• KANAL BERITA

Athan Siahaan Angkat Batik Madura ke Kancah Dunia

Peragawati memperagakan karya Athan Siahaan dengan bahan Batik Madura. (suaramerdeka.com/ Sugiarto)
Peragawati memperagakan karya Athan Siahaan dengan bahan Batik Madura. (suaramerdeka.com/ Sugiarto)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Perhelatan Jogja Fashion Rendezvous (JFR) 2018 yang digelar di Jogja City Mall, Jalan Magelang, Yogyakarta, Senin (29/5) malam lebih meriah dibanding pelaksanaan sebelumnya. Perhelatan kali ini, para desainer handal lebih berani mengangkat kain tradisional ke kancah dunia fesyen.  

Lebih dari 32 desainer dari berbagai daerah di Indonesia, menyuguhkan ratusan karya rancangan dengan bahan kain modern sampai kain tradisional. Setelah dipoles oleh para desainer, kain tradisional yang memiliki nilai tinggi tersebut tampak anggun dan indah dipandang mata.

Ratusan tamu yang menyaksikan perhelatan JFR 2018, langsung tertegun dan kagum dibuatnya. Kain tradisional yang terkesan biasa saja itu, menjadi indah dan anggun di tangan desainer Athan Siahaan asal asal Medan, Sumatra Utara. Kebetulan pada perhelatan kali ini, Athan mengusung konsep 'Karapan Sapi'.

Dalam perhelatan kali ini, Athan memilih Batik Madura sebagai materi utama. Meski corak kain Batik Madura terkesan ramai, namun bukan Athan kalau tak piawai mengeksplor kain menjadi sesuatu yang berharga. Setelah sukses mengangkat kain ulos, kini desainer asal Balige Sumut yang menetap di Jakarta fokus menggarap Batik Madura.

Bagi Athan, ini bukan kali pertama menggunakan kain Nusantara dalam rancangannya. Ia pernah meluncurkan koleksi Ulos Batak, Batik Kawung, Songket Padang, Tenun Ikat Lombok, Tidayu Sambas dan yang terbaru Athan memilih Batik Madura. Menurut dia, kain Nusantara sangat bagus dan layak bersaing di dunia internasional.

''Kain Nusantara itu bagus-bagus dan layak bersaing dengan trend mode fashion internasional. Kali ini saya sedang membidik Batik Madura untuk koleksi berikutnya, saya akan keluarkan dress resmi dari bahan Batik Madura," jelas Athan di sela acara Jogja Fashion Rendezvous 2018 di Jogja City Mall (JCM).

Menurut Athan, salah satu ciri khas lain yang dimiliki Batik Madura adalah munculnya garis-garis dominan yang tersaji dalam satu desain batiknya. Setiap desain Batik Madura memiliki cerita dan filosofi unik yang merepresentasikan kehidupan sehari-hari masyarakat, inilah yang membuat desainer muda ini tertarik.

Athan sendiri masih terus mengeksplor kain ulos di antaranya Sadum, Ragihotang, Pinucaan dan Sibolang dengan finishing bordir. Style couture, modern etnik hingga ready to wear ia hadirkan dalam koleksi yang diberi nama 'The Power of Ulos'.

''Inspirasinya adalah saat melihat kain-kain Batik Jogja yang bisa dipakai kapan saja, akhirnya kepikiran kenapa Ulos tidak dibuat begitu juga?" Cerita desainer yang telah menggeluti dunia fashion selama seabad ini.

Bagi Athan, 'The Power of Ulos' mencerminkan kekuatan Ulos Batak yang bisa dipakai dalam acara-acara resmi serta acara red carpet. Style yang dihadirkan menawarkan karakter wanita Indonesia yang kuat dan tangguh.  

Rancangan desainer ini boleh dibilang eksklusif, karena tiap kainnya memiliki detil, corak  dan motif berbeda-beda dengan kain yang lain. Ke depan, Athan masih haus untuk menggali lagi potensi wastra Nusantara pada karya-karya selanjutnya. ''Sekarang saya sedang fokus garap Batik Madura,'' katanya.


(Sugiarto/CN33/SM Network)