• KANAL BERITA

Bahan Pangan Berbahaya Akan Ditarik

Petugas kepolisian bersama petugas Dindagkop&UKM dan Dinas Kesehatan mendata bahan pangan yang mengandung zat kimia berbahaya di Pasar Kertek, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Petugas kepolisian bersama petugas Dindagkop&UKM dan Dinas Kesehatan mendata bahan pangan yang mengandung zat kimia berbahaya di Pasar Kertek, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dindagkop&UKM) Kabupaten Wonosobo mengaku, akan menarik peredaran sejumlah produk bahan pangan yang terdeteksi mengandung zat kimia berbahaya, selama operasi pengawasan di sejumlah pasar trasional Wonosobo, baru-baru ini. Hal itu dilakukan guna menjamin bahan pangan yang dijual di pasaran, layak dikonsumsi masyarakat dan tidak membahayakan.

Kepala Dindagkop & UKM Wonosobo, Agus Suryatin menyebutkan, hasil temuan saat melakukan inspeksi mendadak Satuan Tugas (Satgas) Mafia Pangan Kabupaten Wonosobo, memang didapati sejumlah bahan pangan mengandung formalin, boraks dan rhodamin. "Kami akan tarik peredaran bahan pangan itu dari pasaran, karena sangat berbahaya jika dikonsumsi masyarakat," ujar dia, di sela melakukan pengawasan di Pasar Kertek.

Menurut dia, besar kemungkinan barang serupa masih beredar di pasaran, sehingga hasil koordinasi dengan pihak kepolisian dan Dinas Kesehatan, barang-barang yang terdeteksi mengandung zat berbahaya harus ditarik. Selain itu, akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut kepada produsen pembuat, agar rantai distribusi bahan pangan berbahaya tersebut bisa diputus. "Selain menarik peredaran produk, kami akan lakukan pengawasan di produsennya, agar rantai distribusi terputus," beber dia.

Pembinaan terhadap produsen pembuat dinilai penting dilakukan, sebagai langkah preventif agar kedepan tidak lagi membuat produk bahan pangan berbahan kimia berbahaya. Namun, jika produsen sudah diingatkan tetap menggunakan bahan kimia berbahaya, maka langkah hukum akan ditempuh. "Langkah awal tentu pembinaan terlebih dahulu. Tetapi jika tetap menggunakan bahan berbahaya langkah hukum siap dijalankan," terang dia.

Menurut Kepala Seksi Kefarmasian, Makanan, Minuman dan Alat Kesehatan (Farmamin) Dinas Kesehatan Wonosobo, Sumarwati, hasil sidak di Pasar Sapuran dan Pasar Kertek, pihaknya masih menemukan pedagang menjual bahan makanan menggunakan zat kimia berbahaya. Sebagian ditemukan makanan mengandung boraks, formalin dan rhodamin. Bahan pangan itu, ada teri nasi, garam bleng merek bagong dan kerupuk.

Hasil pemeriksaan terhadap teri nasi, produk tersebut positif mengandung formalin, garam bleng mengandung boraks, dan kerupuk gendar menggunakan pewarna rhodamin. Garam bleng sebenarnya sudah tidak ada, namun ini kembali muncul ke pasaran. Padahal, garam tersebut mengandung boraks yang dalam jangka panjang bisa mengakibatkan gagal jantung dan juga penyakit lain. Jika boraks dikonsumsi dua sendok, bisa langsung menimbulkan kematian.

Tetapi kalau digunakan untuk makanan, maka prosesnya lama, tertimbun di dalam tubuh kemudian dalam jangka panjang menimbulkan penyakit kanker. Untuk pewarna kimia yang ditemukan jenis rhodamin b juga memiliki dampak jangka panjang yang buruk, sebab pewarna tersebut tidak digunakan untuk makanan tapi untuk tekstil. Sedangkan untuk formalin juga sudah jelas merupakan pengawet mayat dan juga kayu. Jadi bukan diperuntukan bagi pengawet makanan.

Sementara Kepala Urusan Pembinaan Operasonal Reserse Krimininal Polres Wonosobo, Iptu Waryanto mengungkapkan, pihaknya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait temuan makanan mengandung bahan kimia berbahaya tersebut. "Penegakan hukum akan dilakukan jika produsen yang dibina tidak mengindahkan peringatan. Penggunaan zat berbahaya akan merugikan orang lain, jadi pelakunya bisa dipidana," katanya. 


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)