• KANAL BERITA

Kampus Harus Jadi Tempat Menempa Karakter

Rektor UPGRIS Muhdi foto bersama finalis putra-putri kampus usai memberikan workshop di ruang seminar gedung pusat UPGRIS Jl Sidodadi Semarang, Rabu (6/6). (suaramerdeka.com/Arie Widiarto)
Rektor UPGRIS Muhdi foto bersama finalis putra-putri kampus usai memberikan workshop di ruang seminar gedung pusat UPGRIS Jl Sidodadi Semarang, Rabu (6/6). (suaramerdeka.com/Arie Widiarto)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Universitas sebagai lembaga pendidikan tinggi memiliki peran penting untuk menempa karakter peserta didik atau mahasiswa. Penguatan karakter dilakukan melalui berbagai kegiatan pendidikan dengan memberikan contoh secara langsung melalui pelaksanaan kegiatan perkuliahan sehari-hari.

''Pembangunan karakter ini salah satunya dengan mengembalikan paradigma berpikir. Tujuannya, agar mahasiswa itu tidak hanya pintar, berpengetahuan, dan unggul, tetapi juga bertanggung jawab dan beretika," ungkap Rektor Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Dr Muhdi SH Mhum, saat menyampaikan workshop 40 kepada finalis putra-putri kampus di ruang seminar gedung pusat UPGRIS Jl Sidodadi Semarang, Rabu (6/6).

Ia mengakui untuk mengubah karakter tidak mudah, karena ini sifat yang dibawa oleh tiap individu. Namun, setidaknya dengan gemblengan pendidikan yang terus menerus termasuk dengan contoh nyata diharapkan dapat mengubah karakter seseorang menjadi lebih baik.

''Termasuk para finalis putra-putri kampus ini saya harapkan dapat menjadi teladan dalam bersikap,'' tambahnya.

Pendidikan karakter saat ini menjadi penting, karena menurut Muhdi ketika hanya berbekal kepandaian bisa saja menyalahgunakan kepandaiannya untuk melakukan tidak terpuji. Terlebih, mahasiswa UPGRIS yang sebagian adalah calon guru ke depan harus menjadi teladan anak didiknya. ''Jadi untuk alasan kebaikanlah maka perlu di tekankan pentingnya pendidikan karakter bagi mahasiswa,'' tambahnya.

Selain itu, lanjut dia, tidak hanya dalam dunia keguruan, dunia kerja pun kini mempertimbangkan karakter sebagai faktor pertama ketika akan menerima karyawan. Sebab, dunia kerja bukan hanya soal pintar matematika atau kemampuan akademis lainnya. Tetapi apakah calon karyawan mampu bekerja sama dalam tim atau tidak.
Oleh sebab itu, tegas dia, pendidikan karakter di kampus mengarah pada pembentukan individu mahasiswa yang memiliki integritas moral dan peduli lingkungan  sekitar. Semua itu harus didukung budaya dan kebijakan kampus.

"Nilai-nilai moral dalam keseharian mahasiswa harus mampu diaktualisasikan," ujar dia.

Karena itu, ia mengungkapkan, pendidikan karakter tidak sekadar pelatihan kilat seperti outbond maupun aktivitas-aktivitas serupa. "Tetapi, lebih pada melatih mahasiswa melaksanakan nilai-nilai moral sebagai akademisi dan calon pemimpin bangsa," kata dia.


(Arie Widiarto/CN40/SM Network)