• KANAL BERITA

Empat Desa di Wonosobo Berpotensi Kekeringan

Petugas BPBD Wonosobo meninjau lokasi permukiman penduduk yang rawan mengalami kekeringan di Desa Ngasinan Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Petugas BPBD Wonosobo meninjau lokasi permukiman penduduk yang rawan mengalami kekeringan di Desa Ngasinan Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Empat desa di tiga kecamatan di Wonosobo berpotensi besar mengalami kekeringan. Hasil assesment yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo, sebanyak 285 keluarga rawan terdampak kekeringan di empat desa tersebut. Antara lain, Desa Bener dan Desa Burat di Kecamatan Kepil, Dusun Pagedongan Desa Tempurejo di Kecamatan Kalibawang dan Dusun Monggor Desa Ngasinan di Kecamatan Kaliwiro.

Kepala Pelaksana BPBD Wonosobo, Prayitno menyebutkan, saat ini sudah memasuki musim kemarau, meski pun di Wonosobo masih kerap terjadi hujan. Tiga kecamatan tersebut dinilai rawan mengalami kekeringan. Sehingga antisipasi dan penanggulangan tanggap darurat bencana
kekeringan segera dilakukan. "Untuk penentuan tanggap darurat kekeringan sudah dilayangkan. Namun penentuan waktu dilakukan bupati,"
ujar dia, baru-baru ini.

Menurut dia, dari tiga kecamatan tersebut, ada empat desa yang kondisi permukiman penduduknya rawan mengalami kekeringan. Di wilayah Kecamatan Kepil yang meliputi Desa Bener dan Desa Burat, kekeringan permukiman penduduk mengancam sebanyak 150 keluarga, di Dusun Pagedongan Desa Tempurejo Kecamatan Kalibawang, kekeringan mengancam sebanyak 100 keluarga, dan di Dusun Monggor Desa Ngasinan Kecamatan Kaliwiro kekeringan mengancam 35 keluarga.

Lebih lanjut Prayitno menyebutkan, setelah penetapan status tanggap darurat kekeringan, pihaknya akan menyalurkan dana siap pakai kepada desa rawan terdampak tersebut. Penanganan yang akan dilakukan, yakni
dengan melakukan program pipanisasi untuk diserahkan kepada masyarakat. "Untuk kondisi kekeringan, kami tidak diperbolehkan melakukan bantuan droping air bersih setiap tahun kepada desa terdampak, jadi yang dilakukan dengan bantuan program pipanisasi," terang dia.

Nantinya, masing-masing desa terdampak akan mendapatkan bantuan untuk program pipanisasi, guna menjangkau sumber air bersih. Dengan upayatersebut, pihaknya mengharapkan, tahun-tahun mendatang sejumlah desa yang rawan mengalami kekeringan, persoalannya sudah teratasi. 

"Untuk anggaran dana siap pakai sudah kami siapkan, tinggal disalurkan ketika status tanggap darurat diputuskan bupati," beber Prayitno.

Pihaknya mengharapkan peran aktif pemerintah desa terkait untuk mengalokasikan dana desanya, agar seluruh kawasan permukiman penduduk
yang rawan mengalami kekeringan diprioritaskan pembangunan sumber air bersihnya. 

"Pantauan kami di lapangan, sejumlah permukiman penduduk di empat desa yang rawan terdampak kekeringan itu memang belum terfasilitasi bantuan sarana air bersihnya," tandasnya.

 

 

 


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)