• KANAL BERITA

Sosial Media Jadi Sarana Terbesar Sebarkan Berita Hoax

Diskusi media dengan tema pilkada bebas SARA yang diselenggarakan oleh institute komunikasi nasional di Universitas Muhammadiyah Semarang, Kamis (24/5).
Diskusi media dengan tema pilkada bebas SARA yang diselenggarakan oleh institute komunikasi nasional di Universitas Muhammadiyah Semarang, Kamis (24/5).

SEMARANG, suaramerdeka.com - Perkembangan dunia digital di Indonesia mampu membuat perubahan baik positif mau pun negatif. Perkembangan digital ikut membawa sosial media menjadi sarana masyarakat untuk melakukan berbagai hal salah satunya dalam penyebaran berita hoax. 

Terlebih di tahun politik yang rawan akan berita hoax untuk menjatuhkan satu sama lain. Kombes Sulistyo PH, dari Satgas Nusantara Polri mengatakan, kontestansi pilkada serentak ini rawan munculnya berita hoax yang membawa arah agama dan suku seperti yang sudah terjadi di pilkada DKI Jakarta. 

"Banyak hoax karena ada faktor relasi agama politik dan keamanan," katanya, saat menjadi pembicara Diskusi Pilkada Anti Sara yang diselenggarakan Institute Komunikasi Nasional (IKN) di Universitas Muhammadiyah Semarang, Kamis (24/5). 

Menurutnya selain media sosial, aplikasi chating dan situs web juga banyak digunakan untuk menyebar berita hoax. Tulisan, gambar dan video paling banyak digunakan untuk membuat konten hoax.  

"Hoax paling banyak tentang sosial politik dan SARA dan posisi polisi ini untuk menjaga kehidupan moral dan etika untuk meredam tensi panas saat pilkada," ucapnya. 
 
Yuwanto, Kaprodi S3 DIS FISIP Undip menuturkan, pilkada seharusnya dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan politik yang masif.  Karena menyangkut banyak hal yang dipertaruhkan di sebuah daerah.

"Dalam orde lama isu SARA, tabu dibicarakan dan sekarang isu SARA sudah menjadi wacana bukan tabu. Dan pilkada ini merupanan tes case sehingga dibutuhkan kemampuan dan kemauan merawat ke-Indonesiaan," jelasnya. 

Setiawan Hendra Kelana, pemimpin redaksi suaramerdeka.com menambahkan, media online memang tidak bisa menyajikan informasi secepat media sosial, tetapi pengelola media online harus mengetahui bahwa tidak semua informasi di media sosial bisa diyakini kebenarannya. 

"Dengan banyaknya media online, ditambah masifnya media sosial ini, menjadi hal yang harus dicermati dan waspadai," tuturnya. 

Lebih lanjut Setiawan mengatakan, jika media masih seperti tahun 2014, dikhawatirkan konflik isu SARA akan digoreng, namun ia berkeyakinan kondisi di Jawa Tengah mengenai isu SARA dalam pilkada, masih bisa ditekan dengan baik. 


(Cun Cahya/CN40/SM Network)