• KANAL BERITA

Pemahaman Keagamaan Moderat, Cegah Kaum Muda Jadi Teroris

Asrorun Niam saat menjadi pembicara pada "Pemuda Mengkaji". (suaramerdeka.com/Hartono Harimurti)
Asrorun Niam saat menjadi pembicara pada "Pemuda Mengkaji". (suaramerdeka.com/Hartono Harimurti)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga, Asrorun Niam Sholeh, mengingatkan pentingnya penanaman paham keagamaan yang moderat. Langkah ini perlu dilakukan menyikapi munculnya aksi terorisme yang terjadi di sejumlah tempat belakangan ini.

"Ini harus terus diperkuat. Salah satu caranya dengan memperkuat pemahaman keagamaan moderat di kalangan pemuda dan mahasiswa. Mahasiswa perlu dibidik mengingat mereka yang mudah terkena paham radikal cukup banyak akibat kondisi yang labil. Ditambah lagi bila pemahaman keagamaan dan bela negara mereka rendah," kata Asrorun Ni'am, saat menjadi narasumber pada diskusi dengan tema Saatnya Pemuda Bangkit Melawan Radikalisme di Media Center Kemenpora, Jakarta, Rabu sore.

Menurut  Ni'am, berdasarkan data yang dihimpun pada 2016 dari BNPT, pelaku tindak terorisme 16,4 persen di antaranya berlatar belakang mahasiswa. "Ini usia kita banget dan jadi PR kita bersama. Pendekatan penanganan kasus terorisme terhadap usia muda tidak cukup dengan pendekatan punitif, penghukuman atau pembalasan, tapi bagaimana langkah restoratif dan pemulihan, penyadaran dilakukan," tegas dia, di hadapan peserta diskusi yang berasal dari IPNU, IPPNU, HMI, PMII, PII, IPM, IMM, KOPRI PMII, BKPRMI, PMKRI dan GMKI.

Niam melanjutkan, mahasiswa rentan terkena paham radikal karena kondisinya labil yang sedang mencari jati diri. Mereka yang haus masalah keagamaan, rentan salah cari teman dan guru untuk menimba ilmu. Jika mendapat guru yang salah selama membimbingnya, itu bisa berbahaya lantaran dari situlah doktrin radikalisme bersemai.

"Jadi perlu penguatan pemahaman keagamaan yang moderat di kalangan mereka," imbuh pria asal Nganjuk tersebut.

Untuk itulah, pihaknya akan konsern untuk menanggulangi agar paham radikal tak bersemai di kalangan pemuda Indonesia. Hal itu bisa dilakukan dengan cara pendidikan bela negara melalui apel kebangsaan dan kemah pemuda. "Wawasan kebangsaan dan pendidikan bela negara perlu dikuatkan di kalangan pemuda seiring semakin longgarnya semangat kebangsaan akibat perubahan sosial yang begitu cepat. Ini menjawab dua masalah sekaligus, radikalisme dan liberalisme di kalangan muda. Akan tetapi, polanya harus dikemas dengan kekinian, sesuai dengan tren generasi millenial," jelas dosen Pascasarjana UIN Jakarta ini.


(Hartono Harimurti/CN40/SM Network)