• KANAL BERITA

Kementan Perkuat Sinergi Kemitraan dengan Petani Bawang Putih

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, menyatakan Kementerian Pertanian akan terus menguatkan sinergi pola kemitraan yang dilakukan pengusaha dan petani bawang putih. Hal ini bertujuan agar swasembada bawang putih dapat tercapai. 

Suwandi menyatakan pola kemitraan ini sangat bagus dan menguntungkan kedua belah pihak. Pelaku usaha menyiapkan modal dan tata niaganya, sedangkan petani melakukan budidaya sehingga kemitraan terus berjalan secara berlanjutan. 

"Sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, kami terus mengembangkan bawang putih secara bertahap untuk mencapai swasembada dan kesejahteraan petani. Target swasembada pada 2021 ditanam 80 ribu hektar," ujar Suwandi, dalam keterangan tertulis. 

Dia menambahkan pada tahun 2018, Kementan siap mengembangkan kawasan bawang putih dari APBN seluas 6.100 hektar lebih.

"Pelaku usaha wajib tanam 7.400 hektar, juga ada tanam petani swadaya dan investor," jelasnya.

Di sisi lain, Kabupaten Magelang, dulunya merupakan salah satu sentra penghasil bawang putih terbesar di Indonesia pada dekade 1980-1990-an. Sentra utama berada di lereng gunung Sumbing yaitu Kecamatan Kaliangkrik dan Windusari pada ketinggian diatas 1.000 mdpl. Namun seiring dengan mulai masuknya bawang putih impor pada tahun 1995, kejayaan bawang putih Magelang berangsur surut. 

Saat ini, geliat kebangkitan bawang putih di dua kecamatan tersebut mulai menghasilkan. Selain cabai dan hortikultura lain, kini petani setempat makin atraktif dengan tanam bawang putih secara masif, sentranya di Kecamatan Kaliangkrik dan Windusari.

Menurutnya, masuknya pelaku usaha importir yang berinvestasi bawang putih turut mendorong petani bangkit kembali menanam, sekaligus turut mendukung pencapaian target swasembada tahun 2021.

Total sampai dengan saat ini terdapat 14 perusahaan yang memiliki komitmen tanam di Magelang. Dalam kurun waktu 1 tahun, mulai terlihat hasilnya. Varietas lokal yang ditanam seperti lumbu hijau, lumbu kuning, lumbu putih, tawangmangu baru mampu berproduksi rata-rata mencapai 7 ton per hektar.

Meskipun masih di bawah rata-rata Sembalun dan Temanggung, namun dengan budidaya yang baik maka produktivitas diyakini akan meningkat. Jika sebagian besar hasil pertanaman menggunakan benih lokal.

Dia menambahkan, ada kabar baik datang dari uji benih impor asal Taiwan jenis Great Black Leaf yang ditanam di Temanggung, terbukti adaptif dengan produktivitas mencapai 10 ton perhektar. Benih Taiwan ini bisa menjadi salah satu alternatif bila benih lokal kurang di pasaran.


(Kartika Runiasari/CN39/SM Network)