• KANAL BERITA

Shinta Nuriyah Bangga, Wonosobo Selalu Damai

Shinta Nuriyah Wahid memberikan siraman rohani saat melakukan buka bersama di Masjid Al Mansur Kauman Wonosobo, Rabu (23/5) petang. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Shinta Nuriyah Wahid memberikan siraman rohani saat melakukan buka bersama di Masjid Al Mansur Kauman Wonosobo, Rabu (23/5) petang. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Istri almarhum Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Wahid, mengaku bangga dengan warga Wonosobo yang sejak dahulu selalu damai. Hal itu menjadi simbol keberagaman sebagai warga negera yang baik. Terbukti dengan adanya agenda lintas kepercayaan di Wonosobo yang selalu sukses, termasuk buka maupun sahur bersama di momen Ramadan.

Hal itu disampaikan Shinta saat melakukan kunjungan di Masjid Al Mansur Kauman Wonosobo Rabu (23/5) petang. Kunjungan yang telah dilakukan ke-13 kalinya di Wonosobo itu sengaja dilakukan untuk melakukan buka dan sahur bersama warga kabupaten berslogan Asri ini. Kunjungan juga dilakukan untuk menyalami para pemeluk agama dan kepercayaan di Wonosobo. 

Shinta juga mengingatkan adanya perintah untuk saling mengenal dan rukun di Al Quran dan menyayangkan terjadinya fitnah dan kebohongan akhir-akhir ini. Saat Ramadan, Shinta memang selalu menggelar sahur bersama di masjid-masjid yang ada di pelosok Wonosobo dan menyapa masyarakat dari berbagai elemen maupun latar belakang agama dan kepercayaan. 

"Kali ini ada semua perwakilan umat beragama di Wonosobo, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan Ahmadiyah. Semua ikut meramaikan buka bersama di Masjid Al Mansur ini. Pekerjaan saya setiap bulan puasa, mengajak orang sahur. Mengapa, karena yang mengadakan buka bersama sudah banyak sekali. Saya sudah berkeliling ke banyak daerah se-Indonesia," tutur dia. 

Dia ingin bertemu masyarakat ditemani bupati, gubernur, hingga suster dan monsinyour di banyak tempat. Dia juga pernah di kolong jembatan hingga di pasar bersama buruh dan mbok-mbok bakul untuk menyapa dan menyalami warga. "Kemajemukan dan keberagaman masyarakat Indonesia merupakan ciri khasnya sejak lama. Bahkan latar belakang kesukuan hingga agama menjadi dasar dari persatuan itu sendiri," terangnya.

Menurut dia, Indonesia mempunya tujuh agama yang diakui, termasuk konghuchu dan baha’i. Indonesia juga memiliki banyak sekali suku, karena kita memang tinggal di Indonesia, maka kita saudara. "Apa yang terjadi selama ini, banyak dari kita yang bertengkar ialah hal yang seharusnya membuat kita malu karena kita saudara,” ungkap dia.

Koordinator Gusdurian Wonosobo, Ahmad Baehaki menyebutkan, sambutan masyarakat dan perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sangat baik. Bahkan, semua perwakilan umat beragama hadir. Dukungan dari Kodim dan Polres juga sangat besar. "Semoga adanya agenda ini menjadi salah satu hal yang membuat Wonosobo istimewa dan sebagai kebanggaan bisa hidup rukun di sini," ujarnya.


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)