• KANAL BERITA

Pemkab Boyolali Cek Lokasi dan Jalur Pengungsian

foto: istimewa
foto: istimewa

BOYOLALI, suaramerdeka.com - Pemkab Boyolali bergerak cepat mengantisipasi dampak erupsi Merapi yang saat ini berstatus Waspada. Di antaranya menginventarisasi jumlah warga terdampak dan mengecek lokasi pengungsian.

‘’Selain untuk warga, lokasi pengungsian juga disiapkan untuk hewan ternak yang jumlahnya ribuan ekor,’’ ujar Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Kurniawan Fajar Prasetyo, Selasa (29/1).

Dijelaskan, untuk warga Boyolali di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) III atau wilayah dalam radius 3 km dari puncak Merapi. Yakni di Dusun Stabelan, Desa Tlogolele, sekitar 800 warga.

Bila harus mengungsi, mereka akan diungsikan ke wilayah Mertoyudan dan sekitarnya yang masuk wilayah Kabupaten Magelang. Pasalnya, lokasi tersebut secara geografis lebih mudah dijangkau masyarakat Stabelan bila terjadi bencana.

‘’Kami sudah inventarisasi jumlah pergerakan pengungsian jika aktivitas erupsi Merapi meningkat, misal jumlah warga, armada kendaraan, hingga hewan ternak. Jalur evakuasi juga sudah dicek,’’ jelasnya. 

Ribuan Ternak

Sementara untuk wilayah KRB II atau radius 5 km dari puncak, meliputi sejumlah desa di Kecamatan Selo dan Musuk, dengan jumlah warga mencapai belasan ribu jiwa. Lokasi pengungsian adalah desa –desa peseduluran (sister village) masing-masing desa yang sudah disepakati sebelumnya.

‘’Ini sebagai bagian dari kerja sama antardesa dalam kondisi kebencanaan,’’ tambahnya.

Misal Desa Samiran di Kecamatan Selo akan diungsikan ke Desa Mudal, Boyolali Kota. Dalam konsep sister village, pengungsi akan tinggal di rumah-rumah penduduk yang sudah disepakati sebelumnya.

Ditambahkan, konsep sister village juga mencakup lokasi pengungsian untuk hewan ternak, terutama sapi yang menjadi hewan ternak utama penduduk di wilayah Selo dan Musuk. "Ada ribuan hewan ternak yang juga harus diungsikan, sehingga lokasinya juga harus disiapkan," ujarnya. 

Pihaknya juga mulai mendata lokasi-lokasi, terutama di wilayah Kota Boyolali, yang bisa menjadi tempat penampungan pengungsi. Misal gedung-gedung kantor instansi daerah yang mampu menampung hingga 200 pengungsi serta tanah lapang untuk lokasi tenda-tenda pengungsian.

‘’Lokasi tersebut akan diperuntukkan untuk pengungsi yang tak tertampung di sister village,’’ paparnya. 

Sementara itu, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), belum membuka kembali untuk aktivitas pendakian. Jalur pendakian ke Gunung Merapi melalui Selo, Boyolali masih ditutup untuk umum.

‘’Jalur pendakian Gunung Merapi masih ditutup mas,’’ ungkap Suwiknya, dari BTNGM.


(Joko Murdowo/CN40/SM Network)