• KANAL BERITA

Jamaah Tarawih Diajak Tak Terpengaruh Paham ISIS

Danramil 01/Wonosobo Kapten Infanteri Heru Utomo dan anggota Polres Wonosobo bersama warga menyimak pengarahan Wakapolres Wonosobo Kompol Umi Mariyati di sela tarawih keliling di Masjid Al Hidayah Kampung Campursari, Kelurahan Jaraksari, Kecamatan Wonosobo, kemarin petang. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Danramil 01/Wonosobo Kapten Infanteri Heru Utomo dan anggota Polres Wonosobo bersama warga menyimak pengarahan Wakapolres Wonosobo Kompol Umi Mariyati di sela tarawih keliling di Masjid Al Hidayah Kampung Campursari, Kelurahan Jaraksari, Kecamatan Wonosobo, kemarin petang. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Wakapolres Wonosobo, Kompol Umi Mariyati, mengajak para jamaah tarawih di Masjid Al Hidayah Kampung Campursari, Kelurahan Jaraksari, Kecamatan Wonosobo, agar tak terpengaruh paham ISIS. Jaringan ISIS saat ini sudah mulai merambah ke daerah-daerah, termasuk desa-desa. Bahkan, di Indoneia sudah mulai banyak yang terpengaruh dengan paham radikal tersebut, guna memecah belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Di Indonesia, saat ini ada yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan, terutama ISIS. Sudah mulai banyak yang terpengaruh dengan paham ISIS. Untuk menjaga lingkungan, tentu tidak dapat mengandalkan peran TNI dan Polri saja. Karena jumlah personelnya sangat minim. Saya berharap, semua elemen masyarakat menjadikan dirinya sebagai polisi, sebagai aparat keamanan untuk menjaga wilayahnya masing-masing," beber dia.

Menurut dia, bulan Ramadan menjadi momen tepat untuk melakukan pembakaran dosa-dosa yang diperbuat. Untuk itu, pihaknya mengajar
segenap komponen masyarakat terus memanfaatkan bulan suci Ramadan dengan kegiatan yang positif. "Kita mulyakan bulan suci Ramadan ini dengan kegiatan positif seperti sholat tarawih berjamaah, tadarus, melakukan amalan-amalan yang baik dan berperan membantu menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas)," pintanya.

Senada, Danramil 01/Wonosobo Kapten Infanteri Heru Utomo menyebutkan, paham radikal di Indonesia sudah semakin banyak. Dampak paham radikal bagi negara, yakni hilangnya rasa patriotisme atau rasa cinta bangsa, hilangnya kepercayaan bangsa lain terhadap bangsa Indonesia, bangsa dan negara kehilangan identitas karena prilaku premordial dan menggangu iklim investasi karena situasi tidak aman. "Jadi mari kita menolak dan tidak setuju dengan paham radikal," ujar dia.

Ciri-ciri kelompok radikal, yakni fanatik terhadap pendapatnya, menganggap pendapat orang lain selalu keliru, mudah mengkafirkan orang lain. Mereka juga biasanya membentuk kelompok-kelompok bersifat eksklusif dan bersifat menyendiri, sering memaksakan pendapat dan kehendaknya dengan cara kekerasan.  "Itu untuk radikal kanan. Sedangkan ciri radikal kiri ajaran komunisme, yakni sifatnya yang
ateis, tidak mengimani Allah, menganggap Tuhan tidak ada," terangnya.

Pihaknya mengajar para jamaah selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Selain itu warga masyarakat juga diharapkan selalu peka dan waspada terhadap orang asing yang masuk ke wilayah. Perlu dipastikan warga baru tersebut melapor kepada ketua RT setempat. Tujuanya, untuk mempersempit ruang gerak teroris yang sekarang ini menyasar di pedesaan. "Jangan sampai beri celah kelompok radikan masuk di lingkungan kita," ajak dia. 


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)