• KANAL BERITA

Penyempitan Jembatan Bakalan, Pemicu Macet

Petugas mengevakuasi bus yang terlibat kecelakaan di kawasan Jembatan Bakalan, Kecamatan Ampel. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)
Petugas mengevakuasi bus yang terlibat kecelakaan di kawasan Jembatan Bakalan, Kecamatan Ampel. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka.com - Penyempitan di jembatan Bakalan, Kecamatan Ampel menjadi titik rawan macet saat Lebaran. Petugas bekerja ekstra keras mengatur lalu lintas saat H-4, Senin (11/6), terjadi penumpukan kendaraan akibat penyempitan jalan.

Kendaraan yang melintas dari arah barat atau Semarang terus meningkat. Kendaraan harus melintas perlahan atau merayap karena ada penyempitan jalan. Jika sebelum jembatan Bakalan terdapat empat lajur jalan. Namun tepat di jembatan hanya tinggal dua lajur saja.

Satu untuk lajur dari arah Solo dan satunya untuk lajur dari arah barat. Kondisi ini diperparah dengan terjadinya kecelakaan di kawasan Jembatan Bakalan. Sebuah bus dari arah Solo bertabrakan dengan truk dari arah berlawanan.

Polisi mengurai kemacetan dengan secepatnya menyingkirkan kedua kendaraan yang terlibat kecelakaan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Petugas melalukan sistem buka tutup jalan. Yakni, saat arus kendaraan dari arah Solo ditutup kemudian, arus kendaraan dari arah Semarang ditarik untuk segera melintasi jembatan.

Kapolres Boyolali, AKBP Aries Andhi, bersama perwira tinggi Polres Boyolali turun tangan langsung mengurai kemacetan. Penumpukan kendaraan juga terjadi di kawasan bisnis Jalan Pandanaran mulai dari Pasar Sunggingan Boyolali hingga Simpang Lima Siaga.

Penumpukan disebabkan kendaraan parkir di kanan kiri jalan. Para pengemudi dan penumpang memanfaatkan momen mudik tersebut untuk beristirahat di warung atau membeli oleh- oleh di toko yang berjajar di Jalan Pandanaran.

Salah satu petugas di posko Lebaran Ampel, Hartanto mengatakan, kendaraan tersendat. ‘’Jembatan itu kan sempit, kendaraan dari dua arah yang tadinya berjalan masing-masing pada dua lajur kemudian harus berjalan masing-masing satu lajur sehingga terjadi penumpukan kendaraan yang mengantre di belakangnya,’’ katanya.


(Joko Murdowo/CN40/SM Network)