• KANAL BERITA

Produk Letusan Merapi Adalah Material Baru

Foto: istimewa
Foto: istimewa

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta telah melakukan penelitian terhadap sampel abu hasil letusan Merapi tanggal 21 Mei 2018. Kajian analisa menyatakan, produk itu merupakan material baru yang berasal dari dalam gunung, bukan material lama yang berada di kawah atau permukaan.

Material itu tersusun atas komponen magmatik yang bersifat lebih asam dibandingkan produk erupsi tanggal 11 Mei 2018. "Letusan tanggal 21 Mei berbeda, karena peran unsur magmatiknya lebih dominan," kata Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, dalam konferensi pers, Jumat (25/5).

Kesimpulan material itu bersifat lama atau baru, salah satunya berdasarkan parameter jenis komponen utama yakni silika, natrium (Na), dan kalsium (Ca). Di samping itu, komposisi juga dihitung dari hembusan gas. Material hidrotermal pada erupsi 11 Mei masih sekitar 41 peren, namun tanggal 21 Mei hanya tersisa 3,7 persen.

Ada pun parameter kandungan kristal tercatat meningkat dari 32 persen menjadi 94,7 persen. Namun untuk tingkat kedalaman pembentukan material, pihaknya belum dapat menyimpulkan. Sebab hal itu membutuhkan analisa lebih jauh, sedangkan penelitian saat ini masih masih dalam tahapan mitigasi.

Hanik menambahkan, meski material yang dilontarkan adalah produk baru, sejauh ini belum terdeteksi adanya gejala deformasi mau pun kegempaan yang signifikan. Deformasi yang lemah itu mengindikasikan potensi erupsi Merapi mengarah ke efosif atau guguran kubah lava tanpa adanya tekanan gas yang membumbung tinggi. Kondisi ini berbeda dengan erupsi 2010 yang bersifat eksplosif.


(Amelia Hapsari/CN40/SM Network)