• KANAL BERITA

Anak-anak dan Lansia Tetap di Pengungsian

Ketua DPC PDIP Boyolali, S Paryanto berdialog dengan pengungsi Merapi di TPPS Desa Tlogolele, Kecamatan Selo. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)
Ketua DPC PDIP Boyolali, S Paryanto berdialog dengan pengungsi Merapi di TPPS Desa Tlogolele, Kecamatan Selo. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka.com – Saat ini, anak-anak dan orang tua lanjut usia tetap bertahan di pengungsian, sementara orang tua dan dewasa kembali ke rumah menjalankan aktivitas keseharian seperti biasa. Kondisi Merapi belum benar-benar aman, sehingga anak-anak dan lansia tidak kembali ke rumah.

Kepala Desa Tlogolele, Widodo mengatakan, jumlah pengungsi yang ditampung di TPPS di Desa Tlogolele setelah kejadian Merapi pada Jumat (1/6), 1.700 jiwa. Jumlah itu berangsur-angsur turun menjadi 544 jiwa, kebanyakan anak-anak dan lansia.

‘’Hingga Minggu (3/6) siang tinggal 100 jiwa yang terdiri anak-anak dan lansia,’’ jelasnya.  

Mereka adalah warga Desa Tlogolele, Kecamatan Seloyang yang tinggal di tempat penampungan pengungsian sementara (TPPS) akibat erupsi Merapi.

Warga tetap menjalankan puasa dan tidak ada hambatan karena mendapatkan jaminan logistik dari dapur umum.  ‘’Para pengungsi yang berasal dari Dukuh Stabelan dan Takeran, Desa Tlogolele masih bertahan di TPPS dan tetap menjalankan ibadah puasa seperti biasa,’’ ujar Kepala Desa Tlogolele, Widodo.

Menurut Widodo, warga di pengungsian yang menjalankan puasa di tempat pengungsian tidak ada masalah, mereka dilayani kebutuhan sahur dan buka puasanya setiap hari. Tim sukarelawan rutin memasak berbagai kebutuhan makan untuk sahur dan buka puasa.

‘’Sedangkan warga yang tidak puasa juga sudah terlayani jatah makannya dengan baik. Jumlah pengungsi yang menjalankan ibadah puasa mencapai sekitar 50 persen,’’ paparnya.

Kades mengungkapkan, dapur umum telah dibuka sejak Merapi meletus beberapa waktu lalu. Sementara, dapur umum masih menggunakan rumah warga. Kebutuhan logistik bahan makanan juga sudah mencukupi. ‘’Kami mendapat bantuan logistic dari masyarakat, termasuk dari Fraksi PDIP DPRD dan DPC PDIP Boyolali,’’ tambahnya.

Tim Kesehatan

Tim medis dari Pemkab dan PMI setempat juga siap memantau kondisi kesehatan pengungsi. Saat ini, tersedia posko kesehatan yang bisa melayani masyarakat setiap hari. Utamanya bagi anak-anak dan lansia yang tidur di TPPS.

Warga lansia dan anak-anak tidak kembali ke rumahnya atau kampungnya karena kondisi permukiman dinilai masih berbahaya akibat damapk erupsi Merapi. Letaknya hanya sekitar 3 km dari puncak Merapi atau kawasan rawan bencana (KRB) III.

‘’Jika terjadi apa-apa tidak terlalu merepotkan bagi Tim Siaga Desa (TSD) yang memberikan pertolongan. Sedangkan suami mereka setelah aktivitas di rumahnya masing-masing sebagian berjaga-jaga di kampungnya, dan lainnya kembali pengungsian,’’ ujarnya.

Salah satu pengungsi, Mariyam (35) salah satu pengungsi asal Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele mengatakan meski di tempat pengungsian tetap menjalankan puasa. Ada dapur umum yang biasa menyiapakan kebutuhan makan sahur dan buka puasa. ‘’Kami bersama dua anak selama tiga hari pengungsi di TPPS karena trauma dengan kejadian-kejadian sebelumnya,’’ tandasnya.


(Joko Murdowo/CN40/SM Network)