• KANAL BERITA

Empat Kecamatan di Kulonprogo Rawan Kekeringan

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

KULONPROGO, suaramerdeka.com – Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kulonprogo sudah mulai menyiapkan upaya penanganan kekeringan. Empat wilayah kecamatan di Perbukitan Menoreh rawan terjadi kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Gusdi Hartono mengungkapkan, wilayah Kulonprogo yang rawan terjadi kekeringan saat musim kemarau yakni di Perbukitan Menoreh. Meliputi empat kecamatan yaitu Kalibawang, Samigaluh, Kokap, dan Girimulyo.

“Keempat wilayah itu pasti langganan kekeringan. Hanya saja mungkin secara data kuantitas akan berkurang karena berkembangnya infrastruktur penyediaan air bersih (yang dibangun),” kata Gusdi, kemarin.

Berdasarkan informasi dari Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP), lanjut Gusdi, pembangunan infrastruktur air bersih terus berkembang. Oleh karena itu diharapkan kejadian kekeringan akan mengalami tren penurunan. Meski demikian, BPBD Kulonprogo juga sudah melakukan koordinasi untuk antisipasi dan penanganan kekeringan memasuki musim kemarau ini.

“Kami juga sudah mempersiapkan beberapa koordinasi, baik koordinasi dengan provinsi (Pemda DIY) maupun di kabupaten (Pemda Kulonprogo) sendiri seandainya ada kekeringan dan sebagainya. Tapi sampai detik ini memang belum ada surat masuk untuk permohonan kekeringan (bantuan droping air),” jelasnya.

Gusdi menambahkan, BPBD Kulonprogo memberikan kebijakan bahwa pelaksanaan bantuan droping air bisa dilakukan oleh siapa saja baik sektoral seperti TNI, Polri, LSM, maupun dari komponen masyarakat. Hanya saja, selaku koordinator, BPBD meminta agar diberikan laporan. Hal itu diperlukan untuk mensinkronkan dengan data BPBD terkait program ke depan dalam penanganan kekeringan.

“Karena kalau tidak (memberikan laporan), data kami timpang, misalnya sektoral pada melakukan (droping air) sendiri-sendiri dan tidak lapor, pengertian saya tahun ini kekeringannya nol padahal mereka pada melaksanakan sendiri-sendiri itu kan berarti program-program kami tidak jalan,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Tagana Kulonprogo, Miskijo mengatakan, pihaknya sudah mulai melakukan asesmen wilayah-wilayah yang sudah terdampak dan kemungkinan terdampak kekeringan. Sementara ini sudah ada dua permohonan droping air bersih yaitu dari wilayah Desa Purwosari Kecamatan Girimulyo dan Desa Kembang Kecamatan Nangulan walaupun masih ditampung di posko.

“Kami sudah berusaha mencari CSR untuk membantu kelancaran giat kami. Armada kami juga sudah siap, kami tinggal menunggu kordinasi dari BPBD Kulonprogo. Kami memiliki satu armada, kalau darurat kami bisa pinjam di provinsi,” tuturnya.

Miskijo menambahkan, dalam penyaluran bantuan droping air bersih tidak ada batasan kuota. Selama masyarakat membutuhkan dan pihaknya bisa mencari sumber dana dari dinas dan juga CSR maka Tagana siap mengabdi sampai kebutuhan masyarakat tercukupi.

“Seperti tahun lalu dengan APBD DIY (yang dialokasikan) 200 tangki, realita kami bisa (mendistribusikan) 350 tangki,” imbuhnya.


(Panuju Triangga/CN39/SM Network)