• KANAL BERITA

Gelombang Tinggi, Bendera Hitam Dikibarkan

BENDERA HITAM: Petugas syahbandar, TNI AL dan Polisi bersama-sama memasang bendera hitam di muara Tanjungsari, Pemalang. (suaramerdeka.com/Ali Basarah)
BENDERA HITAM: Petugas syahbandar, TNI AL dan Polisi bersama-sama memasang bendera hitam di muara Tanjungsari, Pemalang. (suaramerdeka.com/Ali Basarah)

PEMALANG, suaramerdeka.com – Memasuki akhir bulan Mei ini, tinggi gelombang laut Jawa di utara Kabupaten Pemalang, mencapai tiga meter disertai angin kencang. Sebagai peringatan dan tanda bahaya, pihak Syahbandar Pemalang mengibarkan bendera hitam. Nelayan diminta hati-hati dan diimbau tidak melaut untuk sementara waktu.

Kapolres Pemalang, AKBP Agus Setyawan, melalui Kasatpolair AKP Sunardi mengatakan, tinggi gelombang pada Rabu (23/5) kemarin mencapai 2,5-3 meter. "Pada situasi normal gelombang hanya 1 meter, beberapa hari ini mencapai 2,5-3 meter dan arus airnya kencang," kata Sunardi.

Jajarannya mengimbau nelayan untuk memperhatikan keselamatan, kalau perlu jangan melaut lantaran berbahaya. Sementara situasi di pangkalan pendaratan ikan (PPI) Tanjungsari juga lengang lantaran banyak nelayan yang memilih tidak melaut.

"Lelang ikan hari ini juga lengang karena banyak nelayan yang libur," ujarnya.

Di TPI Tanjungsari sejumlah kios ikan tutup, hanya satu dua pedagang yang menggelar dagangan itupun hanya menjual ikan kecil-kecil

Sementara itu untuk menjaga keselamatan pelayaran dalam menyikapi gelombang tinggi ini pihak Syahbandar Pemalang memasang bendara hitam di muara Tanjungsari.

Petugas syahbandar Suparno mengatakan bendera hitam dipasang untuk mengingatkan nelayan bahwa cuaca sedang tidak baik untuk melaut. "Kami memasang bendera hitam karena gelombang yang tinggi sesuai surat edaran dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jateng," kata Suparno.

Nelayan Nekat

Dari pantauan di lapangan, sejumlah nelayan memilih beraktivitas memperbaiki jaring, mengecat perahu, memperbaiki mesin kapal. Lainnya ada yang bercengkerama di tepi pelabuhan Tanjungsari.

Salah satu nelayan, Rasono mengatakan, dia dan teman-temannya tidak melaut sudah beberapa hari ini lantaran cuaca yang tidak baik. "Sudah masuk angin timuran, jadi kami memilih menganggur," kata dia.

Menurutnya ada beberapa temannya nekat melaut dengan alasan nafkah, namun mereka tetap saja pulang denga hasil yang kurang bagus. Dan sebagian nelayan malah merugi lantaran ikan yang didapat ketika dijual hasilnya tidak sebanding dengan bahan bakar yang dikeluarkan untuk mengajalankan perahu.

Beberapa perahu nelayan yang berada di depan muara Tanjungsari. Di muara ini polisi meminta warga untuk tidak masuk ke bangunan pemecah gelombang baik untuk memancing maupun wisata lantaran berbahaya.


(Ali Basarah/CN40/SM Network)