• KANAL BERITA

BPBD Siapkan Tiga Selter dan 20 Dukuh Paseduluran

Sekda Jaka Sawaldi dan Asisten Tata Pemerintahan Ronny Roekmito memimpin Rakor Lintas Sektoral membahas kondisi Merapi, Rabu (23/5).(suaramerdeka.com/Merawati Sunantri)
Sekda Jaka Sawaldi dan Asisten Tata Pemerintahan Ronny Roekmito memimpin Rakor Lintas Sektoral membahas kondisi Merapi, Rabu (23/5).(suaramerdeka.com/Merawati Sunantri)

KLATEN, suaramerdeka.com - Pemkab Klaten menyiapkan barak pengungsian di tiga lokasi, yakni pertama selter Desa Kebondalem Lor, Prambanan untuk warga Desa Balerante, kedua selter Menden, Kebonarum untuk warga Sidorejo dan ketiga selter di Desa Demakijo, Karangnongko untuk warga Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang.

‘’Bila jumlah pengungsi besar, tiga selter itu tidak akan cukup menampung seluruh warga. Pemkab Klaten menyiapkan 20 desa paseduluran yang bisa menjadi tujuan mengungsi bagi warga lereng Merapi, terutama desa-desa di KRB III,’’ tegas kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten, Bambang Giyanto.

Desa Paseduluran merupakan desa-desa di lokasi yang dianggap aman dari jangkauan awan panas Merapi. Yakni di Kecamatan Prambanan, Kebonarum, Karangnongko dan Kecamatan Jogonalan. Pembentukannya untuk mendukung konsep evakuasi mandiri.

Menyikapi kondisi terkini Gunung Merapi, Bambang mengatakan, BPBD menggelar rapat koordinasi lintas sektoral membahas peningkatan status Merapi dari Normal menjadi Waspada di ruang B1 Setda Klaten, Rabu (23/5). Lokasi pengungsian menjadi salah satu materi penting dalam pembahasan.

Masa Istirahat Merapi

‘’BPPTKG Yogyakarta memberikan informasi bahwa masa istirahat letusan magmatik Merapi sudah mendekati masa istirahat tahun 1872 selama 11 tahun dan tahun 1930 selama sembilan tahun. Erupsi terakhir terjadi akhir 2010. Maka masyarakat dan pemangku kebijakan perlu bersiap,’’ kata Bambang Giyanto.

Dia menambahkan, letusan freatik Gunung Merapi yang pertama dengan ketinggian asap mencapai 5.500 meter terjadi pada Jumat (11/5) pukul 07.40 WIB. Kemudian meletus beberapa kali pada Senin (21/5), sehingga BPPTKG Yogyakarta meningkatkan status Gunung Merapi dari Normal menjadi Waspada, Senin (21/5) pukul 23.00 WIB.

Rakor dihadiri Sekda Klaten Jaka Sawaldi, Asisten Tata Pemerintahan Ronny Roekmito, Kepala Satpol PP Klaten Sugeng Haryanto, Kepala Kantor Kesbangpol Sigit Gatot Budiyanto, dan Kabag Humas Wahyudi Martono.

Tampak hadir pula Kepala Markas PMI Sabar Sumarta, Komandan SAR Klaten Pandu Wirabangsa, perwakilan RS di Klaten, relawan dan perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Klaten.

Dalam kesempatan itu, Nur Tjahjono Suharto dari BPBD Klaten menegaskan penanganan pengungsi akan dibagi dalam 10 sektor, yakni sektor manajemen dan koordinasi, sektor keamanan, sektor kesehatan, sektor evakuasi dan transportasi, sektor barak dan pengungsian, sektor komunikasi informasi dan dokumentasi, sektor pendidikan, sektor logistik, sektor dapur umum dan sektor peternakan.

‘’Bila terjadi erupsi Merapi, maka semua sektor sektor sudah siap. Semua sekda sudah akan mulai bergerak jika status Gunung Merapi sudah dinyatakan meningkat ke level III atau Siaga,’’ kata Nur Tjahjono Suharto.


(Merawati Sunantri/CN40/SM Network)