• KANAL BERITA

Radikalisme Muncul Karena Pemahaman Agama Hanya Sekilas

Salah satu mahasiswa Unsiq Jawa Tengah di Wonosobo bertanya kepada pemateri saat Sosialisasi Deradikalisasi di Pendapa Kecamatan Mojotengah. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Salah satu mahasiswa Unsiq Jawa Tengah di Wonosobo bertanya kepada pemateri saat Sosialisasi Deradikalisasi di Pendapa Kecamatan Mojotengah. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Pelajar dan mahasiswa yang menempuh pendidikan di Wonosobo, diminta tidak hanya memahami ajaran agama Islam setengah-setengah saja. Pendalaman agama secara menyeluruh dengan terus menggali dan belajar kepada pendidik berkompeten, dinilai akan membentengi pelajar mau pun mahasiswa agar tidak terjerumus dalam gerakan-gerakan radikalisme yang sampai saat ini masih jadi momok memprihatinkan.

Menurut Komandan Kodim 0707/Wonosobo, Letkol Czi Fauzan Fadli, penyebab munculnya gerakan radikalisme disebabkan beberapa faktor.  Salah satunya pemahaman agama yang kurang dan hanya sekilas. Dengan kurangnya ilmu agama yang dimiliki, atau memahami ilmu agama hanya sekilas, generasi muda seperti mahasiswa yang sedang mencari jati diri rawan disusupi ajaran kelompok-kelompok tertentu.

"Biasanya kelompok itu sengaja memberikan pemahaman yang salah tentang tauhid. Sehingga mereka menjadi salah dalam penafsirannya. Jika sudah salah dalam penafsirannya, maka mereka akan berbuat seperti yang dimengerti," ujar dia, saat memberikan Sosialisasi Deradikalisasi kepada mahasiswa Universitas Sains Al Quran (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo di Pendapa Kecamatan Mojotengah, kemarin.

Dikatakan, terdapat hasil survei oleh beberapa lembaga mengenai radikalisme, hasilnya sangat mengejutkan. Sebanyak 23,4 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA telah terpapar dengan paham radikal. Mereka setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah. Selain itu 23,5 persen mahasiswa dan 16,3 persen pelajar menyatakan negara Islam perlu diperjuangkan untuk penerapan agama secara kaffah. 

Saat ditanya tentang peraturan daerah (perda) syariah, ada 21,9 persen pelajar dan 19,6 persen mahasiswa setuju perda syariah untuk mengakomodasi penganut agama mayoritas. "Hal ini merupakan peringatan bagi kita semua. Kelompok radikal biasanya akan memasukan paham agar generasi muda bergerak secara keras, sesuai jiwa muda mereka," beber orang nomor satu di jajaran Kodim Wonosobo itu. 

Kelompok radikal selalu menekankan apa yang tidak sesuai dengan pahamnya. Itu merupakan permasalahan dan mengganggap sebagai kemungkaran. Penegasannya, kemungkaran harus segera diberantas. Dalam membrantas, sesuai jiwa muda harus dengan tindakan. Inilah kesalahan fatal yang terjadi saat ini. Ditambah, kelompok radikal biasanya menghembuskan masalah penafasiran jihad yang salah. 

"Ini merupakan cara yang paling efektif dalam melancarakan aksi mereka. Generasi muda yang masih lugu dijadikan tumbal meledakan salah satu sasarannya, dengan iming-iming sebagai orang Islam harus berani mengorbankan diri untuk kepentingan agama. Jika meninggal, akan langsung masuk sorga dan dijemput bidadari. Padahal yang menyuruh belum tentu mau mengorbankan dirinya sendiri," terang dia. 

Kelompok tersebut menganggap NKRI bukan negara Islam, sehingga Indonesia harus dirubah menjadi negara Islam. Itu tidak akan bisa terjadi, karena Bangsa Indonesia berdiri merupakan perjuangan rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, agama dan budaya serta adat istiadat yang sangat komplek. Jika hal itu disatukan dengan syariat Islam, maka jawabannya tidak mungkin terwujud. 

Dikatakan, mahasiswa merupakan generasi penerus negerai ini. Sekitar 10-30 tahun yang akan datang, merekalah yang akan memimpin negeri ini. Untuk itu, perlu kiranya terus membekali diri dengan ilmu yang benar, belajar agama jangan dari satu sumber saja, akan tetapi dari banyak sumber, sehingga bisa dijadikan refrensi. Jika generasi muda sudah faham akan ajaran yang benar, nanti saatnya memimpin negeri ini, NKRI akan tetap berdiri. 
 


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)