• KANAL BERITA

Investor Lokal Mulai Kuasai Pasar Modal

Sejumlah jurnalis berfoto bersama usai mengikuti media gathering sekolah pasar modal di Soga Resto Solo. (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)
Sejumlah jurnalis berfoto bersama usai mengikuti media gathering sekolah pasar modal di Soga Resto Solo. (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)

SOLO, suaramerdeka.com - Baru tahun ini investor lokal berhasil menguasai pasar modal. Hal itu diungkap Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Solo, Wira Adi Brata dalam media gathering sekolah pasar modal di Soga Resto Solo, kemarin.

Ia mengatakan, dari saham yang beredar sebanyak Rp 3.744 triliun, jumlah aset investor domestik mencapai 51 persen lebih atau Rp 1.924 triliun sedang investor asing di angka Rp 1.820 triliun. Untuk investor nasional sebanyak 700 ribu orang per April 2018.

Sementara jumlah investor di Jawa Tengah di 33 kabupaten/kota sebanyak 63.030 investor. Dari jumlah itu di wilayah eks karesidenan Surakarta dengan tujuh  kabupaten/kota tercatat jumlah investor 31 persen atau 19.754 SID. Di Solo ada 21 sekuritas dan belakangan terus meningkat jumlahnya. Sebanyak 12 sekuritas menggelar sekolah pasar modal. Jadwal sekolah pasar modal yang selama ini dua kali sebulan sekarang ditambah menjadi lima kali sebulan.

"Antusias masyarakat akan pasar modal ternyata makin meningkat menjelang akhir semester pertama tahun ini. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, kondisi pasar modal saat ini lebih banyak dikuasai investor domestik. Sehingga kita tidak terlalu khawatir seperti tahun-tahun sebelumnya, karena tahun ini jumlah investor domestik lebih dominan dari pada investor asing," kata Wira.

Terkait dengan emiten, Wira mengatakan ada 567 perusahaan Tbk yang tercatat di BEI. Dari 567 emiten itu, empat diantaranya di Solo. Yakni, PT Sri Rejeki Isman (Sritex), PT Indo Acidatama, PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS Food), dan PT Sriwahana Adityakarta yang baru saja melepas 20 persen saham untuk masyarakat umum.
Bagi perusahaan, menurut dia, pencatatan di bursa efek tidak hanya untuk mencari tambahan modal murah dengan menjual saham ke publik, tapi juga untuk mendekatkan diri pada masyarakat dengan kepemilikan saham itu. Di samping itu juga untuk perbaikan manajemen yang baik serta mendapat insentif pajak.
"Kami berharap, di Soloraya ini makin banyak perusahaan yang go publik," tandasnya.


(Langgeng Widodo/CN40/SM Network)