berkelompok maupun perorangan bergerak menunjukkan empati mereka kepada warga terdampak rob. Mereka mengumpulkan bantuan untuk disalurkan ke Posko Dapur Umum.

Sementara sebagian kelompok masyarakat lainnya memilih menyalurkan bantuan langsung kepada warga terdampak rob yang bertahan di rumah-rumah. Seperti yang dilakukan organisasi kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Pekalongan. Bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kota Pekalongan, ACT Kota Pekalongan turun ke lokasi terdampak rob dan membagikan ratusan nasi kotak untuk buka puasa dan sahur.

Mereka juga membagikan paket logistik berisi gula, mie instan, susu, teh, bumbu dapur, air mineral, biskuit, obat-obatan, selimut, dan kebutuhan bayi. Paket logistik tersebut didistribusikan kepada warga terdampak rob di Kelurahan Bandengan, Padukuhankraton, Panjang Wetan, dan Panjang Baru.

Koordinator ACT Kota Pekalongan Abdillah mengatakan, selama rob menggenangi sejumlah kelurahan, pihaknya beberapa kali menyalurkan makanan siap santap maupun bantuan logistik. Harapannya, dapat membantu meringankan beban warga yang dilanda bencana. "ACT insya Allah dengan sigap akan terus berusaha membantu warga yang terkena musibah," kata Abdillah.

Menurut Abdillah, saat rob menerjang sejumlah kelurahan pada 22 Mei lalu, ACT Kota Pekalongan juga turut membantu mengevakuasi warga yang terjebak rob di Kelurahan Panjang Wetan dan Bandengan. “Karena jumlah perahu terbatas, tim ACT Kota Pekalongan door to door memapah dan menggendong warga lanjut usia, kemudian diangkut menggunakan mobil pick up ke posko pengungsian terdekat,” sambungnya.

ACT Kota Pekalongan hanya sebagian dari masyarakat yang berempati kepada warga yang terkena musibah rob. Empati serupa juga ditunjukkan siswa dari beberapa sekolah dengan menyerahkan bantuan kepada warga terdampak rob melalui Posko Dapur Umum di GOR Jetayu, serta Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Pekalongan dan kelompok masyarakat lainnya.

Kegiatan filantropi yang digerakkan berbagai kelompok masyarakat itu menebarkan asa bagi warga terdampak rob. Di tengah keterbatasan dana tanggap darurat, warga terdampak rob bisa tertangani secara maksimal. Dari total anggaran tak terduga sebesar Rp 2 miliar yang dialokasikan Pemkot Pekalongan pada tahun ini, tersisa hanya Rp 300 juta. Karena sebagian besar dana sudah digunakan untuk penanganan kebakaran Pasar Banjarsari.

Sekda Kota Pekalongan Sri Ruminingsih mengatakan, bantuan dari para donatur sangat membantu Pemkot Pekalongan dalam menangani warga terdampak rob. “Selain dari Pemkot Pekalongan, pengadaan makanan siap saji untuk warga terdampak rob juga dibantu relawan dari semua unsur, seperti organisasi masyarakat dan elemen masyarakat lain. Selain di GOR Jetayu, ada beberapa titik dapur umum yang didirikan mandiri oleh masyarakat,” paparnya.

Bantuan kepada warga terdampak rob tidak berhenti setelah rob surut. Dinas Kesehatan Kota Pekalongan menurunkan petugas kesehatan melalui layanan puskesmas keliling ke kelurahan-kelurahan terdampak rob untuk memberikan pelayanan pengobatan, serta memantau kondisi lingkungan pasca rob guna mencegah berbagai penyakit yang kemungkinan muncul.

Selain itu, warga juga mendapat pengobatan gratis yang diselenggarakan Tim ACT Kota Pekalongan di Salam Manis, RT 03/ RW 13 Kelurahan Kandang Panjang. Pada pengobatan gratis tersebut, tim ACT Kota Pekalongan menurunkan satu orang dokter, satu orang apoteker, satu perawat dan satu orang bidan.

Pengobatan gratis disambut antusias warga. Sejumlah warga mengaku senang karena pengobatan gratis tersebut membantu warga yang dilanda sejumlah penyakit pascarob. Umriyah (65), warga RT 2/ RW 13 Kelurahan Kandang Panjang mengatakan, dengan kondisi lingkungan yang dikepung rob, warga jarang berobat ke puskesmas. Selama ini, warga mengandalkan layanan kesehatan dari puskesmas keliling.

“Saya jarang berobat karena kalau mau ke puskesmas harus menerobos jalan yang tergenang rob. Jadi kalau sakit dibiarakan saja, nunggu kalau ada puskesmas keliling atau pengobatan gratis. Alhamdulilah kemarin ada pengobatan gratis dan puskesmas keliling,” kata dia.

Senada disampaikan Kisno (60), warga Kelurahan Kandang Panjang lainnya. “Kami bersyukur karena ada layanan puskesmas keliling dan pengobatan gratis di sini. Karena kami tidak bisa berobat keluar. Jalan-jalan di sini tertutup rob, tidak bisa dilewati,” tambahnya.

Dengan adanya pengobatan gratis tersebut, sakit batuk, diare dan gatal-gatal yang diderita warga pascarob, sudah sembuh. Sehingga warga bisa berlebaran dengan suka cita.


(Isnawati/CN26/SM Network)